HIDUP KUDUS SEBAGAI SENJATA & ALAT KESAKSIAN

Posted by Admin 2026-10-16

blog-post-image

HIDUP KUDUS SEBAGAI SENJATA & ALAT KESAKSIAN

1 Petrus 3:13-16

 

Kita telah belajar selama beberapa minggu ini bahwa godaan dan pencobaan duniawi adalah realita yang selalu akan ada selama kita hidup di dunia. Oleh karena itu, keputusan kita dalam menghadapinya menjadi sesuatu yang penting untuk kita perhatikan karena kualitas hidup kita merupakan konsekuensi dari keputusan-keputusan yang kita ambil.

Kita juga telah belajar bahwa kita membutuhkan Roh Kudus untuk memampukan kita melawan godaan-godaan duniawi. Tanpa Allah Roh Kudus menuntun dan memberi kekuatan, kita tidak memiliki kemampuan untuk melawan godaan-godaan duniawi tersebu secara tuntas.

Minggu ini kita akan belajar bahwa hidup kudus adalah senjata yang ampuh untuk menangkis godaan duniawi sehingga kita tidak terjatuh mengikutinya, dan juga sebagai alat kesaksian bagaimana Allah bekerja di dalam kita, mengasihi kita dan melindungi kita.

 

Minggu ini, kita akan belajar dari firman Tuhan dengan cara yang sedikit berbeda. Daripada memberikan satu point per teks yang kita baca, kita akan melakukan penggalian (‘eksegesis’) sederhana dari setiap teks. Bacalah 1 Petrus 3:13-16 bersama-sama.

Rasul Petrus menulis dalam surat ini, khususnya di pasal 3 mengenai menjalani hidup sebagai orang Kristen di keluarga, bagaimana bertingkah laku dan bersiap menderita justru karena menjalankan kebenaran firman. Dalam keempat ayat yang kita baca, kita menemukan banyak prinsip kunci dan beberapa tension (tekanan dua arah yang sepertinya berlawanan, tetapi sebenarnya tidak).

Ayat 13 - Petrus mengajar bahwa dalam keadaan normal, semakin kita rajin berbuat baik, termasuk berkelakukan kudus, maka orangpun akan baik kepada kita. Seharusnya tidak ada yang mau melakukan hal yang jahat kepada orang lain yang rajin berbuat kebaikan. Ini adalah semua norma yang berlaku.

Ayat 14 - Namun, Petrus juga mengajar bahwa realita hidup adalah, ketika orang Kristen menjalani hidup dengan baik dan berdasarkan kebenaran firman, mereka tetap bisa mengalami penderitaan justru karena hidup benar dan kudus. Ada tension antara ayat 13 dan 14.


Jika kita mengingat kembali materi-materi sharing kita sebelumnya: dunia akan selalu mencoba untuk menarik kita melakukan apa yang umumnya dunia lakukan sekalipun itu bertentangan dengan firman. Justru kita menolak untuk melakukan godaan itulah, maka orang balik menyerang.

Contoh situasi: di sebuah kantor A adalah kebiasaan untuk mengeluarkan kwitansi yang angka uang tertulis berbeda dengan uang yang dikeluarkan. Ibu Kris, seorang Kristen yang dipenuhi Roh Kudus, menolak mengikuti kebiasaan itu, karena jelas tidak sesuai dengan kekudusan yang Allah tetapkan. Akibatnya? Ibu Kris justru di-bully, dicaci dan dicerca sebagai “sok suci” oleh rekan-rekannya, padahal mereka sendiri tahu bahwa Ibu Kris tidak melakukan kesalahan.

Itulah sebabnya Petrus mengatakan, “kamu akan berbahagia” karena justru dengan perlawanan itu, kita mengetahui kita telah menang melawan godaan ataupun serangan duniawi. Perlawanan karena kita menolak godaan, sekalipun berakibat ‘penderitaan’ namun jangan kita terima sebagai luka, tetapi justru sebagai suatu sukacita dan kebahagiaan karena artinya itu merupakan konfirmasi bahwa apa yang kita lakukan adalah benar.  Sebab itu, jangan justru perlawanan itu membuat kita takut dan gentar, namun sebaliknya makin teguh untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan Tuhan.

 

Ayat 15 - Petrus mengajar, “Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!” Tentu ini bukan artinya Kristus tidak kudus sehingga harus dikuduskan; itu adalah pengertian yang keliru. ‘Kuduskanlah Kristus’ disini artinya memberikan tempat dan kehormatan tertinggi dalam hati (hidup) kita, yaitu sebagai Tuhan. Kata ‘kudus’ disini adalah pengakuan dan penempatan status tinggi kepada Kristus dalam hidup kita. Nyanyian ‘kudus, kudus, kuduslah Tuhan’ oleh para malaikat di Surga juga memiliki makna yang sama.

Petrus memberikan prinsip kunci untuk kita hidup kudus: tempatkan Kristus sebagai Tuhan dan tinggikan Dia senantiasa dalam hati kita. Prinsip ini merupakan suatu pilihan dan keputusan apakah kita mau melakukannya atau tidak. Jika prinsip ini kita lakukan maka Roh Allah menguatkan hidup kita dan memampukan kita untuk menjalankan kebenaran dan bersaksi tentang Sang Kebenaran, yaitu Kristus Tuhan.

Tetapi, jika yang ditempat pertama dan utama dalam hidup kita ternyata bukan Kristus Tuhan, lalu dengan standar apa kita menjelaskan posisi dan maksud kita hidup kudus dan benar? Saudara, pahamilah bahwa kita hidup kudus dan benar adalah dengan standar Allah, bukan standar manusia. Argumen yang mengatakan bahwa hidup kudus dan benar harus mengikuti standar manusia, telah terbukti dalam sejarah justru mengarah pada kehancuran.

 

Ketika orang-orang Jerman pada masa Perang Dunia Kedua menyatakan bahwa yang benar hanyalah orang-orang Aryan, maka itu menjadi alasan sah bagi mereka untuk membantai orang-orang Yahudi dan non-Aryan. Ketika bangsa Jepang pada masa yang sama juga menerapkan pandangan rasisme Jepang vs. non-Jepang dan percaya bahwa semua orang pada akhirnya akan reinkarnasi, maka tidak heran pembunuhan, pemerkosaan dan pembantaian menjadi sesuatu yang dibenarkan oleh masyarakat Jepang dilakukan oleh tentara mereka pada waktu itu.

Ketika dunia barat saat ini mengatakan bahwa perkawinan sesama jenis dan arborsi adalah benar, maka yang terjadi adalah degradasi moral, penurun tajam jumlah penduduk, dan pembantaian anak-anak yang terbesar dalam abad ini yang melampaui semua abad sejarah manusia. Standar kebenaran dan ‘kekudusan’ manusia yang tidak di dasari kebenaran Kristus, akan selalu mengarah pada penurunan moralitas dan kehancuran.

Itulah sebab kita perlu menempatkan Kristus pada tempat kudus dan tertinggi dalam hidup kita, karena siapa dan apa yang ada pada tempat itu, yang akan menjadi panutan, kekuatan dan motivasi kita dalam menjalankan hidup kudus dan benar dan melawan setiap godaan duniawi.

 

Ayat 16 - Petrus melanjutkan dari ayat 15, bahwa pada akhirnya setiap kita harus siap menjelaskan mengapa kita memilih dan memutuskan untuk hidup kudus dan benar. Bukan karena hal itu semata-mata ‘baik’ tetapi karena Kristus-lah Tuhan kita. Kita harus bisa menjelaskan hal ini dengan baik, lemah lembut dan hormat kepada mereka yang mungkin bertanya kepada kita atau mungkin mempertanyakan motivasi kita melakukan hal benar dan kudus. Mungkin akan ada yang menuduh kita “cari muka”, tetapi Petrus dengan jelas mengajar bahwa bagian kita bukanlah menyerang balik perkataan mereka, tetapi mempertanggungjawabkan posisi kita.

Contoh situasi: seorang rekan Ibu Kris, dalam kisah diatas, menyerang balik Bu Kris yang menolak menandatangan kwitansi palsu, dengan mengatakan, “Sok suci! Kenapa sih gak mau tanda tangan? Cari muka ya? Supaya dianggap suci gitu lalu naik jabatan?” Jika Ibu Kris menjawab, “Loe yang ngawoer! Masa nanda-tangan kwitansi bodong semacam itu?”, maka itu adalah respon yang tidak tepat. Itu menyerang balik.

Berdasarkan yang Rasul Petrus dijelaskan, Ibu Kris bisa memilih untuk menjawab, “Tidak Sis. Saya tidak mau tanda-tangan karena jelas itu tidak benar, dan ya, saya takut Tuhan akan kecewa dengan saya. Saya diajarkan oleh Tuhan Yesus untuk hidup benar dan hidup kudus, dimana saja dan kapan saja. Bukan artinya saya paling benar Sis, gak. Saya juga masih bikin banyak salah. Makanya saya gak mau nambah masalah, apalagi buat Tuhan Yesus kecewa.”

Intinya, Ibu Kris menjelaskan alasan mengapa ia menolak mengikuti kebiasaan buruk pengelolaan keuangan di kantor itu, bukan karena dirinya ingin dipuji dan dianggap suci, tetapi karena ia memilih mengikuti pengajaran Yesus. Apakah jawaban seperti itu akan meredakan situasi? Mungkin ya, mungkin juga tidak, tetapi satu hal yang pasti: yang menyerang dan yang ‘menggoda’-mu tidak dapat berkata kamu salah.

Godaan dan fitnahan mereka justru berbalik kepada mereka, dan kemarahan yang mereka tunjukkan sebenarnya adalah luapan emosi karena kelemahan dan kekurangan mereka menjadi ter ekspos (baca juga 4:3-4 bersama-sama). Disinilah juga terjadi tension, yaitu sikap kita dalam Kristus menjadi alat bela dan senjata kita pada saat yang bersamaan, tetapi bukan untuk menghancurkan ‘lawan’ namun justru membantu dia memahami pandangan salah yang ia pegang.

 

Ini tidaklah gampang dilaksanakan, tetapi jelas bukan sesuatu yang sukar/mustahil dilakukan dan jelas juga kita semua dipanggil oleh Tuhan untuk menghidupinya. Kita hidup di dunia, tetapi tidak hidup duniawi. Hidup kita yang dijalani dengan kekudusan dan kebenaran, tidak lain dan tidak kurang adalah karena Allah telah memberikan kasih karunia-Nya menyelamatkan kita dari dosa-dosa dan kehidupan duniawi kita (3:18-22) dan kini kita responi dengan tidak menjalankan kehidupan masa lalu kita, melainkan melakukan yang Allah kehendaki (4:1-5).

Mari kita terus berjalan dalam kasih karunia Allah, kudus dan dikuduskan Roh Kudus tiap hari, sehingga hidup kita menjadi senjata yang sanggup meruntuhkan godaan dan serangan dunia, bahkan hidup kita menjadi alat kita untuk bersaksi akan Kristus yang adalah Allah yang bersemayam dalam hidup kita. Amin. (CS).

 

Pertanyaan Diskusi:
• Jika Saudara digoda (diminta) untuk melakukan kompromi dalam pekerjaan/usaha/studi/pergaulan, yaitu dengan melakukan sesuatu yang Saudara tahu tidak benar atau tidak dikenan Allah, tetapi diancam bahwa kalau tidak melakukannya akan berakibat negatif pada keuangan, karir, bisnis dan penerimaan keluarga, apa yang akan Saudara lakukan?
• Bagaimana Roh Kudus akan berperan dalam situasi itu dan bagaimana saudara dapat “nyambung” dengan Roh Kudus untuk menghadapi situasi itu bersama-sama?