HATI SEORANG PENYEMBAH

11 Nov, 2018

"Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu
meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di

seluruh rumah itu." Yohanes 12:3

Penyembahan tidak akan pernah bisa dilepaskan dalam konteks hubungan antara
manusia dengan TUHAN. Dia sebagai Pencipta adalah Pribadi yang paling layak menerima
penyembahan kita. Kita adalah penyembah dan DIA adalah sentral penyembahan kita.
Penyembahan yang dimaksud tentu bukanlah sebuah ritual, rutinitas maupun sekedar
kewajiban yang harus dilaksanakan, sebab penyembahan yang murni tentu lahir dari hati
yang mengasihi TUHAN. Dalam Injil, kita mengenal seorang tokoh perempuan bernama
Maria yang menyembah TUHAN dengan hati yang sangat mengasihi TUHAN. Penyembahan
seperti ini sangat menyentuh hati-Nya, sampai-sampai Tuhan Yesus mengganjarnya dengan
hak istimewa yang sangat luar biasa, "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja
Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk
mengingat dia." (Matius 26:13).

Ada 3 (tiga) komposisi penting yang membentuk hati seorang penyembah seperti Maria:

1. Kemurnian Hati
Alkitab menyatakan bahwa minyak narwastu yang dipersembahkan oleh Maria ini
adalah murni (pistikos). Mengapa Firman Tuhan memberikan keterangan "murni" pada
minyak yang dipersembahkan oleh Maria? Sebab adalah kebiasaan beberapa orang pada
waktu itu untuk memalsukan atau mencampur minyak narwastu dengan bahan lain,
karena harga yang mahal, baik dari sisi harga maupun nilainya. Bagaimanakah dengan
hati kita? adakah hati dan kasih yang kita persembahkan kepada Tuhan adalah hati yang
murni? Ataukah tercampur/terkontaminasi dengan kepahitan, kekecewaan, cemburu, iri
hati/dengki? Yang membuat kita tidak bisa mengampuni orang yang bersalah kepada
kita.

2. Kemurahan Hati
Seberapa besar Maria mengasihi Yesus? Kualitas kasih Maria tidak hanya tersirat dari
jenis minyak yang diberikan, melainkan juga dari jumlah yang digunakan. Kita bisa
mengukur kualitas kasih Maria berdasarkan tindakan nyata yang ia tunjukkan. Selain
murni, Alkitab jelas menyatakan bahwa minyak narwastu yang dipersembahkan Maria

adalah mahal (polytimos). Yudas sendiri memperkirakan minyak itu seharga 300 dinar
(Yoh 12:5) yang setara dengan upah pekerja selama setahun (tanpa menghitung Hari
Sabat dan hari raya Yahudi) hanya untuk setengah kati (litra), yang kurang lebih setara
dengan 300 ml. Tapi maria berani dan tanpa ragu mempersembahkannya kepada Yesus
untuk mengurapi kaki-Nya.

3. Kerendahan Hati
Setelah mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu, Maria menyeka kaki Tuhan
dengan rambutnya. Menurut budaya pada waktu itu, tindakan ini bisa sangat
merendahkan Maria. Jika meminyaki kepala seorang tamu dengan minyak sudah
merupakan tanda penghormatan (Mzm 23:5; Luk 7:44-46), apalagi meminyaki kaki lalu
menyeka dengan rambut! Penghargaan tertinggi kepada Tuhan selalu dibarengi dengan
perendahan diri kita yang maksimal. Pengurapan oleh seorang perempuan di depan
publik merupakan hal yang tidak biasa menurut budaya waktu itu; terlebih menyeka
kaki Tuhan dengan rambutnya, sesuatu yang juga tidak biasa. semua itu hanya
dimungkin karena Maria memiliki kerendahan hati.