LIDAH DAN TELINGA SEORANG MURID

08 Dec, 2019

"Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid." (Yesaya 50:4)

Kita telah memasuki dekade Pey (5780-5789), Pey menggambarkan sebuah mulut, yang juga dapat berarti perkataan, sebuah ekspresi verbal, vokalisasi, berbicara, komunikasi, pemberitaan. Mengenai mulut, salah satu pesan TUHAN yang disampaikan melalui Gembala Jemaat Induk/Gembala Pembina kita adalah memiliki lidah seorang murid.

Karakteristik utama dari lidah seorang murid adalah perkataannya yang selalu memberikan semangat baru kepada orang yang letih lesu dan bukan sebaliknya. Artinya perkataan yang keluar dari mulutnya adalah perkataan iman, perkataan yang memotivasi dan mengobarkan iman dan semangat orang lain, perkataan Firman Tuhan, nasihat, penghiburan dan penguatan. Bukan caci maki, kemarahan, bullying, dan perkataan kotor serta kasar yang membuat orang menjadi patah semangat dan kehilangan iman percaya.

Bagaimana kita dapat memiliki lidah seorang murid?

1. Mendengar seperti seorang Murid (Yesaya 50:4)

Ada hubungan yang erat antara pendengaran dengan perkataan. Pendengaran sangat mempengaruhi perkataan. Mereka yang tuli dapat dipastikan bisu,  mereka yang bisu belum tentu tuli.

Bayi belajar berbicara karena mereka mendengar kosakata yang diucapkan/diajarkan oleh orangtua/pengasuhnya. Jika kita mendengar hal-hal yang baik, maka perkataan-perkataan kita adalah perkataan yang baik. Sebaliknya jika kita banyak mendengar hal-hal yang tidak baik, maka perkataan-perkataan kita adalah perkataan yang tidak baik.

Itu sebabnya sangat penting bagi kita untuk mempertajam pendengaran kita seperti seorang murid, yakni mendengar dengan penuh perhatian, mendengar secara fokus, mendengar untuk belajar, mendengar untuk dilakukan dengan penuh ketaatan, mendengar untuk menjadi sama dengan gurunya.

Tuhan mempertajam.pendengaran kita setiap pagi, saat kita bersaat teduh, waktu khusus dan pribadi kita dengan TUHAN. ya..hanya kita pribadi dengan TUHAN, dimana kita membangun keintiman, keakraban dengan TUHAN dan mendengarkan segala pengajaran dan Firman-Nya.

2. Miliki Hati yang bersih

"Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya." (Lukas 6:45)

Tidak sedikit orang yang mengatakan sebuah pembelaan diri : "Saya mah sebenarnya baik, cuma mulut (perkataannya) saja yang kasar/keras/jahat". Ini adalah sebuah omong kosong besar. Sebab dengan jelas Firman Tuhan berkata bahwa "yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya". Jadi bisa dipastikan bahwa perkataan kasar meluap dari hati yang kasar, perkataan kebencian/kepahitan keluar dari hati yang benci/pahit, perkataan yang najis berasal dari hati yang najis.

Karenanya, untuk memiliki lidah seorang murid, kita harus memastikan hati kita dalam kondisi yang bersih. tidak menyimpan dendam, tidak menyimpan kepahitan dan tidak menyimpan hal-hal yang najis. Bertobat segera, lepaskan pengampunan/segala kenajisan dan minta Tuhan Yesus jamah dan kuduskan hati kita.

3. Mengekang (mengendalikan) lidah kita

"Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi." (Yakobus 3:2-4)

Memberikan kekang (mengendalikan) pada lidah kita berarti tidak berbicara sembarangan, tidak asal bicara atau berbicara dengan sembrono. Ada orang yang memiliki prinsip, terserah saya mau bicara apa, lidah-lidah saya, tentu ini adalah prinsip yang salah.

"Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi." (Amsal 10:19)

"Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;" (Yak 1:19)

Beberapa langkah praktis untuk kita dapat mengekang lidah adalah :

a. Jangan berbicara saat emosi anda meluap

b. Dengar, simak dengan baik pembicaraan sebelum Anda berbicara.

c. Berpikir dahulu sebelum berbicara. Berbicara tanpa berpikir akan meninggalkan penyesalan yang tidak perlu. (DL)