MUJIZAT TUHAN ADA BAGI YANG SETIA DAN PERCAYA

Posted by Admin 2026-05-22

blog-post-image

"karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya,
dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.
Sebab, Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya,
dan mencambuk orang yang diterima-Nya sebagai anak."

Ibrani 12:6 TB


Perkenalkan nama saya Lince, pernikahan saya dengan King King Candra  telah dikarunia dengan dua orang anak; putra dan putri. Dalam kesempatan ini saya ingin bersaksi akan kebaikan Tuhan yang telah Tuhan kerjakan bagi suami saya.

Pada tanggal 20 Desember 2022 saat berada di kantor,  tiba tiba perut bagian kanan suami saya terasa  sakit. Segera dia ke toilet, karena pikirnya akan membaik setelah buang air besar. Namun rasa sakit perutnya semakin menjadi, tubuhnya menjadi lemas  bahkan dia sampai berjalan membungkuk menahan sakitnya. Sampai-sampai teman kantornya harus membantunya keluar dari kamar mandi dengan memapahnya. Akhirnya suami saya diijinkan pulang oleh atasannya untuk dapat beristirahat dan pergi berobat.

Karena jarak rumah kami di Tangerang  jauh dari tempat kerja suami  yang di Bekasi, maka  dia pulang ke kostnya.  Sesampai di kost,  suami saya sempat berpikir bagaimana cara dia harus berobat, sedangkan di BPJS masih terdapat tunggakan 12 juta. Akhirnya dia memberanikan diri untuk mengajukan  pinjaman  dari  kantor.

Namun kantor tidak langsung memberikan pinjaman tersebut, bahkan diarahkan untuk menggunakan JKS saja. Jujur saat itu, suami saya merasa hampir putus asa. Untuk  menahan rasa sakitnya, dia sampai harus meminum obat warung. Keadaannya semakin tidak membaik, bahkan malam itu ketika sedang buang air kecil dia mengeluarkan darah.

Dengan paniknya suami langsung menghubungi saya dan menceritakan keadaannya. Mendengar hal itu sebagai seorang istri saya sangat sedih dan takut. Kami juga tidak ada biaya untuk  berobat ke dokter.  Segera saya menghubungi mama mertua dan sambil menangis saya menceritakan keadaan suami kepada mama. Puji Tuhan, beliau bersedia membantu biayanya.

Keesokan paginya, mama mertua meminta adik ipar untuk mengantar saya ke kost suami di Bekasi, untuk menjemputnya berobat ke dokter. Saya melihat keadaannya sudah sangat lemah, tubuhnya keluar  keringat dingin dengan wajah yang  pucat dan jalannya juga sudah membungkuk. Puji Tuhan, Tuhan tidak pernah terlambat menolong kami, akhirnya kami tidak jadi dibantu oleh mama karena kantor akhirnya memberikan pinjaman, sehingga kami dapat membayar tunggakan BPJS.

Setibanya  kami di RS, dokter jaga mengatakan bahwa ruangan IGD sudah penuh. Saya sempat berpikir bagaimana bila waktu menunggunya lama, saya khawatir dan takut akan keselamatan suami saya yang kelihatan kondisinya sudah kritis. Saya berdoa dalam hati memohon pertolongan Tuhan agar ia dapat  segera ditangani.  Saya kembali ke ruangan IGD dan menanyakan apakah sudah ada ruangan yang kosong, atau paling tidak dapat segera  diperiksa dahulu karena saya sangat mengkhawatirkan keadaannya.

Beberapa saat kemudian, akhirnya  suami saya dapat ditangani dokter. Saya langsung mengurus surat administrasi. Dokter jaga mengatakan bahwa leukosit suami saya sangat tinggi mencapai 44 ribu, sedangkan normalnya  12 ribu. Dokter sampai terheran-heran, harusnya suami saya sudah tidak sadarkan diri.

Saya percaya bahwa ini semua karena campur tangan Tuhan. Dialah yang menyertai suami saya hingga saat ini. Sesaat itu saya dapat menyaksikan suami saya begitu kesakitan ketika selang di masukan ke dalam hidungnya.  Saya tidak tega melihatnya dan kasihan karena selama ini dia belum pernah mengalami seperti ini, paling hanya sakit  masuk angin biasa, tidak enak badan dan maag yang kambuh.  

Setelah dokter melakukan pemeriksaan, rontgen, cek darah dan rekam jantung, akhirnya dokter  mengatakan harus  rawat inap. Karena hasil diagnosanya, suani mengalami usus buntu kritis maka tindakan operasi akan dilakukan pada esok harinya.

Tanggal 21 Desember  2022,  dokter bedah datang dan melihat hasil rontgennya. Dokter mengatakan harus segera dilakukan operasi. Kami berdoa memohon pengampunan Tuhan, agar Tuhan ambil alih dan meminta penyertaan  campur tangan Tuhan agar yang terbaik dapat terjadi.

Selesai berdoa, suami masuk ke ruang operasi, saya menunggu dengan cemas selama beberapa jam.  Sebagai manusia saya mulai merasa khawatir, kenapa belum selesai operasinya? Setelah menunggu hingga 3 jam, akhirnya saya mendengar panggilan untuk keluarga suami. Dokter yang memanggil mempersilahkan saya untuk masuk ke ruang operasi dan menjelaskan bahwa usus buntu suami saya sudah pecah, pihak dokter sudah melakukan  semaksimal mungkin, kondisinya  sudah menyebar ke organ tubuh lainnya. Bagian usus sudah ada abses (banyak nanah diusus kecilnya),  namun tidak sampai dipotong. Diperkirakan sudah pecah selama  5 hari.

Saya hanya dapat  menahan air mata dan berseru kepada Tuhan memohon pertolongan-Nya. Kemudian saya bertanya, “Sekarang bagaimana dok, apakah setelah operasi keadaan suami saya akan membaik?”  Dokter tidak menjawab, hanya merekomendasikan agar dapat di rawat di ICU, karena napasnya agak tersengal sedikit, jadi harus dirawat dengan lebih intensif. Kondisnya belum siuman, saya begitu takut.

Begitu banyak kekhawatiran serta bayangan ketakutan yang terlintas. Apabila sampai terjadi sesuatu yang membahayakan suami, bagaimana dengan kehidupan saya dan anak-anak.Tetapi Roh Kudus  mengingatkan saya untuk tetap berdoa dan berkata suami saya dalam keadaan baik-baik saja.

Keesokan harinya, saya melihat dia sudah siuman dan dapat mengenali saya, hanya karena mulutnya terdapat  selang sehingga suaranya  tidak jelas. Saya bisikan ke telinganya:  “Papi pasti sembuh,  ada anak-anak papi yang sedang menunggu dan Tuhan pasti tolong.” Ia mengangguk  sambil mengeluarkan  air mata. Setelah dua hari kemudian, akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap.  Puji Tuhan, Tuhan sungguh baik. Selesai operasi dia hanya diijinkan minum  1 sendok setiap 1 jam sekali.

Karena saya mengikuti saran dari dokter untuk tidak memberikanya minum, kami sempat bersitegang karena ia sempat marah karena permintaannya tidak dituruti. Setelah satu hari, akhirnya diperbolehkan untuk minum setengah gelas,  dan setiap harinya dapat lebih banyak lagi. Untuk ke kamar kecil juga dia dapat sendiri, tetapi untuk buang air besar masih takut sampai  menangis.

Kami masuk ke dalam kamar kecil bersama-sama dan berdoa, bila Tuhan sudah menolong menyertai saat operasi, kami percaya Tuhan juga  pasti menolong untuk dapat buang air besar. Puji Tuhan, Tuhan menjawab doa kami akhirnya suami  dapat buang air besar.

Setelah 5 hari di RS,  dia diijinkan pulang, namun selang dua hari napasnya kembali sesak, dan harus kembali di rawat selama satu minggu untuk terapi uap sampai kondisinya baik. Kemudian saya melihat perut suami saya timbul abses (nanah). Saya pun segera membawa suami berobat ke RS, tetapi karena kami menggunakan BPJS, antriannya sangat  lama. Saya melihat nanah yang keluar semakin banyak. Saya sangat takut, ketika dokter mengatakan harus kembali di operasi. Padahal sebelumnya suami saya sudah dinyatakan baik.

Di sini suami  saya mulai merasa kecewa, mengapa  harus terulang lagi. Ia merasakan takut dan khawatir. Saat dokter mengambil sample darah, suami menanyakan apakah dia harus melakukan operasi kembali? Saya menenangkannya dengan mengatakan bahwa dokter hanya akan melakukan operasi kecil saja untuk nanah yang keluar, padahal dalam hati sayapun merasa takut. Namun sebagai seorang istri saya harus terus menguatkan sekalipun sebagai manusia saya sering khawatir.

Saya  hanya dapat berserah dan berdoa kepada Tuhan. Saya percaya bahwa Tuhanlah yang menolong. Dialah Allah yang menyembuhkan dengan sempurna, sekalipun ini adalah  operasi yang ke dua.  

Saat malam sebelum operasi tiba-tiba nanah yang ada diperutnya muncrat seperti air mancur. Saya terkejut,  sampai bertanya: ‘Apa lagi ini Tuhan?’ Saya minta bantuan perawat, namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Akhirnya mereka menghubungi dokter bedah.

Saya terus berdoa kepada Tuhan, sambil terus menguatkan suami: “Kamu akan baik-baik saja, pasti sembuh.” Tindakan operasi akan dilakukan pada pukul 10 pagi. Setelah abses (nanah) selesai dibersihkan, lalu  dipasang selang dibagian kanan dan kiri perut agar abses dapat  keluar melalui kantong stoma.

Dalam keadaan itu, Tuhan ijinkan kami untuk bertemu dengan anak Tuhan yang kebetulan juga di rawat satu ruangan dengan suami. Kami memuji dan menyembah Tuhan dengan sungguh. Tanpa sengaja ia memutar firman Tuhan dari Youtube dan hamba Tuhan nya sedang mengatakan:  “Saya merasakan ada seseorang yang sakit dibagian perutnya, Tuhan ingin jamah, Tuhan pasti sembuhkan.” Kata-kata itu telah membangkitkan iman kami dan apa yang dikatakan hamba Tuhan itu sama persis dengan apa yang suami saya alami. Saya percaya ini bukan suatu kebetulan.  Hamba Tuhan tersebut selanjutnya berkata:  "Setiap rasa kecewa,  kesal, dari semuanya ini Tuhan ingin membentuk Anda  dan ingin  memperbaharui."

Mendengar kata-kata itu saya dan suami menangis sejadi-jadinya, memohon pengampunan kepada Tuhan dan memohon kesembuhan terjadi dengan sempurna. Saya berdoa agar Tuhan dapat menyembuhkan suami saya agar Tuhan boleh pakai suami saya bagi kemuliaan-Nya.

Malam itu ketika kami sharing, kami kembali digerakan untuk menyembah Tuhan bersama-sama dalam ruangan itu. Kami memohon pengampunan dari  Tuhan,  sungguh  kami rasakan hadirat-Nya yang begitu indah, sampai tidak ingin  berhenti rasanya.

Tuhan Yesus baik, mujizat-Nya pasti terjadi orang-orang yang mengandalkan Dia, yang percaya dan berserah kepada-Nya. Tidak terasa 9 hari berlalu, akhirnya suami diperbolehkan pulang. Pesan dari dokter setiap hari kantung stoma harus dibersihkan.

Saya  mengantar suami untuk kontrol setiap minggunya,  sampai abses   mengering. Kantong stoma   boleh dilepas walau belum kering benar, karena selang  stoma jika terlalu lama diperut, dikhawatirkan akan mengakibatkan infeksi, jadi terpaksa harus dilepas sekalipun masih ada sedkit cairan.

Setelah beberapa minggu suami melihat pusernya terlihat kekuningan seperti abses. Kami pun menghubungi dokter. Setelah check up dan rontgen, ternyata terdapat abses kembali.   Akan tetapi kali ini hanya di luar perut, bukan  di bagian dalam, sehingga hanya dilakukan operasi kecil saja.   

Kami berdoa agar operasi yang ketiga  ini berjalan lancar. Kami  tetap berserah dan berharap penuh kepada Tuhan memohon  tuntunan Roh Kudus. Jujur saat itu saya agak sedih; kenapa Tuhan mengijinkan sampai terjadi operasi ke 3 kalinya, namun saya seperti mendengar suara yang mengatakan bahwa semua akan baik baik saja. Hati saya kembali tenang, operasi berjalan dengan lancar selama setengah jam dan suami saya dalam  keadaan sehat.

Puji Tuhan, melalui situasi ini kami semakin hari semakin dekat dengan Tuhan. Setiap pagi kami mulai dengan mezbah doa, saat teduh, seperti yang kami lakukan ketika waktu di RS. Kami selalu berdoa bersama-sama setiap pagi. Saya percaya Tuhan ijinkan melalui  penyakit suami,  membuat hubungan kami dengan Tuhan diperbaiki, kami semakin dekat dan mengasihi Tuhan, hingga setelah  kami pulang suami saya terus menyaksikan kebaikan Tuhan kepada setiap teman-temannya.

Segala sesuatu yang Tuhan ijinkan terjadi, Tuhan  pasti punya sesuatu yang baik untuk suami saya. Tuhan ubahkan dia yang tadinya  suka  emosi dan marah-marah kini menjadi sosok yang sabar dan  lembut. Bahkan ketika perutnya saya pikir sudah baik-baik saja, masih terlihat seperti nampak ada nanah kecil. Namun kali ini respon kami berbeda, kami tidak lagi merasa takut, karena kami tahu bahwa Tuhan telah menyembuhkan. Haleluya, Amin.