KUASA UCAPAN DEKLARASI

05 May, 2020

Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.
Amsal 18: 21

Ucapan Yang keluar dari mulut kita sangat berdampak bagi hidup kita. Entah mengatakan yang baik, maupun yang buruk. Keduanya akan berakibat. Apa yang terus kita katakan, kita gemakan, itu yang datang kepada kita.
Kita sebut hal ini sebagai ada kuasa dalam perkataan. Ada kuasa kehidupan yang membangkitkan dan menjadikan kemenangan, atau sebaliknya bisa jadi kuasa kematian yang membuat kegagalan dan kebangkrutan, itu semua tersembunyi di balik lidah.

Fakta berikut ini menggambarkan dengan jelas, ucapan kita "mencipta" apa yang dikatakan. Seorang ilmuwan Jepang yang bernama Masaru Emoto (22 Juli 1043 - 17 Oktober 2014), peneliti dari Hado Institute di Tokyo, Jepang pada tahun 2003 mendapati fakta yang unik atas kristal air. Bahwa suasana dan keadaan air dipengaruhi oleh perkataan. Kristal yang ada di dalam air itu ketika di foto bisa menampilkan gambar stuktur yang indah atau buruk, atau bahkan menyeramkan. Dia mengambil dua ribu sampel foto Kristal air, ternyata partikel molekul air dipengaruhi oleh bunyi dan pesan yang disampaikan kepadanya. Emoto menyimpulakn bahwa partikel air dipengaruhi oleh suara music, doa, kata-kata, pesan yang tertulis dan dicelupkan ke dalam air tersebut. Partikel air terlihat mengagumkan, indah ketika menerima pesan kegembiraan dan kebahagiaan, sangat merespons ekspresi yang positip. Sebaliknya menampilkan foto yang buruk dan tidak sedap dipandang mata, ketika menerima pesan yang negatip. Secara sederhana, ucapan yang membangun, membangkitkan semangat, memuji, memberkati, itu "dirasakan" dan "tersekpresikan" oleh air. Ini adalah gambaran kuasa kehidupan yang meyertai ucapan yang lepaskan dari lidah kita.
Karena itu pilihlah kehidupan, kemenangan, dan kekuatan. Nyatakan dan ucapkanlah. Baik menjadi isi pembicaraan yang natural keseharian, maupun sengaja mendeklarasikan dan menubuatkannya.

Lebih jauh, kita mengenal kuasa iman. Hati yang percaya, dan mulut yang mengaku, menghadirkan kuasa keselamatan dalam hidup kita. Ada kuasa Allah yang menyertai ucapan iman kita.

Tuhan sudah mengaruniakan otoritas kepada kita sebagai anak-anakNya, agar mampu memanifestasikan kuasaNya yang telah Dia taruhkan dalam roh kita. Kita harus terus mendisplin dan melatih diri untuk tinggal diam di dalam Yesus, dan mengenakan otoritas yang telah didelegasikan kepada kita. Sadari otoritasNya yang sudah Dia delegasikan atas diri anda. Ketika tinggal di dalam otoritas Kerajaan Allah, firman yang kita deklarasikan, dan nubuatan yang kita lepaskan melalui ucapan kita akan berdampak. Akan jadi kenyataan pada waktunya.

Dalam hidup Yesus kita melihat kuasa perkataan didemonstrasikanNya. Dia berkata kepada pohon ara. Pohon ara jadi kering dan mati. Dia berkata kepada badai, badai jadi teduh kembali. Dia memerintahkan penyakit dan setan pergi.

Dalam situasi yang kita hadapi masa pandemic Covid 19, jangan ada perkataan perkataan negatif yang mendatangkan kuasa kematian keluar dari mulut kita. Jangan biarkan perusakan datang atas kita karena kita menggemakan keluhan, omelan, gerutu dan mengutuki. Baik ditujukan kepada keadaan, kepada orang lain, maupun terhadap diri sendiri. Jangan ada kata kutukan dari mulut kita. Sebaliknya ucapakan perkataan syukur senantiasa. Apapun keadaan kita, ambil yang baik dari Tuhan, ambil yang tertulis dari firman.

Ketika kita menghadapi masalah, kita harus ucapkan iman kita tentang kemenangan dan harapan. Bukan mengeluhkan dan mengkhawatirkan masalah.
Tuhan katakan dalam Markus 11: 23
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.

Gunung persoalan yang ada di hadapan kita harus diperintahkan oleh perkataan firman dan otoritas Kerajaan Allah.

Yang seringkali banyak orang lakukan adalah bukan berkata kepada gunung. Melainkan berkata-kata tentang gunung. Perkataan yang diucapkan menggambarkan betapa besarnya gunung. Betapa kecilnya aku. betapa tak berdayanya aku. Apa yang terus digemakan dari mulut bukannya kemenangan, bukan perkataan hidup. Tidak heran jadi tertekan, murung dan kalah. Itu salah. Allah selalu turut bekerja atas situasi kita untuk mendatangkan kebaikan bagi kita apapun keadaan kita.

Harus berkata kepada gunung, perintahkan gunung masalah untuk beranjak. Perkatakan apa yang firman sudah berikan bagi kita, dan firman itu kita perkatakan memerintah gunung masalah.

Katakan, ...dengan ucapan yang tegas!!

Allahku akan mencukupi segala keperluanku, menurut kekayaan dan kemuliaanNya (Filipi 4: 19).
Yesus adalah kekuatanku, segala perkara dapat kutanggung dan kulakukan di dalam Yesus yang memberikan kekuatan (Filipi 4: 13)
Di dalam Yesus aku jadi pemenang, dan lebih dari pemenang (Roma 8: 37)
Aku tidak takut, karena Tuhan adalah kekuatanku dan Penolongku (Yesaya 41: 10)
Hidupku diberkati, berkat Tuhan menyertaiku (Efesus 1: 3-4, Yeremia 17: 7-8)
Oleh bilur-bilur Tuhan Yesus aku sudah disembuhkan, sekarang aku sembuh (1 Petrus 2: 24).
Roh Kudus di dalamku adalah Roh Hikmat, yang menuntun dan mengajarku (Efesus 1: 17, Yohanes 16: 13).

Terus perkatakan, dan gemakan. Barangsiapa memperkatakan dan mengemakannya, akan menuai hasil, memakan buahnya.

Di Tahun Pey, Tahun mulut, mulut kita harus penuh pujian kepada Tuhan dan penuh kuasa memperkatakan firman, baik deklarasi maupun melepaskan nubuatan.
Kita mengubahkan apa yang buruk yang tarjadi atas kita jadi baik sesuai yang firman janjikan, karena kita menggemakan firman dan iman.
Mari terus latih dan kobarkan, dan lakukan di dalam otoritas Kerajaan Allah. Pasti terjadi bagi kemuliaan Tuhan Yesus.