DOA ADALAH JAWABAN, BUKAN PELARIAN

21 Sep, 2020

Situasi yang sulit dan menjepit adalah sebuah situasi yang umum dialami dalam kehidupan, termasuk dalam kehidupan orang percaya. Situasi seperti ini bukan hanya ‘menyerang' secara psikis dengan mengganggu kondisi mental (kejiwaan) akibat banyak pikiran, depresi, merenung, melamun dan berpikir keras mencari jalan keluar dari situasi tersebut, tetapi juga ‘menyerang' secara fisik akibat kurang tidur, tidak enak makan dan banyaknya pikiran yang menekan.
Kita sekarang sedang menghadapi sebuah situasi yang sulit dan menjepit, bukan hanya kita yang di Indonesia, melainkan orang-orang dari segala bangsa-bangsa di dunia. Sektor ekonomi, sosial, budaya, medis dan kesehatan semua terdampak. Dalam situasi yang seperti ini semua orang berusaha mencari jalan keluar, masing-masing berusaha keras agar bisa survive dari situasi ini. Jika kita mau jujur dengan diri sendiri, tidak ada pengalaman hidup sehebat apapun yang kita miliki yang dapat kita terapkan untuk keluar dari keadaan yang menekan, sebab ini adalah situasi yang belum pernah dihadapi oleh semua orang yang hidup pada abad sekarang.
Pandemi Covid-19 telah membawa banyak orang kembali tersadar, ada Pribadi yang Mahadahsyat, yang kuasa-Nya jauh melampaui manusia atau apapun di bumi ini, Pribadi itu adalah TUHAN, Allah Tritunggal, yang menyatakan diri-Nya melalui Pribadi Yesus yang menebus, menyelamatkan, memberikan teladan hidup yang mengikuti kehendak Allah. Juga melalui Pribadi Roh Kudus, Penghibur, Penolong yang menuntun kita pada seluruh kebenaran, yang mengajar kita hari lepas sehari. Permasalahannya sekarang adalah bagaimana kita bisa terkoneksi dengan TUHAN? Berdoa! Doa adalah jawabannya.
Tuhan Yesus mengajar kita bagaimana berdoa (Matius 6:5-13), dan Roh Kudus memampukan kita untuk berdoa, seperti yang tertulis dalam Roma 8:26, "Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan." Dengan demikian keterlibatan Roh Kudus dalam doa adalah sesuatu yang sangat esensi, itu sebabnya sudah selayaknya doa-doa dilakukan bukan berdasarkan rutinitas semata, bukan sebagai sebuah program, bukan sebagai sebuah kewajiban agamawi semata, bukan dengan mengandalkan indahnya rangkaian kata-kata, tata bahasa dan kemampuan verbal seseorang, tetapi lebih dari itu adalah ‘hati yang hancur', frasa hati yang hancur tentu adalah sebagai sebuah gambaran kontradiktif dari ‘hati yang keras', hati yang menolak jamahan Roh Kudus, hati yang susah untuk bertobat karena mempertahankan kebenaran diri sendiri. Hati yang hancur dalam berdoa membuat kita memiliki sensitifitas atau kepekaan dalam mengalami hadirat dan pengurapan TUHAN. Hadirat dan pengurapan TUHAN tentu tidak dapat dibatasi oleh apapun, namun kepekaan kita akan kedua hal penting tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi dan sikap hati kita.
Semenjak pandemi melanda, ada begitu banyak kegiatan-kegiatan ibadah dan doa kita jumpai melalui media sosial seperti Youtube, Facebook, Instagram, ZOOM, Google dan berbagai aplikasi lainnya, bahkan survei yang dilaksanakan oleh Bilangan Reasearch menyatakan hasil bahwa 83,8% gereja mengikuti gerakan doa bersama lintas gereja tanpa memandang denominasi dan aliran, sebuah hal yang mustahil dicapai di masa normal sebelum pandemi dimana rata-rata gereja memiliki kesibukan dan aktivitas doa masing-masing, ini adalah a blessing in disguise. Tentunya banyak orang percaya mengikuti kegerakan ini, namun satu yang perlu diingat, jangan jadikan doa sebagai pelarian dalam pengertian yang negatif, hanya sekedar mengisi waktu luang, tidak ada pekerjaan lain, sehingga kita berdoa dengan kurang sungguh-sungguh. Jika kita dalam keadaan yang terjepit oleh situasi yang sulit, tidak tahu harus berbuat apa, doa adalah jawaban, dengan berdoa kita sedang berlari ke arah menara yang kuat, Amsal 18:10, "Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat." Dengan berdoa kita membuka komunikasi dengan Raja diatas segala raja, kita memperoleh akses langsung kepada Dia yang peduli dan mengasihi kita.

"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:6-7)

"Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat." (1 Petrus 3:12).

Tetaplah berdoa, sebab doa adalah jawaban atas situasi dan kondisi apapun yang sedang kita hadapi. Tuhan Yesus memberkati. (DL)