PADA MULANYA ADALAH FIRMAN

21 Aug, 2016

Steve McVey, salah seorang pengajar hyper grace, dalam bukunya Grace Walk: What You’ve Always Wanted in the Christian Life, menulis: “Saya sangat merekomendasikan supaya Anda meninggalkan nilai-nilai Kristen... Berfokus kepada sistem nilai bukanlah cara Tuhan untuk kita hidupi. Tuhan tidak pernah menawarkan supaya gaya hidup kita di bangun di atas prinsip benar dan salah.” Selanjutnya di katakan: “Allah menghendaki hidup kita di bangun di atas pribadi Anak-Nya”. Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa ajaran seperti ini pernah juga keluar dari mulut seorang Dietrich Bonhoeffer (1906-1945), seorang hamba Tuhan yang dihukum mati di tahun 1945 karena menentang Hitler. Ia di kenal sebagai orang yang meninggalkan warisan pengajaran tentang pemuridan yang radikal, yang juga mencetuskan istilah cheap grace (kasih karunia murahan). Salah satu kutipan pengajaran yang terkenal dari Bonhoeffer adalah:

Quote:
“Hanya orang percaya yang taat,
hanya orang taat yang percaya.”

Akan tetapi pada tahun 1928, sebagai seorang gembala pembantu berusia 20-an, Bonhoeffer dengan agresif mengkhotbahkan pesan-pesan pemuridan yang radikal. Ia mengajarkan: “Kristus tidak memberikan kepada kita rumusan-rumusan etika… Kekristenan bukanlah tentang seperangkat aturan baru yang lebih baik tentang perilaku... Pesan Kekristenan pada dasarnya bersifat tanpa moral”. Beberapa tahun kemudian, pada 1933 tepatnya, peristiwa bersejarah terjadi di Jerman, Hitler mulai berkuasa. Bersamaan dengan itu, sebagian besar gereja mulai berkompromi dan mendukung agenda Hitler; bahkan memasang lambang Swastika (lambang pemerintahan Nazi di bawah Hitler) di dalam gedung-gedung gereja. Bonhoeffer, yang menyatakan ketidaksetujuannya terhadap peninggian Hitler, mendapatkan cacian dan olokan dari gereja-gereja yang ada. Peristiwa ini begitu berdampak dalam kehidupan Bonhoeffer dan di titik inilah pengajarannya mulai berbalik arah. Ia tidak lagi mengajarkan konsep murid yang hanya sekedar percaya dengan pikiran, akan tetapi murid yang memikul salib dan bersedia menanggung penderitaan karena Kristus. (Kisah ini disarikan dari buku: Discipleship, Dietrich Bonhoeffer Works, Vol. 4; salah satu buku yang paling berpengaruh bagi Kekristenan di abad ke-20)



Banyak pengajar kasih karunia over dosis yang hari-hari ini menawarkan suatu gaya hidup di mana orang hanya perlu berfokus kepada hubungan dengan pribadi Yesus, dan tidak perlu – bahkan dilarang – untuk hidup berdasarkan perintah dan ketetapan Firman-Nya. Orang-orang dikondisikan untuk memilih antara Pribadi Yesus atau Firman Tuhan. Tidak ada opsi untuk memilih keduanya – Pribadi Yesus dan Firman-Nya, seolah-olah kedua hal tersebut bertentangan satu dengan yang lain. Apabila orang memilih untuk hidup berdasarkan nilai dan ketetapan dalam Firman-Nya, maka orang tersebut menjadi legalistik dan pasti hidup menjauh dari hubungan dengan pribadi Yesus. Benarkah demikian? Tidak ada yang lebih menyesatkan daripada anggapan seperti itu!

Yohanes 1:1: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”.

Sesungguhnya, pribadi Yesus tidak terpisahkan, bahkan identik, dengan Firman-Nya. Apa yang ada di benak Yohanes ketika ia memperkenalkan Firman? Yohanes meminjam sebuah gambaran dari Perjanjian Lama, di mana Firman memiliki kuasa penciptaan (Kejadian 1:3,9, Mazmur 33:6) dan lewat Firman-Nya, Tuhan berkomunikasi secara pribadi dengan umat-Nya (Kejadian 15:1). Bukan suatu kebetulan jika Yohanes yang sama, di dalam Kitab Wahyu menulis tentang hubungan pribadi antara Tuhan dengan ketujuh jemaat-Nya (Wahyu 2-3). Ketujuh jemaat ini tentunya adalah jemaat yang telah ditebus dengan darah-Nya dan diselamatkan hanya oleh kasih karunia lewat iman. Hubungan ini digambarkan terjadi lewat serangkaian Firman, yang meliputi baik pujian maupun teguran dan bahkan ‘ancaman’ dan ditutup dengan sebuah perintah “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” (Wahyu 2:7, 11, 17, 29; 3:6, 13, 22). Bagaimana mungkin para pengajar hyper grace bisa memisahkan hubungan pribadi (dengan Yesus) dari perintah dan ketetapan-Nya? Tidakkah dengan demikian mereka sedang menawarkan sebuah pola hidup anarkis? (Menurut Kamus Merriam-Webster, ‘anarkis’ berarti: “tidak mengikuti atau memiliki hukum atau aturan: liar dan tidak terkendalikan”).

Pada hakikatnya, hubungan pribadi dengan Tuhan terjadi dan dimungkinkan ketika umat Tuhan meresponi Firman-Nya, perintah dan ketetapan-Nya. Karena itulah, Yohanes kembali menulis di dalam suratnya: “Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia” (1 Yohanes  2:3-5). “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya” (Yohanes 15:10).

1 Yohanes 2:5 dengan jelas menyatakan bahwa kasih Allah (atau kasih kepada Allah, dalam terjemahan NIV) menjadi sempurna ketika kasih itu menggerakkan kita ke dalam ketaatan. Kasih kepada Allah sesungguhnya bukan hanya sekedar perasaan, akan tetapi juga sebuah respon moral. Perlu juga ditekankan bahwa ketaatan dan respon moral yang diminta Yohanes bukanlah tindakan sesaat. Kata ‘menuruti’ pada ayat ini, dalam bahasa aslinya memakai bentuk tata bahasa yang berarti suatu tindakan yang di lakukan terus-menerus. Dengan demikian, ayat ini dapat di baca seperti ini: “Tetapi barangsiapa terus-menerus menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sempurna kasih (kepada) Allah”.

Kita-lah Yohanes-Yohanes di akhir zaman, yang intim dengan Yesus (Yohanes 13:23,25), yang terus-menerus melakukan perintah-Nya karena kasih (Yohanes 15:10), dan yang tetap takut dan gentar akan Dia (Wahyu 1:17). MARANATHA!

“Firman dan Allah adalah pribadi yang tidak terpisahkan. Jika kita mau mengenal Allah maka kita juga harus mengenal Firman-Nya, karena Firman itu adalah Allah sendiri.” (HT)