MEMAHAMI KONSEP KELEMAHLEMBUTAN GENTLENESS VS HARSHNESS PART 1

08 Jun, 2020

Bahan Bacaan
Mat 11:29, "Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan"

Penjelasan Materi
Youthers, dalam sepanjang kehidupan kita hingga detik ini, mungkin kita seringkali gagal dalam mempraktekkan hidup yang penuh dengan kelemahlembutan. Justru mungkin pula, dalam hidup ini, kita seringkali mempraktekan hidup dengan pikiran, perkataan dan tindakan yang penuh kekerasan baik kepada diri sendiri maupun sesama. Perlu kita ketahui Youthers, bahwa pelayananNya di bumi, Yesus berhasil memberi contoh kehidupan yang penuh dengan kelembutan dan kerendahan hati untuk ditiru oleh murid-muridnya. Mari kita bersama memahami mengenai konsep kelemahlembutan yang Yesus ajarkan.

Perhatikan bahan bacaan kita dalam Matius 11:29 di atas. Dalam teks Yunani, kata lemah lembut memakai kata Yunani praus dan kata rendah hati memakai kata tapeinos ("rendah") diberi keterangan tē kardia ("hati"). Jadi kata "hati" di sini mengartikan bahwa hati lah yang menaungi sikap lemah lembut dan sikap "rendah". Dari penjelasan tersebut, ayat ini hendak memberikan pemahaman bahwa semua berasal dari hati. Hati yang lembut dan "rendah" tentu saja akan terlihat dari perbuatan kita, tetapi kita tidak boleh melupakan bahwa kelemahlembutan terutama adalah masalah "hati" yang bersumber dari dalam diri kita.

Jadi Youthers, harus kita pahami bahwasannya kelemahlembutan merupakan sikap dari dalam bukan sekedar dari tindakan yang terlihat oleh mata kita. Misalnya saja, kita melihat si A tidak pernah marah lantas kita menyimpulkan si A memiliki kelemahlembutan, padahal bisa saja belum tentu demikian, karena orang yang tidak menunjukkan kemarahannya juga belum tentu lemah lembut. Jika ternyata di dalam hatinya ia memberontak dan mengumpat, berarti sikap tidak pernah marahnya adalah topeng semata. Pada akhirnya, hati kita yang terdalamlah yang benar-benar menentukan bagaimana kita sesungguhnya. Tuhan dan kita sendirilah yang paling tahu apa yang menjadi isi hati kita yang sebenarnya.
Youthers, orang yang lemah lembut bukan berarti menunjukkan kita ini lemah dan tidak bisa marah. Dalam kelemahlembutan tetap ada otoritas, kekuatan, ketegasan dan penguasaan diri yang kuat.

Bahan Diskusi:
Orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat dan berakar di dalam kebenaran Tuhan, ia menggunakan kekuatannya itu sesuai kehendak Tuhan saja. Sudahkah kita melakukannya?
Minggu 2
MENGENAL YESUS YANG LEMAH LEMBUT
GENTLENESS VS HARSHNESS PART 2 (KELEMBUTAN VS KEKERASAN PART 2)

Bahan Bacaan
Matius 5:5, "Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi,"

Penjelasan Materi
Youthers, dari Matius 11:29 kita tahu bahwa Yesus menyatakan diri-Nya sebagai pribadi yang lemah lembut dan rendah hati. Dan dalam khotbah-Nya di bukit, Yesus mengatakan, "Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi."

Pada Minggu 1, kita sudah memahami bersama bahwa seorang yang lemah lembut bukanlah seorang yang lemah, ia justru adalah orang kuat yang taat kepada "rambu-rambu" mengenai mana yang boleh dan tidak boleh ia lakukan dan menggunakan kekuatannya sesuai dengan perintah penciptanya. Ciri-ciri sikap lemah lembut itulah yang didemonstrasikan oleh Yesus dalam kisah-kisah di Alkitab.

Pertama, ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Saat Ia menjadi tawanan tentara Romawi. Ia rela diperlakukan tidak adil bahkan disiksa hingga tidak berdaya oleh kelompok orang yang memusuhi-Nya. Pada saat itu, Yesus bisa saja melawan dan membatalkan pengorbananNya dan berseru meminta pembebasan dari BapaNya di Sorga, akan tetapi tetap Ia menerimanya tanpa membalas, bahkan Ia mendoakan orang-orang yang menyiksanya kepada BapaNya "Ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34). Yesus berhasil mengajarkan kepada kita mengenai apa yang diajarkanNya dalam Matius 5:39, bahwa ketika "pipi kanan kita ditampar", berikan juga "pipi kiri" kita.

Kedua, Yesus tidak membeda-bedakan orang dan mau menerima keberadaan orang lain sebagaimana adanya. Seperti yang Yesus katakan dalam Matius 9:12 bahwa bukan hanya orang sehat yang memerlukan "tabib", tetapi "orang sakit", begitulah Yesus, dengan hati yang lemah lembut, Ia hadir untuk mereka yang dianggap "penyakit masyarakat" pada seperti pemungut cukai, Perempuan Samaria dan orang berdosa lainnya.

Ketiga, Yesus bertindak tegas, tetapi tidak berdosa. KelemahlembutanNya justru ada dalam ketegasanNya. Untuk segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak BapaNya, Yesus selalu memberi pengajaranNya didalam ketegasanNya. Hal ini bisa kita lihat pada waktu Yesus menyucikan bait Allah, kemarahanNya tetap terkendali. Dalam hal ini Yesus hendak menunjukkan adalah kesalahan menjadikan Bait Allah sebagai tempat untuk berjual beli.

Bahan Diskusi: Dari ketiga ciri di atas, mana yang sudah dan belum kita miliki? Jelaskan
Minggu 3
MENGAPA ORANG HIDUP DALAM KEKERASAN DAN JAUH DARI KELEMBUTAN?
GENTLENESS VS HARSHNESS PART 3 (KELEMBUTAN VS KEKERASAN PART 3)

Bahan Bacaan
Yehezkiel 36:26, "Kamu akan Kuberikan hati j yang baru , dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat"

Penjelasan Materi
Youthers, kita hidup di tengah zaman di mana banyak orang mengabaikan bahkan memandang "sebelah mata" mengenai kelemahlembutan. Mungkin bersikap lemah lembut itu dianggap sebagai musuh dari dari orang-orang yang terbiasa hidup dalam kekerasan fisik maupun verbal, karena dianggap sebagai suatu kelemahan dan ketidakberdayaan. Padahal tidaklah demikian Youthers.

Perlu kita ketahui Youthers, bahwa orang yang cenderung menyelesaikan sesuatu dengan cara kekerasan, yang maunya bertengkar, tidak pernah cinta kedamaian, selalu bermasalah dengan orang lain, tidak mau berpikir positif, keras hati baik terhadap diri sendiri dan orang lain, sejatinya memiliki masalah dalam hatinya yang belum ia selesaikan. Entah luka batin masa lalu, traumatis terhadap hal tertentu, dendam yang terpendam dan lain-lain. Dapat pula disebabkan ambisi yang tidak terpenuhi, karena jika kita lihat pada masa-masa ini pun, ada banyak orang melakukan berbagai macam cara untuk mengejar kehebatan, jabatan, ketenaran, status sosial. Semua berlomba untuk menjadi yang terdepan dan tidak terkalahkan. Pertanyaanya, bagaimana kita sebagai orang Kristen seharusnya meresponi situasi ini?

Youthers, memang tidak mudah bagi seseorang yang masih hidup dengan kedagingan dan jauh dari Tuhan untuk bersikap sabar, punya penguasaan diri yang baik, tidak ambisius dan tidak melakukan tindak kekerasan dalam kehidupan sehar--hari Berbeda jika kita memiliki Roh Kelemahlembutan, maka ada kekuatan yang dari Tuhan untuk memampukan kita tidak mengeluarkan reaksi yang negatif dalam mengadapi situasi sesulit apapun.

Lalu bagaimana caranya memiliki Roh Kelemahlembutan itu? Kita sudah memahami bersama pada Minggu sebelumnya bahwa Yesus itu "lemah lembut dan rendah hati" (Mat. 11:29). Jika kita memohon kepada-Nya, pada waktunya, Dia akan membentuk kita serupa gambarNya dan kita pasti akan memiliki hati yang mau dilembutkan. Seperti Firman Tuhan dalam bahan bacaan kita hari ini, maka percayalah kalau Tuhan akan memberikan kita hati yang baru , dan roh yang baru di dalam batin kita dan Ia akan menjauhkan dari tubuh kita hati yang keras diganti dengan hati yang taat.

Bahan Diskusi: Selain alasan yang dikemukakan di atas, apa yang membuat orang lain bersikap keras hati?

Minggu 4
HIDUP PENUH KELEMBUTAN DAN DIJAUHKAN DARI KEKERASAN
GENTLENESS VS HARSHNESS PART 4 (KELEMBUTAN VS KEKERASAN PART 4)

Bahan Bacaan
Efesus 4:2, "Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar."

Penjelasan Materi
Youthers, memang menjadi orang yang lemah lembut tidak mudah bagi mereka yang mempunyai sikap dan karakter cuek, ceplas-ceplos, tidak care, memiliki trauma/memiliki akar pahit. Berbeda dengan orang yang memiliki sikap dan karakter yang memang sudah lemah lembut dari awalnya. Untuk itu, setiap kita harus lebih dulu mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan pemulihan.

Jadi Youthers, semuanya itu berawal dari perjumpaan pribadi dengan Bapa melalui Kristus Yesus. Tanpa penyataan Ilahi ini, kelemahlembutan yang sejati tidak akan tercipta. Bagaimana kita bisa memperlakukan orang lain dengan lemah lembut jika kita tidak berserah dan memintanya padaNya? Bagaimana kita bisa punya hai lemah lembut jika kita tidak menyadari bahwa keselamatan kita dan semua berkat yang menyertainya merupakan anugerah Tuhan semata? Hanya mereka yang mengakui kedaulatanNya sdalam segala sesuatu sajalah yang mampu bersikap lemah lembut.

Setelah mengalami perjumpaaan dengan Tuhan yang akan mengubahkan hati dan cara pikir kita, proses lain yang diperlukan adalah pemuridan. Youthers, kita harus mau dimuridkan dan mempraktekkan apa yang dijarkan. Murid tidak hanya mengetahui sebuah teori, tetapi melihat bagaimana teori itu diterapkan. Bukan hanya itu. Mereka juga terlibat secara aktif di dalam penerapan itu.

Mungkin ada di antara Youthers yang menjadi pribadi yang keras hati karena pernah dilukai, pernah di caci, pernah melihat dan mencontoh orang lain dari perkataan dan perbuatannya yang juga kasar, dan punya pengalaman buruk. Youthers, pahamilah bahwa Yesus pernah diperlakukan tidak adil seperti itu. Perhatikan Firman Tuhan dalam 1 Petrus 2:23, "Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil." Dan dalam 1 Petrus 3:9, "...dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat." Youthers, sebagai orang percaya hendaknya kita harus belajar untuk bisa mengenakan kelemahlembutan yang Yesus kenakan ini.

Bahan Diskusi: . PribadiNya yang lemah lembut mengundang kita semua untuk datang kepadaNya setiap saat, belajar menjadi pribadi yang memiliki kelembutan hati seperti yang dimiliki oleh Yesus. Sudahkah kita memintaNya?