SELALU ADA YESUS DI HIDUPKU

29 Jun, 2020

Shalom,
Perkenalkan nama saya Ruben Benyamin Gaspersz dari Rayon 5 Bekasi. Pada akhir bulan Maret 2020, tiba-tiba saja saya merasakan mual, dan pada saat itu saya hanya berpikir kalau sakit maag saya sedang kambuh. Memang sudah sejak lama saya memiliki riwayat sakit maag. Selain itu tenggorokan saya juga sakit, kalau menelan makanan seperti ada yang mengganjal dan hampir seminggu saya muntah terus. Nafsu makanpun hilang, kepala pusing, hampir sepanjang minggu itu saya tidak bisa tidur selalu gelisah dan pikiran menerawang ke mana-mana.

Setelah anak-anak menikah, saya hanya tinggal berdua dengan Decee Gaspersz istri tercinta. Kesehatan istri saya juga tidak begitu baik, kakinya sudah tidak kuat untuk berjalan, selain itu ia juga memiliki penyakit diabetes dan kolestrol tinggi. Mendengar dan mengetahui keadaan kesehatan saya yang kurang baik, apalagi hari-hari itu sedang merebaknya berita pandemi COVID-19, maka anak saya segera datang membawa saya berobat ke rumah sakit

Di IGD saya cek darah, dirontgen, tenggorokan, lidah semua diperiksa sampai akhirnya saya diinfus. Setelah dari pagi sampai menjelang sore saya berada di IGD, akhirnya setelah dokter melihat hasil pemeriksaan tersebut mengarah kepada gejala COVID-19. Akhirnya dokter memutuskan saya dirujuk ke rumah sakit yang khusus menangani kasus COVID-19.

Malam itu setelah dioper kesana kemari, melewati tahap-tahap pemeriksaan yang cukup panjang dan cukup melelahkan untuk keadaan kondisi dan usia saya saat itu; Puji Tuhan, menjelang tengah malam saya baru mendapatkan kamar dan bisa masuk ruang isolasi. Satu kamar yang saya tempati diisi oleh 6 orang pasien dengan gejala suspect COVID-19.

Tempat-tempat tidur kami hanya dibatasi dengan tirai kain, sehingga saya dapat melihat dan mendengar dengan jelas apa yang terjadi di ruangan itu. Meskipun saya satu kamar dengan beberapa orang yang dirawat, tetapi saya tidak dapat bersosialisasi dengan mereka. Terlebih selama saya berada di sana, saya putus kontak dengan keluarga karena baterai handphone saya lowbatt dan saya tidak membawa charger.

Sebagai seorang hamba Tuhan, dengan kondisi kesehatan yang sedang tidak baik dan tinggal dalam lingkungan di mana saya tidak dapat bertemu, mendengar dan berbicara dengan orang-orang yang saya kasihi, saya pun merasakan pergumulan; ada tekanan yang bergejolak dalam hati. Sampai pada titik tertentu saat itu saya hanya bisa pasrah kepada tim medis yang ada.

Intimidasi dan tekanan itu datang ketika saya melihat pasien yang di sebelah saya sudah ditutup kain dan begitu cepat dibawa pergi; entah kemana. Ada pula yang meracau, berhalusinasi. Situasi yang tidak enak saya rasakan ketika saya sedang makan tiba-tiba ada pasien yang muntah. Dalam kondisi maag saya saat itu, saya sulit mendapat air hangat dan makanan hangat. Dalam kesendirian saya, situasi dan kondisi yang sedemikian itu menimbulkan peperangan dalam hati.

Pada saat itu kehidupan iman kita dibangun hanya ketika kita meyadari bahwa ketika kita sedang seorang diri dalam kesesakan, di situlah kehadiran Tuhan kita rasakan. Sekalipun saya seorang hamba Tuhan, saat dalam kondisi seperti ini saya merasa diri saya tidak ada apa-apanya. Yang saya bisa saya lakukan saat itu hanya berharap kepada Tuhan. Sehingga saya terus berdoa kepada Tuhan Yesus "Tuhan Yesus ampunilah saya, tolonglah saya, Tuhan Yesus....' Itulah kalimat doa yang terus-menerus dan selalu saya ucapkan dalam setiap saat kepada Tuhan.
Dengan berlalunya waktu, iman sayapun mulai timbul. Saya bertekad untuk dapat melewati semua ini. Sampai akhirnya saya mulai pulih; semakin hari semakin sehat. Melihat perkembangan stamina tubuh saya yang semakin membaik dan sehat, maka setelah 7 hari diisolasi saya diperbolehkan pulang ke rumah, dengan syarat saya masih harus menjalani isolasi mandiri di rumah selama 14 hari. Setelah 17 hari kemudian hasil SWAB saya pun keluar dan hasilnya negatif COVID-19.

Namun Tuhan mempunyai rancangan yang lain untuk istri saya tercinta, pada hari ke-3 saya diisolasi, istri saya masuk ke ruang isolasi juga di rumah sakit yang sama, tetapi beda lantai. Tuhan lebih menyayangi istri saya. Tanggal 19 April 2020 Tuhan memanggil istri saya pulang ke rumah Bapa di sorga. Secara daging hati saya sedih sekali, tetapi satu hal yang saya tahu bahwa Tuhan tidak pernah merancangkan yang jahat bagi anak-Nya. Dokter mengatakan jika istri saya keluar dari isolasi dia akan mengalami gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah seminggu beberapa kali dalam seumur hidupnya. Selain itu istri saya memang sudah memiliki riwayat penyakit yang lain.

Keinginan kita untuk mengalami kesembuhan jauh berbeda dengan kehendak Tuhan dalam menyembuhkan. Seringkali kita hanya berpikir dari sisi fisik dan mental saja, sedangkan Tuhan lebih memikirkan kesembuhan total tubuh, jiwa dan roh, seperti yang tertulis dalam Filipi 4:6,

"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur."

Didalam segala sesuatu yang Tuhan ijinkan terjadi, saya percaya Tuhan selalu punya maksud dan rancangan yang baik. Sekalipun pada awalnya saya tidak mengerti, tetapi Tuhan selalu ada; menyertai dan memberikan kepada saya kekuatan untuk melewati semuanya. Akhirnya saya boleh sembuh dan sehat sampai hari ini itu juga karena Tuhan. Tuhan Yesus baik.

"Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita." Efesus 3:2