MEMBERIKAN KENDALI (MENGEKANG) LIDAH KITA

17 Nov, 2019

"Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi." (Yakobus 3:2-4)

Anggota COOL adalah anggota jemaat yang ingin terus bertumbuh sebagai murid Yesus. Karakteristik utama dari lidah seorang murid adalah perkataannya yang selalu memberikan semangat baru kepada orang yang letih lesu dan bukan sebaliknya (Yesaya 50:4). Artinya perkataan yang keluar dari mulutnya adalah perkataan iman, perkataan yang memotivasi dan mengobarkan iman dan semangat orang lain, perkataan Firman Tuhan, nasihat, penghiburan dan penguatan. Bukan caci maki, kemarahan, bullying, dan perkataan kotor serta kasar yang membuat orang menjadi patah semangat dan kehilangan iman percaya. Untuk itu, seorang murid harus belajar mengekang, atau mengendalikan lidah (perkataan) nya.

Memberikan kekang (mengendalikan) pada lidah kita berarti tidak berbicara sembarangan, tidak asal bicara atau berbicara dengan sembrono.  Firman Tuhan mengatakan : "Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi." (Amsal 10:19); "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;" (Yak 1:19)

Beberapa langkah praktis untuk kita dapat mengekang lidah adalah:

1.       Jangan berbicara saat emosi anda meluap.

"Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak." (Amsal 25:11)

Perkataan yang baik, jika diucapkan pada saat yang tidak tepat tidak akan berdampak dengan baik. Contohnya, nasihat yang baik untuk anak-anak, jika disampaikan pada saat orangtua sedang emosi atau marah-marah, tidak akan ditangkap maksudnya dengan baik oleh anak-anak.

Dalam ilmu komunikasi, cara kita menyampaikan sama pentingnya dengan informasi yang ingin kita sampaikan. Jika hati anda sedang meluap dengan emosi, lebih baik diam, berdoa dan minta damai sejahtera Allah memenuhi hati Anda, baru setelah itu berbicara dengan baik-baik.

2.       Dengar, simak dengan baik pembicaraan sebelum Anda berbicara.

"Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;" (Yak 1:19)

Kecenderungan sifat dari banyak orang adalah kebalikan dari ayat tersebut, yakni lambat mendengar dan cepat berbicara. Sehingga seringkali terjadi miskomunikasi, belum menangkap esensi dari pembicaraan lawan bicara, sudah mengutarakan pendapat atau pandangannya. Untuk itu, Firman Tuhan mengingatkan kita untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara. Sebagaimana sebuah ungkapan yang terkenal yang mengatakan : TUHAN memberikan kita dua telinga dan satu mulut bukan tanpa tujuan, tapi DIA mau kita bertindak sebagaimana tertulis dalam Yakobus 1:19 tersebut diatas.

3.       Berpikir dahulu sebelum berbicara. Berbicara tanpa berpikir akan meninggalkan penyesalan yang tidak perlu.

"Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." (Amsal 18:21)

Perkataan kita berdampak sangat fatal bagi kehidupan kita. apa yang kita perkatakan mempengaruhi hidup dan mati kita. Jika perkataan kita senantiasa menebarkan kebencian, caci maki, penghinaan, fitnah, bullying, perkataan kasar yang sangat merendahkan, lihat saja bagaiman reaksi orang lain terhadap kita. bisa jadi mereka merespon dengan tindakan kekerasan atau sikap yang agresif yang mengancam nyawa kita. Sebaliknya, jika perkataan kita lemah lembut, penuh kasih dan perhatian, tentu menimbulkan kasih sayang dan respect dari lawan bicara kita. Karenanya, ayo biasakan berpikir dahulu sebelum berkata-kata. Jangan sembrono! (DL)