ANAK MUDA HARUS MEMILIKI SUKACITA

21 Sep, 2020

Bahan Bacaan
Filipi 4 : 4,, "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!"
Penjelasan Materi
Youths, di Minggu ketiga ini, kita akan belajar mengenai sukacita. Dalam masa pandemi Covid ini, ada banyak
orang kehilangan sukacita, karena itu memang rencana Iblis untuk menghancurkan kita, menghilangkan
damai sejahtra kita, mengacaukan fokus kita. Jika kita bersukacita dimasa-masa senang, mungkin tidak sulit.
Misalnya saja, ketika kita memiliki banyak uang, ketika kita sedang dalam keadaan sehat, ketika kita sedang
naik jabatan, ketika hubungan kita dengan orangtua, saudara, teman atau pasangan sedang tidak ada
masalah, ketika kita sedang jatuh cinta dan hal menyenangkan lainnya, pasti kita sangat bersukacita.
Tapi tak dipungkiri bahwa tidaklah mudah bersukacita jika kita dalam keadaan sulit. Misalnya saja, ketika
kita tidak memiliki uang, sedang sakit fisik dan mental, sedang di phk, sedang memiliki masalah dengan
anggota keluarga, teman, atasan atau dengan pasangan kita dan kemalangan lainnya yang membut kita tidak
nyaman, pasti kita cenderung bersungut-sungut dan murung. Tetapi Youths, seperti yang Firman Tuhan
katakan dalam bahan bacaan kita hari ini, Tuhan menghendaki kita agar dapat bersukacita dalam segala
hal, termasuk dalam masa pandemi ini. Walau kita harus sekolah, kuliah dan bekerja dari rumah yang
mungkin membuat kita sangat bosan, dibatasi untuk bisa kumpul dengan kolega kita, tidak bisa lagi
travelling dengan bebas kemanapun kita mau dan alasan lain yang membuat kita tidak bisa melakukan apa
yang biasanya kita lakukan di keadaan normal sebelum pandemic.
Youths, kita tidak bisa menyalahkan keadaan atas ketidakbahagiaan kita, kita bisa tetap memilih bersukacita
walau keadaan tidak seperti yang kita inginkan. Tidak ada satupun kita yang tahu kondisi ini akan terjadi,
seluruh dunia terdampak akibat Covid 19 ini. Jadi jangan jadikan keadaan ini alasan kita untuk mewajarkan
rasa bersungut-sungut kita.
Youths, semua berasal dari sudut pandang kita, bagaimana cara kita melihat, akan mempengaruhi pikiran
dan perbuatan kita ke depannya. Jika kita melihat pandemi ini sebagai sebuah hal yang menghalangi,
menyulitkan kehidupan kita, maka kita akan berpikir negatif terus terhadap keadaan selanjutnya yang terjadi
pada kita, dan tindakan kita jadi salah dan tidak berdampak baik. Tapi kalau kita bisa melihat peluang,
kesempatan, dan moment untuk kita meng-upgrade diri kita, menyesuaikan diri dan tetap melakukan apa
yang bisa kita lakukan walau dalam keterbatasan ruang dan waktu, maka pikiran kita akan positif terhadap
keadaan selanjutnya yang akan terjadi pada kita, dan tindakan kita pun akan tepat dan di track yang benar.
Dengan demikian sukacita pun akan kita rasakan.
Bahan Diskusi: Faktor internal dan ekternal apa saja yang membuat kita dapat kehilangan sukacita?