MELAHIRKAN KEPEMIMPINAN BARU

01 Sep, 2019

"Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju ke negeri yang akan Ku-berikan kepada mereka" ( Yosua 1 : 2 )

KEPEMIMPINAN yang baik merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan, kestabilan, kemajuan, bahkan kesinambungan suatu kelompok atau organisasi apapun. Dalam buku terbarunya yang berjudul "LeaderShift", Dr. John C Maxwell mengemukakan 11 hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pemimpin untuk melakukan shifting gaya kepemimpinannya di tengah dunia yang berubah dengan sangat cepat.

Dunia kita adalah jagad baru yang membutuhkan gaya kepemimpinan yang baru. Hampir semua hal yang kita anggap benar selama puluhan bahkan ratusan tahun, kini mengalami transformasi yang amat besar.

Bukan hanya gaya kepemimpinan seorang leader perlu mengalami shifting untuk menyikapi pertumbuhan organisasi yang dipimpinnya serta untuk menyikapi perubahan yang sedemikian cepat, seorang pemimpin juga harus melahirkan pemimpin baru. Pemimpin harus melahirkan pemimpin. John Maxwell bahkan berkata, "There is no SUCCESS without SUCCESSOR".

Setidaknya ada 3 hal penting yang perlu kita perhatikan untuk melahirkan KEPEMIMPINAN yang baru, yaitu :

"Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju ke negeri yang akan Ku-berikan kepada mereka" ( Yosua 1 : 2 )

Banyak pemimpin terlalu sibuk mempersiapkan banyak hal demi mencapai banyak goal untuk pertumbuhan organisasi yang dipimpinnya, kecuali satu hal- mempersiapkan lahirnya KEPEMIMPINAN baru. Itu sebabnya banyak organisasi, baik itu perusahaan bahkan gereja mengalami yang namanya krisis KEPEMIMPINAN.

Sejarah mencatat bahwa acap kali seorang pemimpin yang hebat gagal menutup masa kepemimpinannya dengan baik karena gagal melakukan suksesi. Hal ini bisa terjadi karena ia tidak mempersiapkan penerusnya atau malah lupa bahwa suatu hari kepemimpinannya pasti akan berakhir. Akibatnya, setelah ia pensiun di hari tua atau meninggal, karyanya seakan-akan menguap begitu saja karena penerusnya tidak mampu meneruskan. Beberapa pemimpin bahkan ‘sudah duduk lupa berdiri', tidak menyiapkan penerus sama sekali.

Beberapa organisasi, perusahaan atau bahkan gereja, dikelola dengan sistem ‘perusahaan keluarga', dan berpikir bahwa suksesi akan berlangsung ‘dengan sendirinya'. Itu sebabnya kita sering mendengar runtuhnya ‘imperium' perusahaan-perusahaan keluarga yang berfokus kepada faktor dinasti itu pada keturunan ke-2 atau ke-3. Jarang ada perusahaan keluarga yang langgeng setelah sang founder berpulang. Umumnya yang sering terjadi : Sang ayah yang merintis dan membesarkan, sang anak menikmati, dan sang cucu menghabiskan.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan ‘perusahaan keluarga’ sejauh sang penerus memang memiliki kapasitas dan dipersiapkan dengan matang, dan bukan sekedar karena pertimbangan nepotisme.

Menarik bahwa Musa mentaati Tuhan untuk mengestafetkan kepemimpinannya kepada Yosua, -bukan kepada Gersom dan Eliezer putranya.

“Lalu Musa memanggil Yosua dan berkata kepadanya di depan seluruh orang Israel : “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama-sama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka, dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya” ( Yosua 31 : 7 ).

Musa sebenarnya telah melihat kualitas Yosua dan mempersiapkan Yosua melalui keteladanannya ketika Musa membawa Yosua untuk menunggu di lereng gunung Sinai ( Keluaran 24 : 13 )

Rheinald Kasali, dalam bukunya menyebut “perubahan” yang dimaksud dengan istilah disruption, untuk menggambarkan bahwa kita sedang hidup dalam era peradaban dimana perubahan itu terjadi sangat cepat, eksponensial, setiap saat, real time. Perubahan ini sedemikian cepatnya sehingga berpotensi “merusak” tatanan dan menggusur mereka yang berpikir linear. Generasi milenial adalah generasi yang lahir dan dibesarkan oleh “kawah Candradimuka” peradaban ini . Sementara generasi pendahulunya masih canggung dan terhuyung-huyung, generasi milenial justru sudah terlatih untuk beradaptasi bahkan berselancar dengan mahir di atas badai gelombang disruption ini.

Jangan berpikir bahwa generasi ini akan menunggu. Karena, siap tidak siap, generasi ini sudah datang menyerbu. Shifting itu sedang terjadi. Pilihannya, Change or Die. Berubah atau mati. Bila kepemimpinan lama tidak mempersiapkan mereka dengan baik, maka suksesi akan berlangsung dalam situasi yang kacau sekali. 

Menghadapi karakteristik generasi milenial ini, gaya kepemimpinan lama dalam beberapa hal harus merevisi diri. Mereka tidak dapat dipimpin dengan gaya lama yang otoritatif, karena mereka terlatih dengan segala sesuatu yang komunikatif. Mereka mendambakan pemimpin yang dekat, bukan yang jauh dan yang tak bisa disentuh. Kesenjangan model komunikasi ini adalah problema tersendiri. Era Musa adalah era untuk bertahan di tengah padang gurun, tetapi era Yosua adalah era utk maju berperang, berperang, dan berperang. Itu sebabnya TUHAN lebih dari tiga kali berkata kepada Yosua :

Kepada Yosua bin Nun diberi-Nya perintah, firman-Nya : “Kuatkan dan teguhkan hatimu, sebab engkau akan membawa orang Israel ke negeri yang kujanjikan dengan sumpah kepada mereka, dan aku akan menyertai engkau” ( Yosua 31 : 23 ).

KEPEMIMPINAN yang baru adalah KEPEMIMPINAN yang mampu menjawab tuntutan kebutuhan jaman yang sedang berubah dengan cepat. Pastikan ruang-ruang kerja di marketplace dan pergerakan organisasi pelayanan atau gereja hari-hari ini dipenuhi oleh generasi yang menyukai perubahan, bukan generasi yang menyukai kenyamanan dan kemapanan.

Struktur dan ruang gerak organisasi pun harus selalu lentur untuk mengako- modir terjadinya perubahan-perubahan dan terobosan baru. Kreatifitas dan inovasi harus menjadi “makanan sehari-hari” dan mendapat ruang yang terbuka lebar sehingga calon-calon pemimpin yang baru dapat berkembang untuk semakin terampil menghadapi setiap perubahan, bahkan menjadi agent of change -yakni pencipta terjadinya perubahan itu sendiri.

KEPEMIMPINAN yang baru memerlukan pemberdayaan. Artinya mereka itu perlu di-support, diperlengkapi atau diberi equipping dan empowering, dan juga diberdayakan, diberi ruang gerak dan kesempatan.

Presiden RI, Ir. Joko Widodo, adalah contoh seorang pemimpin yang melakukan shifting gaya kepemimpinannya yang merakyat dan juga memiliki concern dan komitmen untuk memberdayakan generasi muda untuk muncul merespon tantangan bangsa Indonesia pada jaman ini. Dalam suatu kesempatan bahwa untuk membangkitkan munculnya pemimpin-pemimpin masa depan, kita harus ingat apa yang pernah dikatakan oleh Bapak Pendidikan yakni Ki Hajar Dewantara, yakni suatu filosofi yang berbunyi : 

Ing ngarsa mangun tuladha

Ing madya mangun karsa

Tut wuri handayani 

Filosofi Jawa tersebut dalam bahasa Indonesia artinya untuk me-release pemimpin masa depan, diperlukan : di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, dan kemudian di belakang memberi daya atau pemberdayaan.

Musa mulai memberdayakan Yosua dengan memberinya kesempatan untuk memimpin peperangan melawan Amalek, sementara Musa melakukan bagiannya naik ke puncak bukit dan mengangkat tangannya di hadapan Tuhan dengan ditopang oleh Harun dan Hur ( Keluaran 17 : 9 - 13 ).

Demikianlah juga ketika Tuhan Yesus terangkat ke Surga, Ia memperlengkapi murid-murid-Nya dengan kuasa dari Tempat Tinggi, yakni Roh Kudus ( Lukas 24 : 19 ) untuk menyelesaikan Amanat Agung ( Matius 28 : 19 - 20 ).

Jangan dipaksakan, namun memang harus ada waktunya, dimana KEPEMIMPINAN lama tidak seharusnya dihinggapi “post power syndrome” untuk memberi jalan dan kesempatan, ruang gerak untuk KEPEMIMPINAN baru berjalan di depan menjawab tuntutan jaman.