Memasuki Dekade Memperhatikan Apa yang Kita Ucapkan

20 Oct, 2019

"Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid."

Yesaya 50:4 

Akhir September 2019 yang lalu kita memasuki tahun Ibrani yang baru, yaitu 5780.  Kebiasaan orang Yahudi hanya menyebutkan tahun hanya dengan 2 (dua) angka dibelakangnya, sehingga tahun 5780 disebut sebagai tahun "80" atau "Pey".  Secara struktur huruf, "Pey" juga digambarkan sebagai "mulut".  Gembala Sidang menyatakan bahwa kita sedang memasuki dekade yang baru yaitu era dimana kita harus memperhatikan apa yang kita ucapkan.  Selain ayat yang telah kita dibaca, kita juga perlu membaca dan memperhatikan Efesus 4:29, Efesus 4:32, Matius 12:36-37.

Kita tentu juga tahu bahwa kita sedang ada dalam era Pentakosta Ketiga, dimana Amanat Agung Tuhan Yesus sedang digenapi dengan pencurahan Roh Kudus yang luar biasa; lebih besar dari Pentakosta Kedua (Azusa Street, 1906M) maupun Pentakosta Pertama (Yerusalem, 33M).  Sama seperti ayat diatas, Amanat Agung Tuhan Yesus yang tercantum di Matius 28:19-20 pun mencantumkan sesuatu tentang "murid".  Dari semua ayat-ayat tersebut kita mendapatkan ada 3 (tiga) hal yang harus kita perhatikan tentang hubungan "murid" dan "mulut":

1.     Jaga perkataan karena kita adalah murid Kristus.

Seorang murid adalah seseorang yang meneruskan apa yang telah ia terima dari gurunya; apa yang lihat, rasakan, pelajari dan dengar dari sang guru.  Apa yang kita ucapkan -termasuk yang kita tulis di medsos, aplikasi chatting dll. - akan digunakan orang lain sebagai penilaian kedewasaan kita dan bahkan siapa guru kita.  Jika kita sebagai murid Kristus tidak menjaga apa yang kita ucapkan atau tuliskan dengan baik, maka bukan hanya diri kita saja yang mendapatkan penilaian buruk, tetapi juga Kristus yang adalah Tuhan dan Guru kita.  Jika kita sebagai murid Kristus tidak menjaga perkataan kita lalu bagaimana terutama orang-orang yang belum mengenal Kristus bisa mau mengenali Dia? Jika demikian bukankah kita jadinya sulit menjalankan Amanat Agung?

Berita Kabar Baik atau Injil, adalah suatu berita yang luar biasa. Manusia yang berdosa dapat diampuni dosanya dan mendapat hidup baru oleh karena anugrah Yesus Kristus.  Itulah berita utama yang kita dapat/dengar dari Tuhan dan yang Ia taruhkan pada mulut kita (perhatikan Yes 50:4 dan Efesus 4:29). Itulah juga yang kita teruskan sebagai berita penginjilan kita.

Jangan sampai karena perkataan atau tulisan kita, status kita sebagai murid Kristus jadi "dipertanyakan" dan malah menjadi penghalang bagi jiwa-jiwa datang kepada Kristus.

Diskusi: ada kata-kata atau postingan medsos/chat-mu yang engkau sadari sekarang sebenarnya tidak pantas diutarakan oleh seorang murid Kristus?

2. Pikirkan terlebih dahulu sebelum berkata-kata (atau menulis).

Amsal 10:8 berkata: "Siapa bijak hati, memperhatikan perintah-perintah, tetapi siapa bodoh bicaranya, akan jatuh."  Sebagai seorang murid Kristus, kita di minta untuk memikirkan kata-kata yang mau kita ucapkan, terutama jika ingin meresponi hal-hal yang penting. Seorang murid Kristus hendak bijak dengan mempertimbangkan kata-kata atau tulisan yang hendak diutarakan dengan memeriksanya dengan firman Tuhan; apakah sesuai dengan yang Dia inginkan atau tidak.

Matius 12:36-37 jelas berkata: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum."  Kata-kata sia-sia yang kita ucapkan atau tuliskan pada akhirnya harus kita pertanggungjawabkan.  Ayat yang kita sebelum ini memang dengan gamblang bicara tentang hari penghakiman, tetapi ini juga menyiratkan bahwa apapun kita ucapkan harus bisa kita pertanggungjawabkan di bumi, karena kalau tidak kita akan "dihakimi" oleh orang lain.  Orang bisa makin dekat dengan kita atau menjauh bahkan memusuhi karena apa yang kita ucapkan/tulisan.  Walaupun yang engkau ucapkan mungkin benar, namun pikirkan juga dengan bijak cara penyampaiannya.  Bayangkan kalau hal serupa sekarang diperkatakan kepadamu, apakah engkau bisa menerimanya?

Diskusi: adakah kata-kata yang pernah kau ucapkan atau tuliskan kepada seseorang yang kini engkau sesali telah kau utarakan? 

3.  Perkatakanlah perkataan yang benar.

Satu hal yang kita pegang adalah kita tidak kompromi terhadap kebenaran. Betul kita harus dengan bijak memperhatikan cara penyampaian, tetapi bukan berarti kita kompromi terhadap hal-hal yang tidak benar menurut Firman.  Apa yang salah dan dosa harus dinyatakan sebagai hal yang salah dan dosa; jangan "memperhalusnya".  Orang mungkin akan "shock" atau marah ketika pertama kali mendengarnya, tetapi itu akan membuka jalan baginya untuk mengerti kesalahannya dan Roh Kudus menuntunnya pada pertobatan dan pemulihan.  Ingatlah, pertobatan terjadi ketika seseorang sadar betapa buruknya konsekuensi dosa dan pelanggaran yang ia buat.

Paulus sendiri memohon dukungan doa agar ia selalu berani memperkatakan kebenaran.  Efesus 6:18b-20, "Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara."

Jangan takut untuk memperkatakan kebenaran.  Itulah sebabnya Roh Kudus dicurahkan agar kita memiliki kuasa untuk menjadi saksi Kristus dan kebenarannya. Ditengah-tengah pandangan dunia hari-hari ini dimana segala sesuatu harus "politically correct" yang malah membungkam kebenaran, kita harus dengan keberanian kudus dari Roh Kudus untuk memperkatakan kebenaran. (CS)

Diskusi: pernahkah kita ragu memperkatakan kebenaran kepada seseorang karena kita takut akan membuat buruk hubungan kita dengan orang itu?

Apa yang kita ucapkan maupun tuliskan akan menentukan

apakah kita seorang pengemban Amanat Agung

atau malah seorang yang menghalangi penggenapannya.