PENYERTAAN TUHAN DI SAAT MENGHADAPI BADAI

01 Jun, 2020

Shalom,
Saya Lisyanti dan suami saya Jacob. Kami ingin menyaksikan bagaimana Tuhan menolong suami saya khususnya dalam menghadapi sakit dengan diagnosa suspect COVID-19.

Pada tanggal 10 Maret 2020 ketika sedang saat teduh, saya mendapat pesan Tuhan bahwa saya harus berdoa lebih kuat lagi untuk keluarga, terutama suami saya. Tiba-tiba malam harinya suami saya tidak enak badan, badannya terasa ngilu, juga demam tinggi hingga 38,5. Tanggal 11 Maret 2020 ternyata hasilnya negatif. Pada saat itu suami saya hanya berobat jalan dan demamnya terus berlanjut sampai pada tanggal 18 Maret 2020.

Karena tidak sembuh-sembuh maka saya segera membawanya berobat ke dokter. Setelah dicek darah ulang untuk DBD dan Typhusnya; hasilnya negatif.

Tanggal 19 Maret 2020 saya kembali menemani suami saya berobat ke rumah sakit, kali ini pemeriksaannya ke dokter internis. Dari sana dirujuk untuk ke dokter paru-paru. Sebenarnya sejak tahun lalu suami saya sudah ada masalah dengan paru-parunya. Suami saya perokok pasif karena di lingkungan proyek banyak perokok yang kuat-kuat sekali, jadi memang sejak tahun lalu sudah berobat. Melihat hasil pemeriksaan paru-parunya yang kurang baik, maka pada saat dan hari itu juga suami saya langsung disuruh masuk rawat inap. Akhirnya setelah cukup lama menunggu di UGD dari jam 11 siang sampai jam 8 malam suami saya baru mendapatkan kamar dan bisa masuk untuk rawat inap.

Keesokan harinya dokter datang ke kamar dan langsung menyuruh suami saya untuk melakukan CT scan juga Thorax dan test SWAB (Salah satu test yang dilakukan untuk mendeteksi virus corona), semuanya ini dilakukan untuk mengetahui apakah suami saya terpapar COVID-19 atau tidak.

Begitupun dengan saya, karena sejak beberapa hari saya mengurus dan menemani suami, sehingga patut diduga bahwa saya juga terpapar. Itu sebabnya dokter meminta saya juga ikut bersama suami di ruang isolasi dan menjalani test SWAB.

Akhirnya pada hari itu kami berdua langsung dipindah ke kamar isolasi karena hasil CT Scan suami saya ternyata kondisi paru-parunya tidak baik. Maka kami berdua dinyatakan suspect COVID-19. Sebab itu kami sekamar dalam ruang isolasi, namun hanya suami saya yang menjalani perawatan seperti diinfus dan minum obat. Kami berdua mulai berdoa; masuk dalam doa peperangan rohani, karena saya tahu hanya Tuhan yang dapat membuat semuanya menjadi baik.

Pada saat saya diisolasi secara manusia saya takut, karena kami belum paham mengenai COVID-19 ini. Saya menangis, saya berdoa kepada Tuhan,
"Tuhan kami harus bagaimana? Tuhan mau bicara apa kepada kami?"
Tiba-tiba Tuhan bicara kepada saya, untuk tidak takut, karena Tuhan Yesus selalu menyertai dan saya tidak sendirian.

Selain itu saya juga harus minta dukungan doa, terutama kepada pemimpin rohani. Saya langsung memberitahukan Gembala kami di Rayon 3 juga teman saya ketua pendoa di sana, saya ceritakan kondisi kami saat itu. Saya menangis, minta tolong agar doakan kami.

Pada hari ke 2 suami saya mengalami demam tinggi 39 derajat dari siang sampai malam, obat penurun panas sudah diberikan lewat infus dari siang tetapi panasnya tidak turun-turun. Saran dari perawat, suami saya harus dibantu dengan kompres.

Saya harus menjadi tiang doa buat suami saya, walaupun perasaan takut, kuatir itu menjadi tekanan buat saya. Terlebih atmosfir saat itu sangat tidak enak, melihat keadaan suami saya yang sudah tidur terus. Di rumah sakit di ruang isolasi melihat mereka yang datang memakai APD lengkap membuat saya takut dan membuat saya tidak fokus sama Tuhan.

Namun di tengah perasaan takut, Tuhan ingatkan agar tetap berdoa, ada kekuatan untuk terus berdoa dan selalu perkatakan Mazmur 91 sehingga saya bisa memberikan semangat untuk suami saya, dukungan untuk sembuh. Saya tidak mau fokus kepada penyakitnya. Saya terus perkatakan paru-paru suami saya sehat, paru-paru yang bersih yang baru sudah Tuhan Yesus berikan dalam nama Yesus.

Di situ kami berdua mulai lakukan doa peperangan sampai jam 1 pagi. Panas suami saya mulai turun 37,5 saya sangat percaya pada malam itu kami tidak sendirian; ada Tuhan Yesus bersama kami, Tuhan pasti menolong.

Memasuki hari ke-4, suster datang dan memberi kabar, bahwa kami sudah diperbolehkan pindah ke kamar rawat inap yang biasa. Puji Tuhan! Kondisi suami terus semakin membaik, semakin stabil suhu tubuhnya 36,5o C dan pada tanggal 26 Maret 2020 saya diperbolehkan pulang, dengan catatan harus isolasi di rumah selama 14 hari. Satu hal yang saya imani pada saat kami pulang bahwa hasil test, SWAB kami akan negatif dalam nama Yesus. Setiap hari pagi, siang, malam kami perkatakan.

Sampai pada akhirnya tgl 31 Maret 2020 kami berdua mendapat kabar kalau hasil test kami negatif. Pada saat itu kami sedang isolasi di rumah hari ke-6. Dokter mengatakan bahwa kami berdua sudah sembuh sehingga tidak perlu isolasi lagi dan kami sudah boleh bertemu kembali dengan anak-anak.
Ada rasa haru, bersyukur karena kami bisa berpelukan dengan anak-anak, kami sangat bersukacita. Saya berteriak: "Tuhan Yesus dahsyat! Terima kasih Tuhan Yesus! Kami menang! Kami menang!"

Saya dan suami sangat bersyukur kalau kami boleh melewati ini semua, saya tetap percaya pertolongan kami datang dari Tuhan melalui dukungan doa-doa yang dinaikkan oleh pemimpin rohani, keluarga dan teman-teman pelayanan di gereja, yang memberikan kami kemampuan untuk tetap bertahan dalam iman.

Kami bersyukur buat setiap kesempatan dan pengalaman yang Tuhan ijinkanterjadi dalam hidup kami, dan bersyukur karena saya dan suami berhasil keluar sebagai pemenang. Terpujilah nama Tuhan, kami sangat merasakan penyertaan Tuhan Yesus dalam hidup kami. Amin.