PERGUNAKAN MULUT KITA UNTUK MENGUTARAKAN HAL-HAL YANG BAIK

03 Nov, 2019

"Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia." - Efesus 4:29

            Tahun Ibrani 5780 yang sedang kita masuki saat ini mengandung suatu pesan yang baik untuk kita perhatikan dan ikuti.  Angka "80" disebut Pey (atau Peh, tergantung dialek) dalam bahasa Ibrani.  Angka ini juga digambarkan sebagai mulut, yaitu bagian tubuh kita yang terutama dipergunakan untuk berkata-kata dan berkomunikasi; penekanannya disini (bukan mulut sebagai bagian tubuh untuk makan/pencernaan).  Kita hendaknya menjaga segala perkataan kita -- termasuk tulisan di apps chatting dan medsos -- baik itu dalam doa kita kepada TUHAN maupun dalam interaksi dengan sesama kita.  Firman TUHAN  dalam Efesus 4:29-32 mengajarkan beberapa hal yang perlu kita perhatikan sehubungan dengan mulut/perkataan:

1.     Perkatakan hal yang baik dan membangun, agar yang mendengarnya pun terberkati (29)

            Salah satu efek dari besarnya penggunaan apps medsos dan chatting yang sekarang ini banyak rupa dan jumlahnya, adalah rendahnya interaksi sosial secara langsung.  Interaksi tidak lagi dilakukan secara tatap muka (face to face) sehingga penulis tidak bisa melihat akibat langsung dari apa yang ia perkatakan/tuliskan.  Di dalam komunikasi secara langsung kita bisa melihat reaksi wajah atau bahasa tubuh dari lawan bicara saat mereka mendengarkan perkataan kita.  Dari reaksi mereka, kita bisa menyesuaikan perkataan kita, termasuk cara kita menyampaikannya.  Melalui interaksi langsung, kita belajar menjadi peka dan sensitif dengan lawan bicara kita.  Hal-hal ini tidak di dapatkan --atau setidaknya terbatas-- melalui medsos atau chatting seperti Whatsapp.  Itulah sebabnya mekanisme emoji ditambahkan agar memungkinkan penulis memberi efek emosional di tulisannya agar pembacanya setidaknya mengerti apa yang menjadi maksud si penulis.  Kelemahan dari berkomunikasi secara dunia maya seperti inilah yang membuat banyak hari-hari ini menuliskan kalimat/kata-kata kebencian, makian, ketidaksopanan seenaknya, karena si penulis tidak melihat atau merasakan langsung efek dari kata-kata mereka.  Hasilnya?  Berapa banyak anak-anak muda yang di-bully secara online menjadi depresi dan bahkan ada yang bunuh diri seperti di Korea, karena yang mem-bully tidak menyadari atau memperhatikan bagaimana perkataan mereka telah menyakiti anak tersebut.

            Sebagai anak-anak TUHAN, Allah meminta kita agar menjaga perkataan kita.  Sebagaimana Yesus dalam berkata-kata selalu menjadi berkat bagi banyak orang yang mendengarkan-Nya, demikian juga kita sebagai orang percaya yang bertumbuh ke arah Kristus Yesus, maka kita juga perlu meneladani tindakan-Nya tersebut.  Perkataan yang baik bukan berarti yang mendayu-dayu atau lembut; itu adalah cara berbicara.  Yang dimaksudkan disini adalah perkataan-perkataan yang membangun.  Jika diperlukan, bisa saja terdengar "keras" tetapi jika itu dibutuhkan untuk kebaikan lawan bicara kita, maka sampaikanlah dengan baik dan sedemikian rupa dengan bijak.

2.     Perkataan yang sia-sia akan mengecewakan TUHAN (30-32)

            Tentu sebagai orang percaya hal yang sangat tidak kita inginkan adalah membuat hati TUHAN sedih dan kecewa.  Perkataan (termasuk posting-an) yang sia-sia pun mendukakan hati TUHAN.  Ingatlah bahwa hidup kita yang penuh  dosa dan sia-sia ini telah Kristus tebus dengan harga yang mahal.  Jangan kemudian mulut yang sudah Allah tebus ini kemudian kita pergunakan untuk hal-hal yang TUHAN tidak suka.

            Mulut adalah hal yang penting.  Itulah juga sebabnya kita Roh Kudus tercurah untuk memampukan kita melakukan apa yang TUHAN perintahkan, maka hal pertama yang di kuduskan adalah mulut, yaitu dengan Bahasa Roh.  Namun ingat juga bahwa apa yang meluncur keluar dari mulut kita berasal dari dalam hati dan pikiran kita.  Jika perasaan dan pikiran kita tidak ditundukkan kepada Firman dan Roh Kudus, maka segala hal yang buruk seperti kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah akan meluncur dari mulut kita.  Contoh: TUHAN meminta kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita, sebagaimana Ia sendiri telah mengampuni kita yang berdosa kepada-Nya.  Pengampunan yang kita terima, kini kita teruskan kepada orang yang menyakiti kita.  Waktu kita tidak mau mengampuni, artinya kita tidak meneruskan pengampunan-Nya dan tidak menghargai apa yang Ia lakukan.  Kita juga artinya tidak melakukan apa yang Dia perintahkan.  Kita malah memilih untuk tetap pahit, geram, marah dan bertikai tanpa henti dengan orang tersebut, sekalipun mungkin bahkan ia sudah memohon maaf.

            Agar perkataan kita baik, perasaan hati dan pikiran kita pun harus baik.  Dengan kekuatan sendiri tidak akan tercapai.  Itulah sebabnya kita butuh Roh Kudus.  Roh Kudus yang menguduskan dan memampukan kita agar hidup kita jadi berkat bagi orang lain, termasuk dalam hal perkataan kita.  Karena Roh Kudus ada dalam kita, maka Ia juga akan memberi peringatan dalam hati kita, kalau kita hendak mengutarakan sesuatu yang Allah tidak suka.  Pilihannya kemudian adalah ditangan kita: apakah mau mengikuti apa yang Roh Kudus nyatakan (peringatan-Nya) atau tetap saja berkata-kata seenaknya kita saja?  Jangan dukakan hati Allah, mari kita ikuti apa yang Ia mau.  Yang Allah mau adalah kita hidup penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sama seperti Kristus telah lakukan kepada kita. Amin. (CS)