KUASA PENGAMPUNAN

09 Dec, 2018

Mengikuti Allah menuntut kerja keras. Kasih dan berkat-Nya mungkin bisa sangat mudah diterima, tetapi ketika ketaatan kepada Allah mengharuskan kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan sifat kemanusiaan kita, tercipta konflik yang menguji komitmen kita. Allah merindukan supaya kekudusan-Nya berakar di dalam diri kita, dan Dia dapat menggunakan secara tepat ujian kemauan ini untuk membuat kita menjadi semakin sama dengan Dia.

Sama seperti Yunus, ujian terbesar kita datang ketika kita merasa terancam atau terluka oleh sesama kita. Namun hati Allah menghendaki supaya bagaimanapun kita harus mengasihi dengan menggunakan kuasa yang sanggup mengatasi rasa tidak suka kita. Dapatkah kita membiarkan kasih Ilahi itu meluap ke dalam hati kita dan kemudian mengalir ke dalam hati orang-orang yang tidak kita sukai?

Corrie ten Boom seorang hamba Tuhan menuturkan sebuah ujian terakhir mengenai kemauannya untuk membiarkan kasih Allah mengalir melalui dirinya kepada satu orang yang sangat ia benci dengan berbagai alasan. Ia sedang berbicara atau berkhotbah mengenai pengampunan Allah kepada sekumpulan orang di sebuah gereja di Munich Jerman pada tahun 1947. Corrie dan saudara perempuannya, Betsie, beberapa tahun sebelumnya telah dipenjarakan di kamp konsentrasi di Ravensbruck karena menyembunyikan orang Yahudi di rumah mereka ketika Nazi menduduki Belanda. Corrie telah menyaksikan saudara perempuannya mati pelan-pelan, suatu kematian yang menyakitkan di kamp itu.

Ketika ia sedang berdiri menyaksikan kerumunan orang berjalan keluar dari Gereja, Corrie tiba-tiba harus menghadapi ujian yang sesungguhnya dari apa yang baru saja dia khotbahkan. Ia mengenali seorang laki-laki ditengah kerumunan orang banyak itu, orang itu mengenakan topi sederhana dan sebuah mantel. Sekilas ia teringat pada wajah yang sama seperti yang dia lihat di kamp di Ravensbruck. Meskipun orang itu tidak mengenalinya, ia tidak merasa ragu tentang siapa orang itu sesungguhnya. Orang itu tiba-tiba mengucapkan selamat atas pesan khotbah yang sudah disampaikan dan menyatakan rasa leganya setelah mengetahui bahwa dosa-dosanya seperti yang telah dikatakan oleh Corrie dalam khotbahnya, sudah terkubur di dasar laut. Corrie merasa gugup, ini adalah pertama kalinya ia harus berhadapan muka langsung dengan salah seorang yang pernah menahannya dan ingin menjabat tangannya. Corrie terdiam, terbayang di benaknya kematian Betsie yang mengenaskan. Bagaimana ia dapat melupakan apa yang telah terjadi hanya dengan berjabat tangan? Apakah ia harus melakukannya?

Bersamaan dengan bayangan Betsie yang melintas, datanglah Firman Tuhan atasnya: " Karena jikalau kamu mengampuni kasalahan orang, Bapamu yang di Sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu " (Matius 6:14,15).
Corrie tahu tahu bahwa Allah tidak saja menuntut pengampunan, tetapi itu adalah satu-satunya jalan untuk membangun kembali kehidupan setelah menghadapi tragedi. Corrie mengetahui dan juga menyadari bahwa pengampunan lebih merupakan soal kemauan daripada soal perasaan hati.

Mungkin kita merasa tidak mau mengampuni, tetapi kita dapat membuat sebuah keputusan untuk mengampuni dan mempercayai Allah untuk memperoleh perasaan itu pada waktunya. Corrie mengangkat tangannya dan berdoa memohon kekuatan dan pertolongan Tuhan. Sementara ia melakukan hal itu, rasa hangat turun ke lengannya dan memenuhinya. Sambil menghapus air matanya, Corrie menyampaikan kata-kata pengampunan yang menyentuh hati, dan merasakan kasih Allah menggenggamnya lebih erat daripada sebelumnya. Kasih-Nya tidak saja memberikan sesuatu yang masih kurang pada dirinya, tetapi juga memenuhi dengan cara yang lebih dasyat daripada yang dapat ia bayangkan.

Siapa yang paling sulit Anda ampuni dan kasihi? Bagaimana perasaan Anda jika orang yang pernah menyakiti Anda mengulurkan tangannya dan meminta pengampunan Anda? Maukah Anda mengampuninya meskipun orang itu tidak memintanya?
Mohon kepada Allah pertolongan-Nya dan bekerja samalah dengan Allah dalam mengampuni dan mengasihi meskipun perasaan Anda mengahalangi Anda untuk melakukannya. (AH)