SUPLEMEN COOL BULAN AGUSTUS 2017 #2

09 Aug, 2017

MERDEKA DARI DOSA BUKAN MERDEKA UNTUK BERBUAT DOSA

17 Agustus 2017, Bangsa Indonesia merayakan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 72. Artinya, sudah 72 tahun kita bis menghirup dan hidup dalam era kemerdekaan. Merdeka atas apa? Merdeka atas penjajahan, merdeka atas perbudakan. Bagaimana dengan hidup kita?
Rasul Paulus menuliskan kepada jemaat di Galatia dan kepada kita semua : "Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih." (Galatia 5:13). Kata "merdeka" yang digunakan oleh Rasul Paulus dalam ayat ini adalah eleutheria yang artinya Kebebasan untuk melakukan atau menghilangkan hal-hal yang tidak memiliki hubungan dengan keselamatan.
Kemerdekaan seperti ini menuntut kedewasaan dan tanggung jawab dari masing-masing pribadi. Itu sebabnya Rasul Paulus menyampaikan : "...Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa..."

Berkaitan dengan kemerdekaan ini, mari kita baca dan renungkan Roma 6:1-23.

1. Roma 6:1-6
"Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?...Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa."

KASIH KARUNIA BUKANLAH LEGITIMASI BAGI KITA UNTUK BERBUAT DOSA!
Jangan kita terjebak dengan pengajaran sesat yang mengatakan bahwa kasih karunia yang telah kita terima cukup untuk menyelamatkan kita, sebab dengan kasih karunia tersebut, BAPA tidak lagi melihat apa yang kita lakukan, melainkan melihat Kristus dalam hidup kita. Pengajaran seperti ini membuka celah bagi orang percaya untuk berbuat dosa tanpa ada rasa takut akan TUHAN. Sebab dalam pikiran mereka, sejauh saya telah menerima Kristus, maka hal-hal yang lainnya tidak diperhitungkan lagi. Sangat berbahaya!
Rasul Paulus dengan tegas menyatakan, bahwa kasih karunia yang TUHAN YESUS berikan buka lah sebuah legitimasi untuk kita bertekun dalam dosa. Melainkan justru sebagai alasan yang kuat bagi kita untuk tidak lagi menghambakan diri kepada dosa.

2. Roma 6:13-14
"Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia."

SYARAT UNTUK TIDAK DIKUASI DOSA LAGI ADALAH TINDAKAN AKTIF BUKAN PASIF!
Bagi segelintir orang yang suka mengutip ayat tanpa memperhatikan konteks ayat dan perikopnya, ayat 14 ini menjadi suatu landasan, suatu dasar pegangan bahwa karena kita telah berada dibawah kasih karunia maka kita tidak akan dikuasai lagi oleh dosa. Kita tidak mungkin lagi jatuh dalam dosa atau melakukan perbuatan yang dianggap dosa, untuk itu kita tidak perlu lagi minta ampun atas dosa kita. Tunggu dulu... Ayat 14 ini dapat kita alami, atau terjadi dalam hidup kita kalau kita melakukan ayat ke 13, yakni "serahkan diri kepada Allah..." dan "serahkan anggota-anggota tubuhmu untuk menjadi senjata-senjata kebenaran".
Kata "serahkan" merupakan kata kerja aktif. Artinya kita harus mengerjakannya. Ini bukan sekedar status, bukan sekedaf pasif, melainkan tindakan yang harua kita lakukan. Kalau kita melakukan ayat 13 ini setelah kita menerima kasih karunia keselamatan, kita tidak akan dikuasi lagi oleh dosa.

3. Roma 6:18-19
"Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.
Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan."
PENGUDUSAN KITA MEMERLUKAN TINDAKAN PERTOBATAN!

Tindakan pertobatan apa yang dimaksud? Tindakan berbalik 180°. Sebelum menjadi orang percaya kita menyerahkan anggota-anggota tubuh menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan. Sekarang, setelah menjadi orang percaya, kita harus menyerahkan anggota-anggota tubuh kita menjadi hamba kebenaran. Tanpa ini kita tidak dapat mengalami pengudusan. Jadi pengudusan bukanlah proses otomatis bersamaan dengan pembenaran. Secara status menjadi orang kudus, iya! Tetapi pengudusan yang progresif, artinya cara hidup kita sebagai orang Kristen yang sesuai dengan status baru kita sebagai orang kudus haruslah dimulai dengan menyerahkan anggota tubuh kita menjadi hamba kebenaran.