HIDUP DIDALAM PENGAMPUNAN

03 Feb, 2019

"...dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami"
(Matius 6:12)

Salah satu hal yang menjadikan manusia lebih istimewa daripada makhluk ciptaan yang lain adalah karena manusia memiliki "hati" sebagai pusat dari perasaan manusia. Dengan perasaan inilah manusia dapat membangun hubungan sosial dengan sesamanya serta memiliki rasa iba atau sayang kepada makhluk ciptaan lainnya. Namun ‘hati' ini begitu rentan terlukai atau disakiti. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan : "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."(Amsal 4:23). Hidup kita baik atau buruk, tergantung hati kita. Kalau hati kita bersih, kita akan berbahagia. Bagaimana kalau kita sempat gagal menjaga hati dan merasakan luka akibat kekecewaan atau kepahitan? Kita harus MENGAMPUNI!

Memasuki Tahun Kelahiran Yang Baru, melalui Gembala Sidang/Pembina kita, TUHAN mengingatkan soal mengampuni. Ini merupakan rahasia untuk mengalami damai sejahtera. Ayat bacaan diatas yang merupakan penggalan dari Doa Bapa kami mengatakan : "ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami". Artinya kalau kita tidak mengampuni, kita tidak bisa diampuni Tuhan.

Tidak sedikit orang Kristen yang sukar untuk mengampuni, padahal tidak mengampuni membawa dampak yang mengerikan dalam kehidupan kita. Bukan hanya membuat hidup kita kehilangan damai sejahtera, bahkan hilang
keselamatan.

Hari ini kita akan belajar dan merenungkan bersama ada 3 (tiga) dampak dari tidak mengampuni :

1. Orang yang tidak mengampuni hidup dalam kegelapan.
"Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya." (1 Yohanes 2:9-11).

Orang yang hidupnya dikuasai oleh kebencian tidak lagi dikuasai oleh kasih dan tidak dapat menguasai dirinya sendiri. Ia dengan ‘membabi-buta' artinya bertindak tanpa berpikir panjang, bertindak dengan dikuasai oleh nafsu amarah dan kebencian, matanya sudah dibutakan sehingga yang ada dalam benaknya adalah bagaimana dapat membalaskan dendam dengan segala daya dan upaya. Yang penting baginya adalah bagaimana hasrat balas dendamnya tersalurkan, sehingga ia menghabiskan masa hidupnya dalam kebencian dan merancang upaya untuk membalaskan dendamnya.

2. Orang yang tidak mengampuni masuk neraka.
"Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya." (1 Yohanes 3:14-15).

Tidak mengasihi = Masuk Neraka!

Ini merupakan sebuah peringatan yang sangat, sangat, sangat serius. Selama ini mungkin banyak orang berpikir bahwa mengampuni atau tidak mengampuni, mengasihi atau tidak mengasihi adalah hal yang sifatnya pribadi dan tidak berdampak pada keselamatan kita. Ternyata tidaklah demikian. Allah adalah kasih, jadi tidak mungkin kita berada dalam Kristus sedangkan kita tidak mengasihi, seperti yang tertulis dalam 1 Yoh 4:8, 16, "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih...Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia."

Dengan perkataan lain, kalau kita membenci, tidak mau mengampuni dan menyimpan dendam seumur hidup kita, berarti seumur hidup kita kita merasa kita berada di dalam Allah dan Allah di dalam kita, namun pada kenyataannya tidaklah demikian.

3. Orang yang tidak mengampuni sukar untuk mengasihi ALLAH.
"Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya." 1 Yohanes 4:20

Praktisnya, jika kita berpikir bahwa kita bisa menyatakan cinta kepada TUHAN YESUS melalui perkataan, doa, pujian dan penyembahan padahal kita tidak mengasihi saudara kita, maka kita sedang bersandiwara! Ungkapan kasih yang terucap hanya sekedar lip service semata. TUHAN YESUS pernah menyatakan: "Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu." (Matius 5:23-24)

Marilah kita menjadi orang Kristen yang hidup dalam pengampunan. Meminta ampun atas dosa dan pelanggran yang kita lakukan serta mengampuni orang yang bersalah kepada kita setiap hari! Jangan simpan sakit hati, kekecewaan, kepahitan. Lepaskan pengampunan dan hiduplah dalam damai sejahtera Kristus yang melimpah. Amin.