LAKUKAN DENGAN SUKACITA

12 May, 2019

"Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus." Roma 14:17

Pernah saudara menonton film tentang sekelompok orang yang bertanding dalam tim olahraga? Biasanya film dimulai dari beberapa orang yang secara ketrampilan dan kemampuan olahraganya sangat buruk. Lalu datanglah seorang pelatih yang mengubah keadaan. Ketika hari pertandingan tiba, semua anggota tim tegang dan tidak yakin mereka sanggup bermain. Sang pelatih memberikan kata-kata semangat, dan umumnya ditutup dengan kata: "Let's have fun!" Pelatih mengajak anak-anak dididiknya untuk tetap bertanding dengan sukacita.

Hidup akan lebih menyenangkan saat kita menjalaninya dengan sukacita.

Tidak heran, dalam Alkitab bahasa Indonesia pun ditemukan 89 kali kata "sukacita" yang ditulis dalam 84 ayat. Di dalam hampir semua konteks ayat-ayat tersebut, sedang terjadi sesuatu yang berat, menegangkan dan sepertinya tokoh-tokoh pelaku akan gagal, tetapi oleh karena ada sukacita, situasi itu dapat tetap dapat dilalui dengan baik. Alkitab tidak mengatakan bahwa kita harus menutup mata terhadap persoalan hidup yang terjadi, tetapi mengajarkan agar kita menjalani dan melalui semua permasalahan tersebut dengan sukacita.

Sangat menarik bahwa kata "sukacita" bukanlah kata yang umum digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan yang menyenangkan. Umumnya bahasa yang digunakan adalah gembira atau bahagia. Dalam bahasa Inggris kata bahagia adalah "happy", kebahagiaan adalah "happiness". Sementara kata sukacita adalah "joy" dan kesukacitaan adalah "joyfulness". Mengapa demikian? Karena di dunia orang lebih mencari happy dibanding joy. Kata "happy" mengandung pengertian sesuatu yang terjadi dari luar diri seseorang kepadanya (happens). Demikianlah orang seringkali menggantungkan perasaan gembiranya kepada apa yang terjadi kepada dirinya dan bukan dari apa yang ada dari dalam dirinya. Sementara kata sukacita (joy) adalah sesuatu yang berasal dari dalam diri seseorang terpancarkan keluar.

Bagaimana agar memiliki sukacita yang sejati dalam hidup kita?

1. Miliki sukacita Kristus dalam hidup kita (Yohanes 15:11)
Saat kita mengingat dan menyadari betapa baiknya Tuhan kepada kita, maka hal itu memberikan kekuatan, kesegaran dan tentu sukacita dalam hidup kita. Kita bisa memilih untuk merasa jengkel, kecewa, lelah, stres dan bahkan jatuh sakit akan hal-hal yang terjadi diluar kita, atau kita bisa memilih untuk tetap sukacita mengetahui bahwa Kristus begitu mengasihi kita. Untuk mengalami ayat 11 dari Yohanes 15, maka perhatikanlah apa yang Yesus ajarkan pada ayat 1-10-nya. Ayat-ayat itu adalah cara agar kita memiliki sukacita Kristus. Pertanyaan diskusi, Yohanes 15:1-11:

a. Sesudah kita dibersihkan oleh firman (3) bagaimanakah selanjutnya kita isi hidup kita? (4)
b. Buah-buahan sering dikaitkan dengan sukacita dan berkat. Bisakah orang yang mengatakan percaya dalam Kristus menghasilkan buah-buahan, tanpa mengikuti apa yang Kristus perintahkan? (4-8)
c. Bagaimana agar sukacita Tuhan tetap ada dalam hidup kita? (10-11)

2. Hidup dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus (Galatia 5:16,22)
Sukacita adalah satu dari buah-buah Roh. Kehidupan yang dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus akan menghasilkan sukacita yang juga berasal dari-Nya. Oleh karena Roh Kudus kita jadi bisa menjalani keseharian kita dengan tetap muka tersenyum dan hati gembira, seberapapun sulitnya atau sukarnya keadaan disekitar kita. The joy of the Lord is my strength! Baca dan perhatikanlah Yohanes 14:26 maka kita akan mendapati bahwa terdapat suatu hubungan yang sangat kuat antara keberadaan Roh Kudus, dengan point no.1 diatas.

Pertanyaan diskusi, Yohanes 14:26
a. Apakah yang akan diajarkan dan diingatkan oleh Roh Kudus kepada kita?
b. Apakah Roh Kudus bisa mengingatkan kita akan sesuatu yang tidak pernah kita baca atau pelajari?

Secara kasat mata, kehidupan orang Kristen di atas muka bumi ini tidak berbeda dengan orang-orang yang belum percaya. Kita semua menghadapi masalah dan pergumulan, kita semua punya beban, kita semua juga rentan terhadap sakit-penyakit, bencana dan sebagainya. Lalu dimana perbedaannya? Apa perbedaan kehidupan orang percaya dan belum percaya? Penulis Richard Foster menjawab pertanyaan tersebut dengan berkata: "Hidup ini adalah anugrah. Betapa baiknya Tuhan kita yang telah menyediakan kehidupan bagi kita, yang seluruhnya dapat dibungkus dengan sukacita." Amin. (CS)