QUIET TIME FOR A QUALITY LIFE

15 Apr, 2020

Saat-saat pribadi kita bersama dengan TUHAN, atau yang sering disebut sebagai saat teduh sangat berdampak terhadap kualitas kehidupan kita: cara kita menghadapi persoalan, respon kita terhadap situasi bahkan bagaimana kita mengambil keputusan dalam kehidupan. Ketiga hal ini sekalipun sangat sederhana dan seringkali diabaikan, sesungguhnya mempengaruhi kualitas hidup kita. Apakah kita menghidupi hidup yang penuh dengan damai sejahtera, ketenangan, sukacita, atau sebaliknya.

Mari tengok kembali bagaimana kehidupan Daud. Daud ini berbeda dari kakak-kakaknya yang rata-rata berperawakan dengan kualitas seorang prajurit, sedangkan Daud di usianya yang masih belia dan kemerah-merahan (1 Samuel 16:12) tentu belum dapat mengikuti jejak kakak-kakaknya. Sehingga yang Daud lakukan sebagai aktivitasnya sehari-hari adalah pergi ke ladang penggembalaan dan menggembalakan kambing domba yang dua tiga ekor (1 Sam 17:28), bahkan perbedaan itu membuat Daud tidak masuk dalam perhitungan ayahnya ketika nabi Samuel datang ke rumah Isai untuk mengurapi salah seorang anak Isai menjadi raja (1 Sam 16:11-12).

Perbedaan membuat pembedaan, pembedaan dalam perlakuan, perhatian dan kasih sayang. Mazmur Daud yang dituliskan dalam Mazmur 27:10, "sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku." mungkin saja merupakan ungkapan dari peristiwa nyata yang dialami oleh Daud, namun tidak membuat Daud menghabiskan waktu dengan meratapi keadaan, terlarut dalam mengasihani diri sendiri, sebab Daud merasakan kasih TUHAN yang jauh lebih besar, bahkan lebih besar daripada kasih yang dapat diberikan oleh orangtua.

Kesendirian Daud membawanya kepada saat-saat dimana dia bersekutu dengan TUHAN, sambil menggembalakan kambing domba di padang, Daud memainkan kecapinya (1 Sam 16:16-19), waktu yang teduh, waktu yang berkualitas bersama dengan TUHAN.

Selanjutnya, jika kita melihat bagaimana kehidupan Daud berikutnya, he is the rising star! Dimulai dengan mengalahkan Goliat, sebuah kemenangan yang sangat fenomenal mengingat latar belakang yang sangat berbeda antara Daud dengan Goliat baik dari sisi ukuran badan, profesionalitas keprajuritan, pengalaman bertempur dan senjata. Namun Daud mampu mengalahkan Goliat karena dia mengenal siapa TUHAN yang menyertainya dalam pertempuran.

"Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." Kata Saul kepada Daud: "Pergilah! TUHAN menyertai engkau." (1 Sam 17:37)

"Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu." (1 Sam 17:45)

Kemenangan melawan Goliat membawa Daud pada kemenangan-kemenangan yang berikutnya yang pada akhirnya menimbulkan kecemburuan Saul, setelah sekian waktu lamanya hidup dalam pelarian dari Saul, ayah mertuanya -sekalipun Daud memiliki kesempatan untuk membunuh Saul namun tidak dilakukannya- pada akhirnya Daud menjadi raja atas Yehuda kemudian atas seluruh Israel.

Peristiwa yang dicatat dalam 2 Samuel 5:17-25 memberikan kepada kita gambaran bagaimana Daud mengalami kemenangan dalam setiap peperangan yang dihadapinya, yakni dengan mengikuti perintah TUHAN secara tepat, tidak melakukan peperangan berdasarkan pengalaman dan kehebatannya sendiri melaikan mengikuti strategi yang diberikan TUHAN.

Salah satu yang dilakukan Daud, yang tidak terlupakan adalah bagaimana kerinduan Daud akan TUHAN mendorongnya untuk membawa kembali Tabut Allah kembali ke kotanya serta membentangkan sebuah kemah dan meletakan Tabut itu disana, sehingga setiap orang dapat berada dalam jarak yang sedekat mungkin dengan Tabut, yang tidak mungkin dilakukan dalam kemah suci. Dengan demikian Daud membawa bangsa Israel memiliki kedekatan, keintiman dengan TUHAN.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari kehidupan Daud adalah:
Jangan pernah meratapi situasi dan kondisi, jangan jatuh dalam mengasihani diri sendiri karena perbedaan dan pembedaan perlakuan dari orang lain. Sebaliknya gunakan hal tersebut sebagai motaivasi untuk mencari TUHAN dan memiliki quite time bersama dengan TUHAN.
Orang yang mendasari hidupnya dengan waktu yang berkualitas bersama TUHAN (quite time) akan memiliki hidup yang berkualitas.

"...Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku." (Kis 13:22). Maranatha! (DL)