APAKAH KASIH KARUNIA DARI TUHAN ITU TIDAK BERSYARAT?

31 Jan, 2016

Hari-hari ini, kita melihat begitu banyak pengajaran yang berkembang, salah satunya pengajaran yang kita kenal dengan istilah ‘kasih karunia overdosis’ atau ‘hyper grace’. Ternyata pengajaran ini secara tidak kita sadari telah merasuki pikiran dan pemahaman dari banyak sekali anak Tuhan, termasuk juga pengkotbah-pengkotbah yang melayani di mimbar gereja di Ibadah Minggu. Pengajaran hyper grace ini memang sangat enak didengar oleh telinga; bahkan sampai bisa diterima oleh hati dan pikiran karena “kebenaran-kebenaran” yang disampaikan begitu sederhana dan sangat “menolong” bagi mereka yang hidupnya tidak mau susah atau tidak mau diajar untuk hidup dalam takut akan Tuhan dan hidup sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Kalau bisa ikut Tuhan dengan sesuka hati namun tetap diberkati dan masuk surga, pasti semua orang akan menyukai.

Salah satu pengajaran yang hyper grace ajarkan adalah Gereja yang mengajarkan Kasih Karunia dan  juga Hukum/Perintah-perintah TUHAN adalah gereja yang sesat. Gereja yang benar hanya boleh mengajarkan tentang Kasih Karunia. Ajaran hyper grace mengajarkan bahwa gereja tidak perlu lagi; bahkan tidak boleh lagi mengajarkan perintah-perintah Tuhan yang lain, seperti mengenai ketaatan, hidup dalam kekudusan, dan lain-lain, karena semuanya itu sudah diselesaikan oleh Tuhan Yesus.  Gereja hanya perlu mengajarkan apa yang sudah kita terima dalam Kristus yaitu Kasih Karunia yang sudah Dia berikan, sedangkan yang lain tidak perlu atau tidak berguna. Apakah benar demikian? TIDAK!! Cara pandang yang seperti ini sangat TIDAK Alkitabiah. Alkitab selalu mengajarkan bahwa ‘ada bagian Tuhan’ dan ‘ada bagian kita’, dalam kita membangun hubungan dan mengikut Tuhan.Alkitab senantiasa memberikan bukti bahwa dalam hal MEMBERI dan MENERIMA, selalu ada unsur ‘timbal balik’. Dalam bahasa Inggris hal ini dikenal dengan kata ‘reciprocal’ atau ‘reciprocity’.

Bagian Tuhan adalah memberikan kasih karunia supaya kita diselamatkan, sedangkan bagian kita adalah bertanggung jawab untuk membalasnya dengan ucapan syukur dan rasa terima kasih atas apa yang telah Tuhan lakukan bagi kita yaitu dengan menyerahkan hidup kita kepada-Nya dan mentaati perintah dan larangan-Nya. Jadi disini jelas dikatakan bahwa bukan hanya Tuhan yang bersikap aktif dengan memberi anugerah-Nya, tetapi kita juga yang menerima kasih karunia harus bersikap aktif dalam meresponi anugerah yang Tuhan berikan.

BUKTI-BUKTI DALAM ALKITAB
1. Surat Rasul Paulus Kepada Di Jemaat Efesus
Dalam surat Efesus kita membaca bagaimana Rasul Paulus mendorong jemaat di Efesus untuk:
• Menjadi peniru-peniru Allah (Efesus 5:1), bahasa Inggrisnya “imitators of God”.
• Hidup dalam kasih sebagaimana Kristus mengasihi dan mempersembahkan diri-Nya bagi mereka. (Efesus 5:1-2)
• Hidup sepadan dengan identitas sebagai ‘manusia baru’ yang diciptakan menyerupai Allah, Sang Pemberi Anugerah Agung. (Efesus 4:24)
Itulah hal yang semestinya dilakukan oleh jemaat dalam meresponi atau membalas anugerah agung yang telah diterimanya dari Allah.

2. Surat Rasul Paulus Kepada Jemaat Di Roma
Selain surat kepada jemaat di Efesus, kita juga bisa melihat konsep ‘timbal balik’ atau ‘reciprocal’ yang terdapat di dalam surat Paulus kepada jemaat di Roma.

Surat ini tampaknya juga mempunyai pola yang hampir sama dengan Surat Paulus kepada Jemaat di Efesus, yaitu:
a. Pasal 1-11 menggambarkan Allah sebagai pemberi anugerah keselamatan, baik kepada orang Yahudi maupun kepada orang non Yahudi.  Sebagaimana jemaat di Efesus, Jemaat di Roma pun tidak mungkin sanggup memberikan balasan yang setara terhadap anugerah Allah yang begitu besar.Namun, sebagaimana jemaat di Efesus, mereka pun diharapkan bisa meresponi pemberian anugerah keselamatan tersebut dengan menghidupi kehidupan yang mencerminkan karakter ilahi.
b. Pasal 12-16 berisi pesan untuk ‘meresponi’ anugerah / kasih karunia yang telah dicurahkan oleh Allah didalam Yesus Kristus.

• Dimulai dengan Roma 12:1-2:
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Perhatikan juga kalimat-kalimat dari Rasul Paulus menyiratkan pesan “meneladani” (imitating) Sang Pemberi Agung, misalnya:  
• “... kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” (Roma 13:14)
• “… Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri…” (Roma 15:2-3)
• “… Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.”  (Roma 15:7)

Jadi, kita bisa mengatakan bahwa konsep ‘reciprocity’ atau ‘timbal balik’ itu jelas-jelas ada dalam pembicaraan mengenai Anugerah Keselamatan dalam Kitab Roma.

3. Pengajaran Tuhan Yesus
Konsep ‘reciprocal’ atau ‘timbal balik’ ini dapat kita temukan di dalam pengajaran Yesus mengenai pengampunan (Matius 18:23-24).

Sebagai respon kita terhadap pertanyaan Petrus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (Matius 18:21)

Yesus lalu menceritakan perumpamaan tentang seorang hamba yang tak punya belas kasihan. Konteksnya secara kebetulan berbicara mengenai utang-piutang! Seorang Raja memberi pinjaman kepada hambanya sejumlah besar uang (10.000 talenta).Ketika tiba waktu membayar, hamba tersebut ternyata tidak mampu memenuhi kewajibannya.Apa yang dilakukan oleh Raja itu? Ternyata bukannya menjatuhkan hukuman, melainkan justru sebaliknya: raja itu menghapuskan semua hutang-hutang hambanya itu.

Dari kisah ini kita melihat sebuah gambaran tentang pemberian anugerah yang menakjubkan, yang diberikan oleh seorang raja kepada hambanya. Namun sayang ternyata apa yang dilakukan raja tersebut tidak menjadikan contoh bagi hamba ini. Perumpamaan ini berakhir tidak dengan happy ending! Karena hamba tersebut gagal untuk meneladani Sang Raja!

Karakter sang Raja tidak ada di dalam diri hambanya itu, bukannya menghapuskan utang dari rekan yang berhutang seratus dinar kepadanya, malahan sang hamba ini menjebloskan rekannya yang hanya berhutang sedikit kepadanya ke dalam penjara. Mendengar perlakuan yang tak berbelas kasihan dari hamba yang jahat ini, sang Raja menjadi marah.

Akhirnya raja membatalkan penghapusan hutang dari hamba itu dan menjebloskannya ke dalam penjara.Perumpamaan ini ditutup dengan sebuah pesan yang penuh dengan unsur reciprocity: “Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?”(Matius 18:33)

Quote:
“Bukankah engkau pun harus
mengasihani kawanmu
seperti aku telah
mengasihani engkau?”
(Matius 18:33)

Berhati-hatilah terhadap gereja, pengkotbah dan pengajar, yang hanya mengkotbahkan dan mengajarkan ‘all about grace’ tanpa mengajarkan dan menjelaskan tentang tanggung jawab yang harus dilakukan oleh kita sebagai penerima grace tersebut. Pengajaran yang tidak seimbang, berat sebelah, yang hanya melihat satu sisi saja tanpa memperhatikan sisi yang lainnya, ternyata akan berakibat FATAL!

Seorang Pengkotbah terkenal dan tokoh utama dari hyper grace movement, menulis: “When you receive completely what Jesus has done for you, your doing will flow effortlessly.” Artinya jelas, yaitu sebagai orang percaya kita tidak perlu melakukan usaha apapun juga (effortless) dalam perjalanan iman kita; kita harus menyerahkan semuanya kepada Tuhan, maka semua pasti beres! Jadi kita yang sudah menerima anugerah keselamatan; yang sudah dibenarkan oleh Allah, tidaklah perlu lagi untuk memuliakan Allah dengan hidup kita.

Hal ini bisa terjadi karena kita menjadikan Kasih Karunia Tuhan itu menjadi satu-satunya dasar dari segala pengajaran.Seperti istilah yang sering mereka gunakan ‘Radical Grace’.Disinilah letak adanya bahaya yang kita sebut ‘spiritualitas tanpa usaha’ (effortless spirituality). Hal ini sangat berpotensi untuk menyebabkan dan membentuk orang-orang Kristen yang malas dan masa bodoh secara rohani, dan pada akhirnya akan menghasilkan fruitless Christians (orang-orang Kristen yang tidak menghasilkan buah). ‘Berbuah’ itu penting karena ini adalah perintah langsung dari Tuhan Yesus ketika kita tinggal didalam Dia (Yohanes 15:8; Yohanes 15:16).


Tuhan memilih dan menyelamatkan kita supaya kita menghasilkan buah-buah kebenaran dan hidup memuliakan Tuhan.‘Timbal balik’ atau ‘reciprocal’ yang Tuhan minta adalah bahwa keselamatan tidak hanya kita terima begitu saja, tetapi kita harus bertanggung jawab atas keselamatan dan Kasih Karunia yang telah Tuhan anugerahkan. (MK)

Quote:
Yohanes 15:16
Bukan kamu yang memilih Aku,
Tetapi Akulah yang memilih kamu.
Dan Aku telah menetapkan kamu,
supaya kamu pergi dan menghasilkan buah
dan buahmu itu tetap,
supaya apa yang kamu minta
kepada Bapa dalam nama-Ku
diberikan-Nya kepadamu.