KASIH KARUNIA DAN KEBENARAN

19 Jun, 2016





“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.”
(Yohanes 1:14-17)

Benarkah klaim pengajaran Hyper Grace bahwa Yesus Kristus adalah Sang Kasih Karunia itu sendiri? Untuk menjawab pertanyaan ini secara akurat kita perlu memahami hal di bawah ini.

Iman bangsa Yahudi adalah berdasarkan catatan dari orang-orang yang pernah mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Catatan ini harus dianggap sebagai rekaman peristiwa sejarah; bukan suatu hasil perenungan pribadi semata-mata yang menghasilkan hikmat.

Ada 2 (dua) bukti obyektif dari perjumpaan orang-orang ini dengan Tuhan, yaitu :
1.  Transformasi
Yaitu perubahan yang sangat mendasar dari tujuan hidup, kepribadian, dan perilaku dari orang-orang yang mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Misalnya: Yesaya, Yakub.
2.  Mujizat
Yaitu pemberian kuasa Ilahi yang memampukan mereka melakukan tugas-tugas yang tidak mungkin diselesaikan dengan mengandalkan sumber daya / kekuatan sendiri. Misalnya: Elia, Musa.

Ketika Yesus tampil, bangsa Israel baru saja mengalami masa 400 tahun di mana tidak ada seorangpun mengalami perjumpaan dengan Allah. Mereka sedang menantikan siapakah orang berikutnya yang dipilih Tuhan untuk mengalami transformasi dan mujizat-Nya.

Ada 4 (empat) kebutuhan yang mendasar yang akan terjawab ketika seseorang mengalami transformasi akibat perjumpaan dengan Tuhan, yaitu mengenai:

1.  Kebutuhan akan Kebenaran  yang  Paling  Mendasar (Ultimate Truth)
Di dalam kesibukan sehari-hari manusia sering melupakan pertanyaan yang paling mendasar, yaitu apakah tujuan dari keberadaan hidup ini? Jawaban pertanyaan ini hanya dapat dijawab ketika seseorang berjumpa dengan Allah sebagai Penciptanya. “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia” (Yohanes 1:4). Injil Yohanes dimulai dengan pernyataan kebenaran tentang Kristus Yesus sebagai Sang Pencipta (Yohanes 1:3). Manusia diciptakan bukan hanya sebagai makhluk yang peka lingkungan, peka diri, tetapi kita diciptakan untuk peka terhadap sesuatu yang lebih besar daripada kita yaitu peka terhadap keberadaan Allah (Yohanes 1:9).

2.  Kebutuhan akan Keadilan (Justice)
Seringkali seseorang di dalam hidupnya mengalami disakiti dan diperlakukan dengan tidak adil. Ini mendorong manusia untuk mencari keadilan. Keadilan haruslah berdasarkan kebenaran. Ketika berjumpa dengan Allah yang adalah Sang Kebenaran itu sendiri, barulah kebutuhan manusia akan keadilan bisa dipuaskan (Ulangan 3:22-26, Ayub 8:3, Mazmur 7:18).

3.  Kebutuhan akan Kasih Dan Pengampunan
Setelah kita melihat bahwa Allah adalah Sang Kebenaran dan Keadilan barulah kita sadar bahwa sebagai manusia kita seringkali melanggar kebenaran dan keadilan Allah. Di dalam Injil Yohanes terdapat kisah mengenai seorang wanita yang tertangkap basah berzinah (Yohanes 8:1-11). Peristiwa ini menunjukkan bahwa kasih karunia/pengampunan bukanlah sebuah sistem tetapi Satu Pribadi yaitu Yesus. Kita berdosa terhadap seorang Pribadi dan hanya Pribadi tersebutlah yang berhak mengampuni kita yaitu Kristus Yesus. 

4.  Kebutuhan akan Kuasa
Ketika manusia memilih untuk melanggar perintah Tuhan, akibatnya mereka tidak lagi di dalam kuasa Tuhan. Kuasa Tuhan adalah mutlak dibutuhkan agar manusia dapat menjalankan mandatnya di bumi. Ketiadaan kuasa Tuhan atas hidup manusia menghasilkan chaos (kekacauan) dan kemerosotan hidup. Untuk melawan kemerosotan itu, manusia, bahkan segala makhluk, merindukan kembalinya kuasa Allah melalui transformasi dan mujizat yang dikerjakan-Nya (Roma 8:19-21). Itulah sebabnya tulisan Yohanes mengenai Tuhan Yesus dipenuhi dengan catatan tentang mujizat yang dilakukan-Nya, bukan sembarang mujizat, melainkan mujizat yang dikaitkan dengan pernyataan Diri-Nya. (AL)


Quote:
Yesus terbuka bagi semua orang
Yaitu bagi mereka semua yang mau berjumpa dengan Kristus