ALLAH YANG MEMUKUL, ALLAH YANG MEMBALUT

13 Mar, 2016

Chuck Crisco, seorang pengajar hyper grace, dalam bukunya God is in a Good Mood (Tuhan dalam mood yang Baik) menulis: “Ia (Tuhan) telah menempatkan engkau dalam posisi yang memberi-Nya sukacita sangat besar karena Ia telah menempatkan engkau “di dalam Kristus”. Meskipun anak-anak-Nya melakukan kesalahan, tidak dewasa dan gagal, Allah Bapa ingin engkau percaya bahwa Ia bukanlah Allah yang suka berubah-rubah kondisi hatinya terhadap engkau. Ia tidak; marah untuk sesaat, lalu tidak ambil pusing dan kemudian gembira lagi ketika Anda bisa bangkit kembali. Tidak, ada sukacita yang tinggal tetap terhadap kita. Tuhan selalu ada dalam mood yang baik.”

Crisco kemudian menggambarkan Tuhan yang “ada dalam suasana pesta setiap waktu”. Meskipun ada hal yang benar dari pernyataan di atas, namun ada ‘racun’ yang terselip di antaranya. ‘Racun’ itu adalah sebuah konsep atau gambaran tentang Tuhan yang selalu senang, selalu baik, tidak akan terusik oleh apapun yang kita lakukan.

Pengajaran hyper grace jelas hanya berfokus pada Kasih Karunia Tuhan, tanpa memperhatikan aspek lain dari kebesaran-Nya yang luar biasa. Pada masa kini, pengajaran seperti itu sangat digemari oleh sekelompok orang yang sebelumnya mungkin memiliki pengertian yang salah tentang Tuhan, di mana Tuhan di pandang sebagai pribadi yang menakutkan, penuh dengan penghakiman dan hukuman. Hidup orang-orang seperti ini biasanya di warnai oleh perasaan tertekan yang timbul dari perbuatan dosa atau dari kegagalan dalam menuruti kehendak Tuhan.

Pengajaran yang hanya menekankan ‘Tuhan selalu dalam suasana hati yang baik’, menjadi semacam berita ‘gembira’ dan jalan kelepasan bagi orang-orang seperti ini.

Pengenalan akan Tuhan yang lebih menyeluruh akan membuka mata kita bahwa Ia adalah Tuhan yang penuh kasih, tetapi juga mendatangkan kegentaran yang sangat dahsyat. Di dalam Perjanjian Lama, terdapat suatu pola yang tetap; pada saat umat Tuhan meninggalkan Tuhan, Ia berusaha menjangkau umat-Nya, menantikan pertobatan mereka, menjanjikan kehidupan bila mereka mau berbalik kepada-Nya. Tetapi ketika mereka tetap melanggar perintah-perintah-Nya maka keadilan dan penghukuman Tuhan akan berlaku atas mereka.

Tidaklah mengherankan jika kisah mengenai murka Tuhan yang dahsyat dan kasih Allah yang besar di catat di dalam sebuah kitab yang sama yaitu Kitab Hosea.


“Sebab Aku ini seperti singa bagi Efraim, dan seperti singa muda bagi kaum Yehuda. Aku, Aku ini akan menerkam, lalu pergi, Aku akan membawa lari dan tidak ada yang melepaskan. Aku akan pergi pulang ketempat-Ku, sampai mereka mengaku bersalah dan mencari wajah-Ku. Dalam kesesakannya mereka akan merindukan Aku: “Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita.” (Hosea 5:14-15; 6:1)

Di dalam Perjanjian Baru, Paulus juga menulis kepada jemaat di Roma:
“Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan di potong juga.” (Roma 11:22).

Kata ‘kekerasan’ dalam bahasa aslinya merujuk kepada tindakan seorang petani atau pekerja kebun anggur yang memotong ranting-ranting pohonnya yang sudah tidak berguna. Orang-orang Kristen tidak mendapatkan keselamatan Tuhan melalui perbuatan baik mereka; tetapi melalui ketaatan kepada Tuhan. Itu adalah suatu kondisi yang tidak dapat di tawar oleh kita, di mana di dalamnya terkandung syarat untuk kita terus berada dalam kasih karunia yaitu melalui pengenalan yang benar dan menyeluruh akan Tuhan.

“Segera sesudah kita puas dengan suatu gambaran apapun mengenai Tuhan, kita ada dalam bahaya penyembahan berhala: yaitu ketika menyamakan sebuah gambar (tentang Tuhan) dengan kenyataan (akan Tuhan yang sebenarnya), juga ketika kita kehilangan sifat kudus, misteri, dan kebesaran Tuhan. Segera setelah dengan sadar atau tidak sadar, kita menyangka telah memahami Tuhan sepenuhnya, padahal Dia lebih dari apapun yang kita pahami, karena Dia selalu di luar pengetahuan kita yang paling canggih sekalipun.” - Victor White-

“Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.” (Efesus 3:18-19a).

Quote:
“Pengenalan akan Tuhan dengan benar
Akan membuat kita mengerti siapakah Allah sesungguhnya.”


Persepsi bahwa Tuhan selalu dalam mood yang baik; apapun yang kita lakukan, akan menyeret kita untuk tidak hidup dalam kebenaran. Dan hidup ‘kekristenan’ seperti ini akan berakhir dengan penghukuman yang kekal. (HT)