BERTUMBUH DALAM IMAN DAN PERBUATAN

07 Aug, 2016

Apa yang diajarkan dalam gereja sebagai Tubuh Kristus seharusnya adalah apa yang Kristus sampaikan. Memotong ayat tertentu dan memberikan penekanan menurut kemauan penafsir, adalah hal yang sering terjadi dalam gereja. Jika ini dibiarkan, maka akan timbul pemahaman yang berat sebelah terhadap suatu kebenaran. Meskipun pada awalnya ada kutipan ayat, namun pemakaian kata-kata seorang penafsir akan mempengaruhi pemahaman orang-orang yang mendengar.

Hyper Grace adalah suatu pengajaran yang menekankan satu kebenaran yaitu kasih karunia dan tidak memperhatikan aspek yang lain dari Alkitab. Salah satu pengajar Hyper Grace (Paul Elis) menyatakan: “Gereja yang mengajarkan bahwa iman harus disertai perbuatan adalah gereja yang mengajarkan perzinahan dengan hukum Taurat.” Maksudnya, mencampur adukkan iman dengan perbuatan merupakan belenggu yang diberikan gereja kepada umatnya. Kutipan tersebut di atas bertujuan ingin menahan orang percaya dari melakukan tindakan berdasarkan iman. Padahal semua yang tidak berdasarkan iman adalah dosa.

Iman
Pembahasan mengenai iman merupakan pembahasan yang menarik. Rasul Paulus menyatakan “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus” (Roma 10:17). Dari ayat tersebut disimpulkan bahwa Tuhan memberikan Firman kepada manusia dalam berbagai media komunikasi. Respon manusia sangat diperlukan ketika mendengar hal tersebut. Orang yang mendengar Firman dan memberikan respon dengan mempercayai Firman tersebut, maka orang tersebut mempunyai iman. Dengan kata lain, iman adalah Firman yang dipercayai. Karena iman datangnya dari Firman, maka mengandung berita, perintah dan lain-lain. Perintah itu berisi sesuatu yang harus kita lakukan, inilah yang disebut tindakan iman.

Pengajar Hyper Grace mengajarkan bahwa melakukan suatu perbuatan adalah bagian dari hukum Taurat, oleh karenanya mereka menolak pengajaran ini. Mereka tidak melihat dari mana asalnya perbuatan itu, mereka hanya berpegang bahwa iman tidak boleh disertai dengan suatu perbuatan (Yakobus 2:14, “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?”); jika disertai perbuatan maka merupakan ‘perzinahan’ dengan hukum Taurat. Ini adalah pandangan yang aneh dan menyesatkan.

Ekpresi Iman
Memisahkan iman dari tindakan iman adalah hal yang menggelikan. Tanpa peduli dengan aspek lain, para pengajar Hyper Grace mengajarkan hal tersebut. Dasar mereka adalah bahwa Tuhan Yesus sudah mati di kayu salib dan mengerjakan semua, sehingga tidak ada lagi yang dapat dilakukan orang percaya. Rasul Paulus menyatakan diperlukan iman dan perbuatan iman yang akan membuat hidup seseorang berkenan kepada Tuhan. “Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.” (Roma 14:23). Segala sesuatu perlu dilakukan berdasarkan iman, artinya orang memerlukan arahan dari Firman Tuhan.

Gereja lokal perlu mengajarkan seluruh anggota untuk belajar mengekspresikan iman sehingga mereka menjadi orang yang dewasa secara rohani.

Di mana kita dapat mengekspresikan iman?

1.  Keluarga
Keluarga merupakan tempat terbaik di mana kita belajar mengekspresikan atau mengaplikasikan iman. Ini tempat paling aman bagi setiap orang untuk belajar hidup dalam ketaatan kepada Firman Tuhan. Ketika seseorang menerima Firman untuk melakukan sesuatu, maka dia melakukan dengan penuh ketaatan di mulai dari keluarganya. Dalam keluarga yang saling mendukung, maka setiap anggota belajar bertumbuh dalam melakukan Firman. Keluarga yang melakukan Firman akan menjadi keluarga yang kuat.

2.  Gereja
Gereja lokal harus menjadi keluarga rohani yang mendukung pertumbuhan iman. Ini adalah tempat bagi setiap orang untuk belajar mengekspresikan imannya. Seperti halnya sebuah kelas, di mana para murid belajar dan berlatih dengan “trial and error” maka gereja menjadi tempat yang baik untuk setiap orang bertumbuh secara rohani. Pandangan Hyper Grace yang menyatakan bahwa kita tidak lagi perlu melakukan apa-apa pada dasarnya menghalangi pertumbuhan iman yang pada akhirnya justru akan mematikan iman itu sendiri.

3.  Dunia Kerja
Setelah belajar dan bertumbuh dalam keluarga dan gereja lokal, maka setiap orang percaya harus dapat menerapkan esensi-esensi Firman di dunia kerja (market place). Inilah the real battle dan juga the real ministry bagi orang percaya. Market place adalah tempat peperangan dan pelayanan yang sebenarnya bagi orang percaya. Prinsipnya sama bahwa orang percaya perlu melakukan apa yang Tuhan sampaikan melalui Firman-Nya. Kemenangan orang percaya tidak ditentukan oleh kepandaiannya semata-mata, namun oleh ketaatannya kepada Firman.

Gereja harus menjadi tempat di mana Firman Tuhan disampaikan dan memfasilitasi bagi setiap anggota untuk menjadi pelaku Firman. Kesalahan pandangan Hyper Grace yang menyatakan bahwa tidak perlu melakukan perbuatan iman adalah kekeliruan besar yang pada akhirnya akan membawa pada kemunduran iman dan jika tidak dikoreksi akan membuat orang tersebut kehilangan keselamatan. Yakobus 2:17, “Demikian juga halnya dengan iman; Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”

Iman hanya dapat dibuktikan dengan tindakan iman. Tanpa tindakan iman, hampir mustahil seseorang dikatakan memiliki iman. (RD)


Quote:
“Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan
dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.”
Yakobus 2:22