MENGIKUT TUHAN DENGAN SEPENUH HATI

11 Jun, 2017

"Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api,
agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya,
agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak
untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat."
(Wahyu 3:14-18)

Jemaat Laodikia adalah salah satu dari ketujuh jemaat di Asia Kecil yang dikirimi ‘Surat Cinta' oleh Tuhan Yesus. Banyak teolog berpendapat bahwa surat kepada ketujuh jemaat yang tertulis dalam kitab Wahyu pasal 2-3 itu adalah gambaran dari keadaan gereja Tuhan dari zaman ke zaman. Jemaat Laodikia mengalami teguran keras dari Tuhan, karena mereka suam-suam kuku di hadapan Tuhan. Mereka sangat mengacuhkan Tuhan dalam kehidupannya, seolah-olah Tuhan hanya menjadi pelengkap saja karena mereka sudah memiliki semua yang dibutuhkan untuk hidup di dunia ini. Tuhan bahkan seperti ada diluar rumah sampai-sampai Ia harus mengetuk pintu untuk dibukakan dan masuk ke dalam rumah mereka. (Why 3:20)

Sejarah mencatat bahwa Laodikia adalah kota perdagangan yang sangat maju pada waktu itu. Orang-orang Kristen di sana sangat diberkati Tuhan dengan kemewahan dan kekayan materi yang berlimpah. Tapi justru dalam kondisi itulah mereka melupakan Tuhan. Memang mereka tidak meninggalkan Tuhan, tetapi Tuhan bukanlah yang nomor satu dalam hidupnya. Tuhan hanya menjadi pemenuhan salah satu unsur kehidupan yakni ‘Memiliki Agama'. Bukankah ini juga adalah keadaan gereja Tuhan di akhir zaman? Yang penting sudah percaya Yesus, yang penting sudah ke gereja, tetapi hidupnya sama sekali tidak menunjukkan identitas kekristenannya; itulah yang terjadi atas jemaat Laodikia. Mereka ber-Tuhan tetapi hidup diluar Tuhan, beragama Kristen tetapi tidak hidup dalam kebenaran Firman-Nya.
Ada 3 dosa yang mereka lakukan yang dicela oleh Tuhan, bahkan mereka akan dimuntahkan oleh-Nya kalau tidak bertobat. Ketiga dosa itu adalah:
1. Sombong karena merasa diri kaya.
2. Menjalani hidup yang mempermalukan Tuhan.
3. Hidup di luar tuntunan dan kehendak Tuhan.
Kita harus mengikut Tuhan dengan sungguh- sungguh, jangan suam-suam kuku. Dia harus menjadi yang nomor satu dan yang terutama dalam hidup kita. Agar tidak suam-suam kuku, maka ada 3 nasehat yang Tuhan berikan kepada kita, yaitu agar kita:
1. Menjadi Seperti Emas yang Telah Dimurnikan
Emas di dalam Alkitab adalah simbol Karakter Ilahi yang terbentuk dalam diri kita, melalui proses atau pemurnian yang mau kita lalui bersama Tuhan hingga lulus proses dan keluar seperti emas dimana karakter Kristus itu muncul. (Ayub 23:10)
Ketika karakter kita berubah, maka orang akan melihat pribadi Kristus di dalam kita.
Salah satu penyebab mengapa orang Kristen sulit untuk berubah dan menjadi semakin serupa dengan Kristus adalah kesombongan. Kesombongan membuat kita menjadi keras kepala, merasa diri paling benar, susah diajar, akhirnya menjadikan kita susah untuk berubah. Padahal untuk berubah kita perlu kerendahan hati. Rendah hati membuat kita selalu berharap dan bergantung kepada Tuhan. Seringkali kekayaan, kepintaran, ketenaran membuat kita menjadi angkuh dan menomor-sekiankan Tuhan. Itulah yang dilakukan jemaat Laodikia.

2. Mengenakan Pakaian Putih
"Lenan halus berwarna putih bersih" adalah perbuatan-perbuatan benar dari setiap orang kudus. Mengenakan "Pakaian Putih" artinya kita harus hidup di dalam kebenaran dan kekudusan. Kebenaran dan kekudusan itu harus dikerjakan sebagai buah dari keselamatan. Kita memang sudah dikuduskan oleh darah Anak Domba Allah di atas kayu salib, tetapi setelah itu Dia mau kita hidup di dalam kekudusan yang sudah diberikan-Nya itu. Hiduplah setiap saat dalam pertobatan maka itu akan membuat diri kita mengenakan jubah putih itu setiap waktu.

3. Memiliki Minyak yang Dari Tuhan
Minyak adalah lambang dari Roh Kudus; lambang dari kehadiran dan pengurapan Allah. Sebagai orang percaya kita harus haus dan lapar akan hadirat Tuhan/pengurapan Roh Kudus. Roh Kudus adalah pribadi Allah sendiri yang tinggal di tengah-tengah gereja-Nya, bahkan tinggal di dalam kita. Dialah yang menuntun hidup kita setiap saat supaya bisa berjalan dalam kehendak Bapa. Tanpa Roh Kudus kita tidak bisa berbuat apa-apa, dan artinya semua yang kita lakukan adalah dengan kekuatan sendiri. Tanpa Roh Kudus kita tetap masih bisa beraktivitas tetapi tidak bisa menghasilkan buah. Hanya Roh Kudus yang sanggup memampukan dan memyempurnakan kita. Tanpa Dia kita seperti orang buta yang meraba-raba tanpa arah dan tujuan. Sebab itu marilah kita selalu rindu untuk dipenuhi dan diurapi oleh Roh-Nya yang kudus supaya kita hidup berkenan di hadapan Tuhan. (MK)

"Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar;
sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!"
(Wahyu 3:19)

GBI Jalan Jend Gatot Subroto