BAGI TUHAN TIDAK ADA YANG MUSTAHIL

Posted by Admin 2026-05-22

blog-post-image

“Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata:
"Penyakit itu tidak akan membawa kematian,
tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah,
sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan."

Yohanes 11:4 TB

Ayat di atas sungguh menjadi nyata dalam hidup saya. Nama saya Sherly Widjaja. Saya sudah menikah dan dikaruniai seorang putri yang cantik. Saat ini saya berjemaat di St. Moritz. CK 7. Saya ingin berbagi kisah dimana Tuhan sudah menolong saya dengan kebaikan-Nya dan memberikan saya kesembuhan.

Selama pandemi saya merasakan gejala seperti sakit maag, yaitu kembung, bersendawa dan mohon maaf mengeluarkan gas. Puncak daripada gejala itu berawal pada tanggal 10 Mei 2021, saya mengalami sakit perut. Ketika itu saya lemas dan sekujur tubuh saya berkeringat dingin. Bahkan bergerak saja susah. Jika malam hari saya hanya bisa duduk menahan rasa sakit dan selama beberapa hari saya tidak bisa tidur karena sakit.

Pada akhirnya saya putuskan untuk berobat ke dokter. Hasil dari pemeriksaan MRI ditemukan adanya tumor sebesar 7x12 cm  yang menempel di sisi usus besar. Saat mendengar hal ini saya pun kaget, karena tidak menyangka akan ada tumor. Rasa takut dan saya putus asa mulai menyelimuti saya.  Ketika esok harinya saya segera berkonsultasi  ke dokter dan dijadwalkan 2 hari kemudian untuk tindakan  Pet-CT scan. Hasilnya menyatakan bahwa saya mengidap kanker stadium 4 dan sudah menyebar ke bagian usus, lever dan juga rahim.

Saya mendengar kabar ini bagai petir di siang bolong. Merasakan ketakutan, kesedihan, dan kekhawatiran yang bercampur aduk menjadi satu. Mengapa saya harus mengalaminya? Apakah saya bisa sembuh? Apakah mujizat itu masih ada? 

Singkat cerita pada tanggal 30 Mei 2021, saya menjalani tindakan operasi besar yaitu operasi bedah digestif. Pemotongan usus  besar sepanjang 20-40 cm dan hasil sample  dari pada tumor diperiksa ke laboratorium selama 2 minggu. Hasilnya saya divonis kanker stadium 4 berjenis Liposarcoma.

Mendengar vonis dokter ketika saya sudah ada distadium akhir, saya putus ada dan bayang-bayang kematian yang selalu ada dipikiran saya. Saya memutuskan untuk bergabung dengan komunitas. Saya mendapat dukungan doa dari teman-teman pelayanan, yaitu dari : COOL (Community of Love), WOI (Woman Of Integrity) dan juga dari rekan-rekan pendoa dari gereja. Sungguh saya merasakan kehadiran dan dukungan dari mereka  menguatkan saya dan saya merasa saya tidak sendirian. Kata-kata penyemangat dari teman-teman membuat iman saya terus bangkit. Saya terus didukung dalam doa dan mereka tidak putus-putusnya mendoakan saya melalui video call atau pun whattsap call.

Awalnya saya bersikeras tidak mau kemoterapi,  karena saya berpikir apakah saya masih bisa hidup atau tidak. Apakah kemoterapi bisa membantu saya sembuh atau tidak. Tetapi dokter memaksa saya untuk segera menentukan tanggal kemo secepatnya, sebelum saya keluar dari ruang konsultasi. Saya berdebat dengan dokter karena saya mengatakan saya akan berdoa dulu dan setelah itu baru memutuskan apakah mau kemoterapi atau tidak. Dokter menjawab,

"Ibu boleh doa, siapa yang melarang? Tapi tolong tentukan tanggal kemoterapinya".

Akhirnya saya memutuskan tanggal untuk kemoterapinya. Suami saya minta untuk MRI ulang lagi. Saya membantah karena saya pikir belum lama sudah MRI dan Pet CT scan. Kenapa harus MRI lagi dan tumornya pun sudah dibuang. Saya berpikir masalahnya sudah selesai dan tinggal kemoterapi saja. Tetapi suami saya tetap meminta saya untuk MRI ulang. 

Dan benar saja, hasil MRI menunjukkan tumor yang sudah dipotong ternyata masih ada beberapa bagian yang tumbuh lagi, tumor yang kecil-kecil. Karena tumor ini sangat agresif maka saya diminta untuk segera melakukan kemoterapi. Akhirnya saya berdoa minta Tuhan tolong saya dan bantu sertai saya selama proses kemoterapi tersebut. 

Dokter mengatakan bahwa kanker yang saya alami termasuk  langka. Sekalipun saya menjalani kemoterapi, ini tidak tepat sasaran. Mendengar hal ini saya kembali down, putus asa. Saat itu yang terlintas dipikiran saya hanya ada kematian. 

Di awal kemoterapi pun saya mengalami puluhan kali diare, bahkan tidur pun tidak nyenyak.  Lemas, mual dan susah makan, mulut tidak enak dan tulang belakang sakit sekali. Belum lagi pernah demam, menggigil dan sempat tepapar COVID-19 juga.

Pada saat kemo ke-6, dokter mengatakan saya harus operasi lagi. Karena tujuan kemoterapi mengecilkan kanker dan setelah mengecil akan dipotong lewat operasi lagi. Tetapi pada kemo ke 5 saya mau menyerah, karena  tubuh sakit sekali. Namun Tuhan berbicara saat saya sedang penyembahan, Tuhan sendiri yang akan mengoperasi saya. Dan ketika selesai kemo ke-6, saat dokter bilang operasi, saya menolak. Karena Tuhan bilang, “tidak operasi”. Dokter mengatakan "Ibu mau ambil resikonya?" Saya jawab "iya". Sekali lagi dokter katakan "Ok. Kalau ibu mau ya kita lanjutkan sampai dengan kemotrapi ke-12".

Setelah selesai kemotrapi ke- 12, saya kembali Pet-CT scan untuk melihat apakah kanker masih ada atau tidak. Ketika hasil Pet-CT scan keluar, tidak ada lagi kanker di tubuh saya. Mendengar hal ini, saya ingin menangis, rasa bersyukur kepada Tuhan, bahwa janji Tuhan ya dan amin. Ketika Tuhan sudah mengatakan tidak usah operasi dan bagian saya adalah percaya penuh akan janji Tuhan dan Tuhan sudah menggenapinya.

Dokter menyarankan saya untuk maintenance saja supaya kanker benar-benar clear, sehingga saya harus menjalani 1 siklus lagi 12 kali kemotrapi. Karena saat kemotrapi itu saya pernah kena COVID-19 jadi tambah 2 kali kemoterapi. Jadi total 26 kali kemoterapi.

Selama menjalani proses kemoterapi sampai dengan ke 26 kali, Tuhan banyak mengajar  saya  tentang iman percaya. Ketika saya lemah, Tuhan seringkali berbicara lewat doa doa saya. Saya menjalankan kemotrapi ini sebagai proses dari Tuhan untuk semakin intim dan bersandar hanya kepada Dia. Karena Tuhan sudah berjanji penyakit ini tidak akan membawa kematian tetapi akan menyatakan kuasa kemuliaan-Nya. Nama Tuhan akan dimuliakan. Saya selalu perkatakan apa yang Tuhan telah janjikan. Karena kita ini anak , kita berhak menerima janji-janji Allah.

Setelah selesai kemoterapi pada bulan Mei 2022, Saya kembali melakukan  Pet-CT scan dan puji Tuhan hasilnya bersih. Bulan September 2022, kembali MRI diperut dan hasilnya bersih. Tidak ada kanker. Bulan Desember 2022, dilakukan Pet- CT scan hasilnya  tetap clear. Maret awal 2023 kembali dilakukan MRI hasilnya tetap clear. Tetapi ada kista di bagian lever ukurannya yang jauh mengecil, dan setelah kemoterapi bisa mengecil sendiri.

Dokter menjelaskan bahwa ini di luar dari prediksi. Oleh dokter hasil tindakan saya dibawa ke tumor board, yang akan dibahas pada rapat tim dokter di sebuah Rumah Sakit di daerah Semanggi. Puji Tuhan, tumor board menyatakan kondisi saya bagus dan aman.

Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus. Mujizat-Nya masih ada untuk saya. Saya percaya dalam semuanya ini adalah campur tangan Tuhan. Tuhan mengendalikan setiap tindakan yang dilakukan oleh dokter dengan cara-Nya yang ajaib. Saya hanya belajar berserah, percaya dan sungguh-sungguh melakukan bagian saya. Saya diberi umur yang panjang dan tubuh yang sehat karena Tuhan Yesus yang sangat dahsyat. Biar segala kemuliaan hanya bagi Dia. Dan biarlah kesaksian ini bisa memberkati kita semua. Kalau saya bisa sembuh, pasti setiap orang percaya akan menerima kesembuhan juga. Terimakasih dan Tuhan Yesus memberkati.