MEMANCARKAN ALIRAN KEHIDUPAN

10 Aug, 2020

Amsal 4:23 (TB) Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Kita memiliki hati yang baru ketika lahir baru di dalam Kristus. Janji Tuhan dalam Yehezkiel 36: 25-26 adalah memberikan hati yang baru dan roh yang baru di dalam batin kita. Dan hati kita jadi mata air, yang mengalirkan aliran kehidupan. Tuhan Yesus menyatakan, barang siapa percaya kepadaNya, maka dari harinya mengalir aliran sungai kehidupan. Karena itu, hati yang bersih dan murni harus kita jaga, sehingga tidak ada pengkeruhan atau sumbatan yang menutup aliran. Roh Kudus di hati kita leluasa mengalirkan kasihNya, damai sejahtera dan sukacitaNya terpancar keluar dari hidup kita.

Di tengah situasi seperti yang terjadi sekarang, konsekwensi covid 19 , keterbatasan yang terjadi, dampak social dan psikologis yang diakibatkannya, maka kita sebagai anak-anak Tuhan sangat perlu untuk selalu hidup dalam damai sejahtera Tuhan. Di tengah kenyataan yang tidak baik, kita tinggal tenang di dalam Tuhan, mengalami damai sejahtera Tuhan. Ketika hati kita penuh damai sejahtera kita leluasa berada di hadiratNya, leluasa untuk menikmati kasih karuniaNya, tanpa konflik hati dan keraguan. Sukacita Kristus yang supra natural mengalir di hati. Sukacita yang melampaui logika dan fakta dunia terpancar keluar terus menerus.

Kita sebagai anak-anak Allah sudah diperdamaikan dengan Allah. Roh Kudus di dalam kita adalah Roh Damai Sejahtera. Karena damai dengan Allah, bebas dari tuduhan dan rasa bersalah, kita memiliki damai sejahteraNya mengalir di hati.
Namun ketika ada luka atau ganjalan di hati, maka sumbatan itu membuat kita tidak mengalami damai sejahteraNya.

Karena itu kita harus menjaga hati agar tetap beres. Tetap bersih, tanpa pengkeruhan. Agar hati terawat, kita menjaga hati dalam sikap rendah hati dan keterbukaan apa adanya kepada Tuhan. Sikap hati itu harus selalu kita jaga.

Curahkanlah isi hatimu kepada Tuhah, hai umat....(Mazmur 62: 9).

Jangan biarkan rasa kesal, kemarahan, tertuduh, atau emosi negative lainnya tetap bercokol di hati. Kita jangan lagi kompromi dengan gangguan emosi negative yang membuat hati terasa ada ganjalan bercokol tanpa ditanggulangi.

Ini waktunya kita tidak MENGANGGAP WAJAR munculnya emosi negatif dalam diri kita. Tidak peduli dalam situasi apa pun, baik saat berinteraksi satu sama lain, dalam keluarga atau bahkan di pekerjaan. Sebab emosi negatif pasti akan merusak. Pertama - tama merusak diri sendiri dan selanjutnya orang lain.

Firman Tuhan mengingatkan bahwa kemarahan, kekesalan, kekecewaan, dan berbagai emosi negatif lainnya hanya akan menghantarkan kita pada kejahatan (Mazmur 37:8). Oleh sebab itu, segala pembelaan diri dan segala alasan apa pun yang membenarkan kita untuk memanifestasikan emosi negatif sesungguhnya adalah 'tipu daya iblis' dalam pikiran kita.
Pembenaran diri, membenarkan diri dengan apa yang dilakukan, adalah jebakan iblis. Itu alat kailnya yang bisa menjerat kita. Apa pun alasannya, emosi negatif bukanlah berasal dari Tuhan! Apapun kebenaran yang diusung oleh emosi negative, itu adalah bagian dari alat iblis. Tuhan tidak menggunakan emosi negative sebagai alatNya memberkati hidup kita anak-anakNya . Keadaan itu lebih menyingkapkan kenyataan bahwa ego kita yang tersinggung.
Musa pernah marah besar kepada umat Israel, dan dia punya alas an wajar untuk marah kepada umat yang bebal dn tegar tengkuk. Umat yang sangat menyusahkan Musa, yang tahunya bersungut-sungut dan menuntut. Tidak tahu bertrima kasih dengan kebaikan Tuhan yang mereka terima. Namun kemarahan Musa mendatangkan kerugian fatal dan pukulan baginya, Musa tidak layak untuk masuk ke negeri perjanjian. Dia yang sudah berjuang membawa umat Israel untuk masuk ke negeri perjanjian, ternyata dia ditolak, tak boleh masuk, cuma melihat dari kejauhan dari luar. Seharusnya cukup berkata kepada batu, air keluar, namun karena sudah terpicu umat pemberontak, malah dalam kemarahan yang menyala Musa memukul batu dua kali. Tragis.

Bilangan 20:11-12 Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.
Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka."


Ketika emosi negative tidak ditanggulangi, dibiarkan mengendap dalam dasar hati dalam jangka panjang akan terjadi internalisasi ke system nilai yang kita kenakan, lalu akan membentuk keyakinan yang menyerong dalam hidup. Tanpa sadar sudut pandang kita diwarnai nuansa emosi negative tersebut. Tanpa disadari jadi melihat pribadi Tuhan sebagai sosok yang 'pemarah'. Inilah yang menjadi sumber di mana kita masih menganggap emosi negatif merupakan hal yang wajar, tak merasa salah ketika melakukan kesalahan. Statement yang sering kali kita dengar adalah: "Tuhan saja bisa marah, apalagi kita sebagai manusia biasa".

Sadarkah kita, ada banyak cerita di Alkitab yang ditulis oleh orang - orang yang belum sempurna, warna yang dia sukai, dan budaya yang dia hidupi, akan tampil juga sebagai nuansa yang menyertai penggambaran dalam mengungkapkan kisah Alkitab, hal yang sama dengan hidup kita menampilkan rupa Kristus hari ini. Jangan biarkan ada emosi negative yang tidak ditanggulangi, sehingga Kristus ditampilkan dengan jernih dari hidup kita. Kita mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak terselubung secara akurat.

Roh Kudus, Dialah yang menolong kita untuk peka berwaspada setiap kali adanya emosi negatif yang muncu, cepat sadari bahwa hal itu tidak wajar! Pokoknya segala alasan apa pun yang 'masuk akal' untuk menjadi pembenaran terhadap emosi negatif yang muncul dalam hidup kita harus segera ditolak! Penuhi hati kita dengan firman dan kesadaran kehadiran Roh-Nya di hati kita.
Kunci dasar untuk menjaga hati yang terawat adalah melepaskan pengampunan kepada semua yang pernah melukai dan menyaikiti kita. Dan minta ampun untuk keinginan membalaskan jahat, gantikan dengan melepaskan berkat , dan berkat itu juga akan berbalik memberkati kita.
Itulah kehendak Tuhan bagi saya!

Hati saya bersih, dan bebas menerima aliran hidup Roh Kudus, dan selalu memancarkan aliran kehidupanNya keluar dari hidup saya ke orang-orang yang ada di sekitar ku.
Hati yang menyimpan firman, merenungkannya, dan menerapkan dalam hidup akan terus menancarkan kehidupan.

Saya mau mentaati Tuhan! Dan saya mau menikmati surga di atas bumi ini. Setiap saat dan waktu penuh damai sejahtera dan bersukacita senantiasa!!