PERLINDUNGAN TUHAN YANG SEMPURNA

Posted by Admin 2026-05-22

blog-post-image

"Tetapi kepada kamu,
yang mendengarkan Aku, Aku berkata:
Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;”

Lukas 5:27 TB

Perkenalkan nama saya Nearchus Bonaparte biasa dipanggil Boy, saya melayani sebagai multimedia di GBI Radin Inten – Rayon 1D. Dalam kesempatan ini, saya ingin menyaksikan kebaikan Tuhan, yang telah saya alami disetiap musim-Nya. Pernikahan saya dengan Fronika, dikaruniai dengan sepasang anak putra dan putri, Christopher yang sulung sedang kuliah dan Clairine yang bungsu baru lulus SMA.

Masa pandemi COVID-19 tahun 2020-2022, kami sekeluarga menjalani kegiatan di rumah secara “online”. Sebagai seorang bapak, saya akui komunikasi dengan Clairine putri kami tergolong normatif, tidak ada komunikasi mengenai kegiatan ataupun kehidupan pribadinya, intinya hanya sekedarnya saja.  Clairine lebih terbuka dengan mamanya dan cenderung lebih pendiam dan tertutup.

Suatu hari bulan Juni 2022, dia berkata ”pa, saya  mau berbicara”.  Saya sedikit terkejut, karena tidak biasanya dia mau berbicara kepada saya. Dalam hati saya berpikir, ”wah, ada apa ini?” pasti ada yang  serius yang ingin disampaikan.

Clairine mulai bercerita, bahwa selama pandemi ia berkenalan dengan seorang pria seusianya melalui group game online, yang terdiri dari anak-anak SMA atau pun yang baru lulus. Hampir setiap hari bermain game online untuk mengisi waktu luang.

Kenalannya itu tinggal di daerah Jawa Tengah dan mulai menaruh hati kepada putri kami. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk “berpacaran” secara online dan belum pernah bertatap muka secara langsung. Namun dengan berjalannya waktu, anak saya pun menyadari bahwa ada prinsip yang tidak disukai, juga perbedaan keyakinan.

Sampai akhirnya putri kami ingin mengakhiri status hubungan mereka menjadi pertemanan biasa saja. Namun pria tersebut menolak dan memaksakan tetap berlanjut.

Pada bulan Juli 2022, group game online mengadakan pertemuan anggota sekaligus rekreasi di Jakarta. Hari itu mereka bertemu pertama kalinya dan mereka berlima berekreasi keliling Jakarta.

Saat itu putri kami kembali menegaskan bahwa hubungan spesial mereka tetap tidak bisa dilanjutkan, namun ia tetap menolak bahkan sampai menangis memaksa melanjutkan hubungan tersebut. Setelah kejadian itu, ia mulai menunjukkan sikap yang aneh. Mulai tidak segan-segan mengancam putri kami dengan menghabisi nyawanya, termasuk keluarganya melalui pesan WA, yang dikirim ke media sosial atau ke group.

Ayah pria itu menyampaikan bahwa sikap putra sulungnya berubah menjadi seorang pemurung, bahkan sering mengurung dirinya di dalam kamar serta mudah sekali emosi. Psikisnya terganggu sejak ditinggal ibu kandungnya 2 tahun yang lalu. Memang ayahnya telah menikah kembali, namun tidak ada masalah dalam keluarga bahkan ibu tirinya pun sudah menganggapnya anak sendiri dan memperlakukan dengan baik. Kejadian dengan Clairine tersebut memperburuk beban mentalnya.

Selesai mendengarkan cerita ini, terus terang saya tidak berpikiran negatif, tidak ada rasa kuatir dan takut. Bagi anak-anak yang baru mulai beranjak dewasa wajarlah jika mereka masih suka terbawa dalam alam pikiran dan emosi mereka.

Sampai tanggal 1 Agustus 2022, putri kami mengatakan bahwa pria itu kembali mengancam, bahkan kali ini dia mengatakan  akan bunuh diri.  Tapi sebelumnya dia akan terlebih dahulu menghabisi nyawa kami semua, ancaman ini disertai dengan mengirimkan foto 2 buah pedang samurai, 1 buah kampak dan 1 buah pisau lipat serta 2 kotak kardus yang masing-masing memiliki sumbu.

Saya tetap tidak takut karena bisa saja gambar tersebut diambil dari hasil editan. Putri kami mengatakan bahwa teman prianya sampai larut malam tidak pulang ke rumah sejak berpamitan untuk pergi sekolah. Bahkan ayahnya sendiri mencarinya dan  menanyakan keberadaannya kepada putri kami. Dan menurut teman-temannya, dia  pergi ke Jakarta untuk keperluan tertentu.

Kamis, 4 Agustus 2022, saat Clairine  sedang mengikuti kursus. Ia mendapat kabar bahwa pria itu sudah berada dekat rumah kami.  Hal tersebut diketahui dari google maps yang mendeteksi keberadaannya. Saya mulai merasa yakin bahwa ancamannya bukan main-main.

Saya berusaha untuk tetap tenang. Saat pagi hari waktu saat teduh, saya berdoa memohon perlindungan dan kuasa darah Yesus atas keluarga kami. Sebagai manusia mulai timbul rasa takut dan kuatir. Hati saya mulai marah karena ada orang lain yang berani mengusik ketentraman keluarga kami.

Dengan memberanikan diri, saya menunggu anak itu datang. Saya memperlengkapi diri dengan sebuah linggis. Dari jauh saya melihat seorang anak memakai seragam sekolah menghampiri rumah kami dan tatapannya lurus ke arah saya.

Kemudian anak itu berhenti sekitar 1 meter. Saya tetap berdiri di depan pintu pagar yang tertutup sambil memegang linggis, yang memang tidak terlihat dari luar. Saya menatapnya dan bertanya, ”kamu mau apa?”. Anak itu tidak menjawab, kemudian saya ulangi pertanyaan saya,” kamu mau apa?”.

Tiba-tiba anak itu bergetar dan mulai menangis, dia hanya mengeleng-gelengkan kepalanya. Saya tanya lagi ”kamu kenapa?”, dia tidak menjawab, tubuhnya semakin gemetar seraya terus menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba timbul perasaan iba, yang awalnya amarah menjadi perasaan kasihan.

Kemudian saya katakan”kalau kamu mau bicara dengan saya, letakan ransel kamu di tanah!”.  Ia pun menurutinya, kemudian kata saya lagi, ”sekarang keluarkan semua isi kantong jaket dan celana kamu!”. Tanpa berpikir panjang ia pun segera merogoh isi kantongnya. Dikeluarkan pisau lipat dan 2 cairan dalam kemasan botol bekas obat.

Saya tanya lagi ”masih ada yang kamu simpan?”, anak itu menggelengkan kepalanya. Setelah itu saya buka pintu dan menyuruhnya masuk di pekarangan rumah. Anak itupun masuk namun tubuhya gemetar semakin kuat dan terus menangis. “Kamu kenapa?” tanya saya, anak itu menggelengkan kepalanya dan menangis. Ia menjawab dengan lirih ”saya tidak tahu, saya minta maaf”.

Rasa iba saya semakin besar.  Ketika itu saya melihat di dalam tas ranselnya ada botol air mineral yang isinya tinggal separuh, lalu saya mengambilnya dan memberikannya untuk diminum.

Namun ada sedikit keanehan, anak itu tidak langsung meminumnya, ia kelihatan ragu untuk minum air tersebut, tapi akhirnya diminum  juga. Pada saat itu datanglah petugas kemananan  bersama dengan kedua anak  saya.  Saat itu kondisi anak tersebut terlihat semakin lemas dan terduduk di lantai. Tiba-tiba ia  muntah. Petugas keamanan bertanya  “kamu kenapa?”, dengan lirih anak itu berkata,  ”saya habis minum racun”.

Sontak saya yang mendengarnya kaget setengah mati “ya Tuhan kenapa sampai begini,  jangan sampai dia meninggal”. “Racun apa, di mana racunnya?” seru petugas keamanan sambil mengambil 2 botol kemasan obat yang tadi dikeluarkan anak itu. ”Ini  racunnya?” tanya petugas kemanan . “Bukan itu air keras” jawab anak itu dengan lirih.

Saya sangat terkejut, yang saya tahu, anak ini sudah mengancam keluarga saya dengan samurai, pisau, kapak bahkan bom rakitan.  Semuanya itu mungkin bisa saya antisipasi dengan tidak membuka pintu pagar.  

Namun yang tidak dapat saya antisipasi adalah air keras tersebut. Kalau bukan karena perlindungan Tuhan, bisa saja ia menyiram ke wajah saya. Saya tidak dapat membayangkan sungguh Mazmur 91 berlaku atas setiap kita, yang membetengi dan melindungi setiap orang  yang selalu mengandalkan Tuhan, seperti yang sering disampaikan oleh  Gembala Senior Pdt. Niko Njotorahardjo .

 Kondisi anak itu semakin lemah dan muntah-muntah. Saya menduga cairan racun yang diminumnya berasal dari botol air mineral yang saya berikan. Tanpa berpikir panjang, kami mencari pertolongan pertama untuk menyelamatkan anak itu. Kami menuju puskesmas terdekat. Selama dalam perjalanan tidak henti-hentinya saya memantau kondisi anak tersebut begitu melihatnya masih bernapas, saya sedikit lega, berarti masih hidup.

Namun puskesmas menolak karena peralatan yang terbatas dan disarankan ke Rumah Sakit lain. Saya terus berdoa dan Puji Tuhan, kami melalui jalan kecil untuk menghindari kemacetan.  

Segera anak tersebut ditangani oleh tim medis, perawat meminta saya membeli susu untuk diberikan kepada anak itu, sehabis dilakukan tindakan pemompaan.  Laporan dari perawat, mereka mengalami kesulitan dalam memasukan selang lewat hidung anak itu, karena dia terus berontak sambil berteriak kesakitan.

Herannya waktu saya mendekati anak itu, ia dengan tenang melihat dan berkata “saya minta maaf, maafkan saya”. Saya menjawab “saya maafkan asal kamu jangan berontak ya, kamu harus tahan”.

Tiga orang perawat mencoba memasukan kembali selang untuk pemompaan, mengeluarkan  racun dari anak itu. Dibantu oleh beberapa orang  menahan tubuhnya supaya tidak berontak.  Namun anak itu kembali berontak  sambil berteriak kesakitan. Saya tidak tega melihat penderitaannya,  saya bedoa dan berbahasa roh dengan keras.

Puji Tuhan, usaha kami berhasil selang dapat dimasukan dan anak itu memuntahkan cairan kekuningan yang cukup banyak. Dokter kembali memeriksa kondisi anak itu dan mengatakan bahwa kondisinya sudah mulai stabil dan pupil matanya sudah normal kembali.

Kembali saya menghampiri anak itu untuk berpamitan pulang karena sudah ada pamannya yang datang menemaninya. Dia memandang saya dan kembali menyampaikan permohonan maafnya kepada saya dan keluarga. Saya berkata kepadanya bahwa   kami sudah maafkannya.

Singkat cerita, Jumat 5 Agustus, ayah  anak itu menghubungi saya ingin bertemu.  Kami bertemu di Rumah Sakit, kemudian  saya minta agar  bisa melihat kondisi anak tersebut.

Kondisinya jauh lebih baik. Begitu dia melihat saya, ia kembali memohon maaf atas apa yang sudah diperbuatnya. Saya katakan, ”mungkin jauh lebih baik kamu memohon ampun kepada Tuhan, karena kamu sempat menolak anugerah kehidupan yang diberikan oleh-Nya".

Lalu saya bertanya, “boleh saya berdoa untuk anak ini?”. Pamannya  berkata,”Silahkan pak, kami sangat berterima kasih”. “tetapi saya akan berdoa menurut keyakinan saya, saya orang Kristen".  “tidak masalah pak, silahkan”,  jawabnya.

Saya menumpangkan tangan di kepala anak itu dan berdoa dengan dengan suara yang cukup keras, berdoa untuk kesembuhannya, untuk keluarganya dan untuk masa depannya dan saya tutup di dalam Nama Yesus Kristus, Isa Almasih Anak Allah yang hidup, amin.

Setelah dua hari  dirawat, dia pulang ke daerahnya. Saya mendapat kabar dari putri saya melalui teman satu groupnya,  bahwa anak tersebut ingin berjumpa lagi dengan saya karena terkesan dengan perlakuan saya kepadanya. Saya percaya itu bukan karena kuat dan gagah saya, tapi karena kasih Yesus yang mengalir dan kuasa pengampunan dari Roh Kudus yang mengubah amarah menjadi Kasih.

Ada tertulis dalam Firman Tuhan bahwa jika kita berlaku baik pada orang yang baik pada kita, apa kelebihannya?,  orang  jahat pun dapat berlaku baik pada orang yang berlaku baik padanya. Tuhan Yesus mengajarkan untuk dapat  mengasihilah musuhmu, obati dia jika dia sakit, beri makan jika dia lapar, beri selimut jika dia kedinginan. Berkati dia yang mengutuk kamu, maka kita semua pantas untuk disebut anak- anak Allah yang maha tinggi, karena kita serupa dengan Yesus Kristus Tuhan kita.

Saya teringat beberapa minggu sebelum kejadian tersebut saya pernah berdoa pada waktu saya  saat teduh, bahwa saya rindu untuk memenangkan jiwa. Tuhan menjawab doa saya  dengan. Dia membawa saya pada satu pengalaman rohani bersama Tuhan dengan kejadian itu. Saya memang tidak tahu apakah anak itu bertobat tetapi saya percaya dan telah menyaksikan kemurahan Tuhan bagi orang yang belum mengenal Tuhan Yesus secara pribadi, itu jauh lebih cukup bagi saya.

Biarlah Tuhan yang bekerja dengan cara-Nya, saya hanyalah rekan sekerja Allah, Terpujilah Tuhan Yesus Kristus yang bekerja dengan ajaib menjaga kita dan menjadikan kita biji mata-Nya dari sekarang sampai selama-lamanya. Amin .