BERJAGA-JAGA MENANTIKAN KEDATANGAN TUHAN

26 Oct, 2020

Arti dari berjaga-jaga adalah kita harus bersungguh-sungguh mempersiapkan hidup kita.
Berjaga-jaga juga berarti waspada terhadap segala kemungkinan. Berjaga-jaga juga berarti bersiap-siap; bersiap sedia; berawas-awas; berhati-hati. Mengapa kita harus selalu berjaga-jaga? Karena hari-hari yang kita jalani ini penuh kejutan, perubahan, percepatan atau hal-hal tak terduga yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu. Tak ada seorang pun tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, karena itu "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu." (Amsal 27 : 1).

Saudara, kita tidak tahu kapan hari dan waktunya Tuhan Yesus datang. Kita hanya tahu tanda-tanda zamannya.
Dalam Matius 24 : 42 dikatakan;
" Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. "
Kita harus berjaga-jaga! Apa yang kita tangkap ketika Tuhan berkata demikian?

Dalam Injil Matius 25 : 10 - 13 dikatakan;
Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

Kapan pun Yesus datang, sebagai anak - anak Tuhan kita harus siap. Firman Tuhan di atas bercerita mengenai perjamuan pernikahan. Persiapan pernikahan tidaklah sesederhana kalau kita yang menjadi tamunya. Segala sesuatunya harus dipersiapkan dengan baik, khususnya pengantin wanitanya bagaimana ia mempersiapkan dirinya, mulai dari rambut, make up, dan bermacam-macam lainnya. Demikian pula untuk kita menjadi mempelai Kristus, kita harus mempersiapkan seluruh keberadaan hidup kita dengan sebaik - baiknya.

Dalam 1 Tesalonika 5 : 23 dikatakan;
Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.

Setiap anak-anak Tuhan harus mempersiapkan hidupnya dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus. Ia harus mempersiapkan roh, jiwa dan tubuhnya. Kadang kita hanya memperhatikan rohani kita, tapi jiwa kita (pikiran, perasaan, kehendak), kita abaikan. Kita juga kadang sudah tidak lagi jaga makan, bahkan cenderung untuk makan makanan sembarangan. Jelas dikatakan dalam Firman Tuhan, pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita, setiap anak Tuhan harus sungguh-sungguh hidup tanpa cacat cela baik roh, jiwa, dan tubuhnya. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita sungguh-sungguh membaca Alkitab, jika kita tetap dan terus makan secara sembarangan dan kedagingan kita diumbar.
Tuhan katakan, siapkan dirimu tanpa cacat cela!

Kalau kita lihat dalam kisah 5 gadis yang bijaksana dan 5 gadis yang bodoh dalam Matius 25 : 5, di sana dikatakan; tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.
Kata " Mengantuklah " dalam bahasa Inggris digunakan kata
Slumbered. Slumbered adalah kondisi sangat mengantuk tapi masih berusaha bertahan untuk terbangun. Di jalan tol, banyak kecelakaan seringkali terjadi dikarenakan mengantuk, itulah slumbered.

Gadis-gadis yang bodoh itu mengantuk. Mereka ada " di pinggir jurang " karena mereka mengantuk dan tidak sadar. Itulah gambaran dari gaya hidup yang sembarangan, pergaulan bebas, tidak memilih pergaulan yang baik. Mereka tidak sadar ada di pinggir jurang. Mereka terus mendengarkan ajakan teman-temannya, dan satu saat, tidak sadar tahu-tahu sudah jatuh. Hal ini banyak terjadi dengan anak-anak Tuhan yang hari-hari ini suka bermain-main dengan dosa.

Ini adalah sebuah peringatan, mari jangan kita mengantuk!
Mari kita berjaga - jaga ! Bersungguh-sungguh mempersiapkan hidup kita !

Ada beberapa faktor mengapa orang tidak berjaga-jaga:

1.
Terlalu percaya diri berlebihan
Rasa percaya diri yang berlebihan dapat membuat orang merasa dirinya cukup kuat sehingga dalam segala hal mengandalkan kekuatan sendiri. Orang yang demikian sulit sekali menerima nasihat dan teguran orang lain. Alkitab memperingatkan: "...janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri... Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak,"
(Amsal 3:5, 7).

Rasul Paulus juga memperingatkan, "...siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12); "Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri;" (Galatia 6:4).

2.
Kurangnya pengenalan akan Tuhan dan Firman-Nya.

" Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu. " (Hosea 4:6).

Seseorang yang tidak memiliki pengenalan yang benar tentang Tuhan (pribadi-Nya, kuasa-Nya, kasih-Nya, kehendak-Nya dan sebagainya) akan cenderung mengisi hari-harinya dengan perbuatan-perbuatan yang sia-sia. Ia lupa bahwa setiap tindakan ada konsekuensinya.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, apakah kita mewaspadai kemungkinan adanya hal-hal duniawi yang mulai menguasai kita? Sudahkah kita mendeteksi apakah ada tanda-tanda sikap mengandalkan diri sendiri atau kekerasan hati yang akan menjauhkan iman kita dari Allah?

Kita harus menyadari bahwa dunia ini memang penuh dengan godaan, itu sebabnya kita perlu terus berjaga-jaga secara konsisten dan tidak lengah menjelang kedatangan-Nya kembali. (AH)