PERSOALAN HIDUP DAN BAGAIMANA SEORANG PENYEMBAH MERESPONINYA

24 Apr, 2017

"Ketika Daud serta orang-orangnya sampai ke Ziklag pada hari yang ketiga, orang Amalek telah menyerbu Tanah Negeb dan Ziklag; Ziklag telah dikalahkan oleh mereka dan dibakar habis. Perempuan-perempuan dan semua orang yang ada di sana, tua dan muda, telah ditawan mereka, dengan tidak membunuh seorang pun; mereka menggiring sekaliannya, kemudian meneruskan perjalanannya. Ketika Daud dan orang-orangnya sampai ke kota itu, tampaklah kota itu terbakar habis, dan isteri mereka serta anak mereka yang laki-laki dan perempuan telah ditawan. Lalu menangislah Daud dan rakyat yang bersama-sama dengan dia itu dengan nyaring, sampai mereka tidak kuat lagi menangis. Juga kedua isteri Daud ditawan, yakni Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel itu. Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan..."

(1 Samuel 30:1-6)

Persoalan datang dan menghampiri siapa saja tanpa pandang status sosial, jabatan, kekayaan dan kehebatan seseorang. Dia datang tanpa permisi, tidak memperhitungkan situasi dan kondisi kita. Pikiran kita sebagai manusia tentu inginnya kalau boleh, persoalan datang tidak bersamaan, tapi datang satu persatu artinya selesai yang satu baru yang lain datang, bahkan kalau bisa hidup ini bebas dari persoalan. Namun, tentunya kenyataannya tidak seperti itu. Sampai ada sebuah ungkapan yang mengatakan : "sudah jatuh tertimpa tangga" yang menggambarkan sebuah situasi dimana persoalan yang satu belum selesai, persoalan lain sudah datang, bahkan yang lebih berat.

Lihat apa yang dialami Daud. Dalam pelariannya dari Saul, bergabung dengan raja Akhis bin Moakh, raja kota Gat yang memberikan Ziklag kepada Daud dan pengikutnya. Saat Daud kembali ke Ziklag, yang dia dapati adalah Ziklag telah dikalahkan dan dibakar habis oleh orang Amalek, perempuan-perempuan dan semua orang yang ada disana ditawan, termasuk kedua isteri Daud. Ternyata tidak hanya sampai disitu, sebab rakyat yang telah pedih hati karena anak laki-laki dan perempuannya ditawan hendak melempari Daud dengan batu.

Persoalan yang berat dan bertubi-tubi membawa Daud dalam sebuah situasi yang sulit. Sebagai seorang penyembah bagaimana Daud merespon terhadap situasi yang demikian? Ayat 6 kalimat yang terakhir mengatakan : "Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya." Dalam situasi yang sulit dengan banyaknya persoalan, sangat mudah bagi kita untuk menjadi lemah dan tawar hati, untuk selanjutnya meninggalkan TUHAN. Itulah sebabnya Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN. Dalam terjemahan Alkitab yang lain dikatakan "Daud dikuatkan lagi oleh TUHAN Allahnya" (BIS) dan "but David found strength in The LORD his God" (ISV). Bagian kita adalah menguatkan kepercayaan kepada TUHAN dan bagian TUHAN adalah memberikan kekuatan kepada kita ditengah persoalan yang kita hadapi.

Selanjutnya ayat 7 mengatakan Daud bertanya kepada TUHAN, apa yang harus dilakukan untuk keluar dari persoalan yang sedang dihadapi. Ingat, jangan salah dan sembarangan ambil keputusan. Keputusan yang cepat diambil belum tentu keputusan yang tepat. Keputusan yang salah ditengah himpitan persoalan bukan memberikan jalan keluar, justru menambah persoalan hidup kita. Itu sebabnya, BERTANYA dan MINTA PETUNJUK TUHAN adalah langkah terbaik!

Mazmur 18:7 "Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya."

Langkah selanjutnya adalah TAAT mengikuti petunjuk TUHAN (ayat 8-10). Ini adalah satu hal yang menjadi penentu apakah kita keluar dari persoalan sebagai pemenang atau justru mengalami kekalahan, yakni ketaatan kita akan perintah TUHAN! Tanpa banyak perhitungan Daud melaksanakan persis seperti yang TUHAN perintahkan. Dan hasilnya adalah kemenangan yang luar biasa (ayat 17-20). Ingin keluar dari persoalan sebagai pemenang? Kuatkan kepercayaan kita kepada TUHAN, berdoa kepada TUHAN dan taat melakukan apa yang TUHAN perintahkan. Tiga hal ini adalah bagaimana seorang penyembah seperti Daud merespon terhadap persoalan kehidupan. Amin!