Kuasa Pembalikkan

21 Apr, 2019

Kitab Esther merupakan kitab yang menceritakan kepada kita mengenai sebuah umat yang memiliki perjanjian dengan TUHAN, Allahnya Abraham, Ishak dan Yakub disebuah kerajaan Persia yang tidak mengenal TUHAN. Bagaimana umat TUHAN yang nyaris dibantai oleh niat jahat Haman, seseorang yang berpengaruh didalam kerajaan tersebut mengalami kuasa pembalikkan yang dianugerahkan oleh TUHAN, apa yang sedianya dirancangkan untuk kecelakaan oleh musuh dibalikkan menjadi rancangan damai sejahtera.

Seorang perempuan bernama Esther atau Hadassah didalam bahasa Ibrani artinya "pohon murad". Pohon murad memiliki bunga-bunga berwarna putih yang harum baunya. Nama Esther secara Ibrani berasal dari kata "hester" artinya "tersembunyi." Warna putih dan wewangian melambangkan kemurnian, kesalehan dan keindahan yang berasal dari batiniah seseorang yang tersembunyi. Nama Esther didalam bahasa Persia artinya bintang. Keindahan dan kesalehan batiniah Esther atau Hadassah bercahaya dihadapan dunia yang tidak mengenal TUHAN.

Esther kecil diadopsi dan dibesarkan oleh pamannya Mordekhai. Didalam hidupnya, Esther mengalami perkenanan demi perkenanan. Ia terpilih menggantikan ratu Vashti setelah disembunyikan selama 12 bulan menjalani program kecantikan kerajaan dibawah pengawasan Hegai. Selama 6 bulan pertama Esther dibersihkan dengan menggunakan minyak mur yang dapat diartikan penanggalan manusia lama dan 6 bulan kemudian Esther direndam wewangian yang dapat diartikan mengenakan manusia baru yang diurapi.

Secara profetik Ratu Esther berbicara mengenai Gereja-Nya dan Mordekhai berbicara mengenai Pemimpin Rohani yang membesarkan Esther serta Hegai berbicara mengenai peranan Roh Kudus yang mendandani dan mengurapi Esther. Raja Ahasyweros berbicara mengenai TUHAN.

Ketika Haman mendapatkan restu Raja Ahasyweros untuk menghabisi umat yang hukumnya "berbeda" dan tidak tunduk kepadanya didalam waktu yang telah direncanakan, Mordekhai menyampaikannya kepada Esther niat jahat Haman tersebut agar Esther dapat menggunakan posisinya sebagai ratu untuk meminta pertolongan Raja Ahasyweros bagi bangsanya.

Didalam protokol kerajaan Persia saat itu adalah pelanggaran terhadap hukum jika siapapun termasuk permaisuri jika menghadap raja tanpa menerima panggilan dari raja. Untuk itu Esther meminta dukungan seluruh umat TUHAN yang tersebar di wilayah kerajaan Persia untuk berdoa dan berpuasa bersama dengannya sebelum ia menghadap raja.

Pada hari ke-tiga Esther berdandan dan memposisikan dirinya dengan benar serta menggunakan pakaian ratu, pakaian kebenaran. Esther memikat sang raja dari kejauhan di pelataran dalam istana ketika raja sedang duduk di singgasananya

didalam istananya. Esther mendapatkan perkenanan raja untuk datang mendekat. Dan ketika raja bertanya apa yang diinginkan oleh ratu Esther, ia tidak serta merta menyatakan permintaannya sekalipun didalam keadaan yang sangat mendesak dan genting. Dua kali ratu Esther mengundang raja dan Haman kepada perjamuan yang ia adakan bagi raja, yang membuat hati raja luluh dan hati Haman melambung tinggi.

Diakhir perjamuan yang kedua barulah Esther menyatakan permintaannya setelah raja bertanya. Bagaimana amarah raja setelah mendengarkan kisah yang disampaikan Esther mengenai niat jahat Haman yang berakhir dengan pembalikkan. Haman binasa ditiang gantung yang dibuatnya sendiri bagi Mordekhai dan semua yang berniat jahat mengalami penghancuran dan sebaliknya umat TUHAN mengalami promosi besar-besaran pada saat itu.

Kisah Esther dan umat TUHAN yang terikat dengan perjanjian-Nya dijaman itu dituliskan agar setiap umat-Nya dimanapun mereka berada dapat belajar bagaimana menghadapi situasi dan kondisi yang sedemikian agar mengalami kuasa pembalikkan-Nya. Diperlukan kebangkitan para Esther dan para Mordekhai beserta seluruh umat TUHAN yang bersatu hati didalam doa dan puasa serta memposisikan diri seperti Esther dengan benar dan penuh keberanian untuk datang mendekat ke ruang Takhta Kasih Karunia disertai keintiman layaknya seorang mempelai, melalui penyembahan-penyembahan "extended" kita yang melambangkan perjamuan yang kita adakan sambil menantikan waktu perkenanan-Nya bagi kita.

Pada akhir dari kisah ini Esther dan Mordekhai diberi otoritas membuat dekrit bagi umat TUHAN, didalam kitab Esther 8:8, "Tuliskanlah atas nama raja apa yang kamu pandang baik tentang orang Yahudi dan meteraikanlah surat itu dengan cincin meterai raja, karena surat yang dituliskan atas nama raja dan dimeteraikan dengan cincin raja tidak dapat ditarik kembali." (BGP 0419)