HATI-HATI DENGAN UCAPAN KITA

18 Oct, 2021

BAHAN BACAAN
Mat. 12 : 36 - 37, "Tetapi Aku berkata kepadamu : Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus
dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut
ucapanmu pula engkau akan dihukum."
PENJELASAN MATERI
Youths, masih ingatkah sewaktu kita masih duduk di bangku Sekolah Minggu ada lagu yang syairnya
berbunyi demikian:" Hati-hati gunakan tanganmu...Hati-hati gunakan mulutmu....Karena Bapa di Sorga melihat
ke bawah Hati-hati gunakan mulutmu...." Nah, mari kita arahkan perhatian kita pada kalimat "Hati-hati
gunakan mulutmu". Pertanyaannya, mengapa kita harus berhati-hati menggunakan mulut kita?
Jawabannya adalah karena setiap kata-kata yang keluar dari mulut kita, dapat memberikan pengaruh
terhadap orang-orang di sekitar kita. Pengaruh tersebut bukan hanya bernilai positif yang membangun,
tetapi juga dapat bernilai negatif yang menghancurkan. Yang harus kita waspadai di sini adalah ketika
perkataan kita tidak lagi menjadi berkat tetapi menjadi batu sandungan dan kutuk bagi orang lain sehingga
akan merugikan diri kita sendiri.

Youths, tentunya kita pernah mendengar pepatah dunia mengatakan "Mulutmu harimaumu". Ya
memang benar. Kata-kata yang keluar dari mulut kita ibarat harimau, sangat berkuasa dan bisa menjadi
sangat berbahaya jika salah menempatkan dan menggunakannya.

Coba kita bayangkan bagaimana ucapan seorang yang selalu membicarakan kejelekan temannya
dibelakangnya sampai melukai orang yang bersangkutan, ucapan orangtua dapat memengaruhi tumbuh
kembang anaknya, ucapan seorang senior kepada junior yang memanggil dengan julukan negatif misalnya
"si pendek", "si jangkung" dll ataupun ucapan seorang pria pada kekasihnya yang bisa membuatnya
tersanjung atau malah tersinggung. Nah Youths, tentu saja hal ini mengingatkan kita agar berhati-hati
dengan ucapan kita, karena perkataan kita memiliki kekuataan dan kuasa yang luar biasa. Dunia mungkin
dapat berubah menjadi semakin jahat, akan tetapi kelekatan kita terhadap Firman Tuhan dan komitmen
untuk menjadi pelaku Firmanlah yang membuat kita tidak terbawa arus hari-hari yang semakin jahat ini.
Sebaliknya, apabila kita tidak kuat dalam Firman Tuhan, maka jangan heran jika kita akan terbawa arus
dunia yang membuat kita tidak mampu lagi mengendalikan lidah dan perkataan kita. Alhasil, banyak
perkataan negatif dengan mudahnya terucap dari mulut kita seperti perkataan kotor, gosip, hinaan/cacian,
fitnah, perkataan dusta dan segala sesuatu yang sia-sia dan tidak enak didengar. Kalau sudah begini,

bagaimana orang lain dapat melihat kasih Tuhan dalam diri kita jika perkataan kita penuh dengan kesia-
siaan belaka? Bagaimana dengan kita saat ini? Apakah perkataan membuat kita sama dengan orang-orang

dunia atau perkataan kita sudah mencerminkan bahwa kita adalah anak-anak Allah?

 

GBI Jalan Jend Gatot Subroto