INFLUENCER ATAU ALKITAB??

Posted by Admin 2026-10-28

blog-post-image

Ketika Sharing Influencer Favoritmu Bertentangan dengan Alkitab....

Coba bayangin, ada influencer yang kamu suka banget. Kontennya selalu kamu tonton, pendapatnya sering kamu setujui, bahkan gaya hidupnya jadi inspirasi buatmu. Tapi, suatu hari dia membagikan pandangan yang ternyata bertentangan dengan apa yang kamu pelajari dari Alkitab.

Terus kamu mulai berpikir, “Tapi, dia kan orang baik. Followers-nya juga banyak. Masa pendapatnya salah?”

Nah, di sinilah kamu perlu berhenti sebentar dan berpikir kritis. Sebab, sesuatu yang viral belum tentu benar, dan seseorang yang kamu kagumi tetap bisa keliru.

Followers Banyak Bukan Berarti Selalu Benar

Di era media sosial, kita gampang banget menganggap seseorang kredibel karena jumlah followers, cara bicara yang meyakinkan, atau kehidupannya yang kelihatan ideal. Apalagi kalau orang itu sering membahas self-love, relationship, mental health, atau spiritualitas.

Masalahnya, popularitas bukan jaminan bahwa semua yang dia ajarkan benar.

Bahkan, seseorang bisa punya banyak nasihat yang bagus, tetapi pemikirannya perlu kita kritisi. Kita nggak harus langsung membenci orangnya, tetapi kita juga nggak perlu menerima semua perkataannya mentah-mentah.

Dalam 1 Tesalonika 5:21, kita diingatkan untuk menguji segala sesuatu dan memegang yang baik.

Artinya, sebagai orang percaya, kita perlu belajar menyaring informasi, bukan sekadar mengikuti apa yang sedang ramai dibicarakan.

Jangan Sampai Kamu Lebih Percaya Influencer daripada Firman Tuhan

Pernah nggak kamu lebih mudah menerima nasihat dari influencer favorit daripada membaca dan memahami Alkitab sendiri?

Misalnya, seseorang berkata bahwa selama sebuah hubungan membuatmu bahagia, apa pun boleh dilakukan. Atau ada konten yang menyatakan bahwa semua keputusan pasti benar selama kamu mengikuti kata hati.

Kedengarannya meyakinkan, ya? Namun, perasaan bahagia dan keinginan pribadi bukan satu-satunya standar untuk menentukan apakah sesuatu itu benar.

Amsal 14:12 mengingatkan bahwa ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.

Karena itu, jangan menjadikan perkataan siapa pun sebagai standar tertinggi dalam hidupmu, termasuk influencer Kristen sekalipun. Pelajari konteks Firman Tuhan dan mintalah hikmat untuk memahami bagaimana prinsip Alkitab diterapkan dalam kehidupan nyata.

Iman yang dewasa bukan berarti kamu nggak boleh mendengarkan pendapat orang lain. Justru, kamu belajar mendengarkan tanpa kehilangan kemampuan untuk menguji apa yang kamu dengar.

Jadi, Harus Unfollow Kalau Pendapatnya Beda?

Nggak selalu. Kita perlu membedakan antara perbedaan pendapat biasa dan ajaran yang bertentangan dengan prinsip iman Kristen.

Kalau kamu menemukan pandangan yang meragukan, jangan langsung menyerang atau ikut menyebarkan kebencian. Cari tahu konteksnya, periksa sumbernya, dan bandingkan dengan Firman Tuhan secara bertanggung jawab.

Namun, kalau kontennya terus memengaruhi kamu untuk menerima hal-hal yang bertentangan dengan keyakinanmu, kamu boleh membatasi paparan atau berhenti mengikutinya.

Kamu nggak harus membenci seseorang sekalipun semua yang dia katakan tidak layak kamu ikuti.

Mengagumi seseorang itu boleh. Menjadikannya standar kebenaran tanpa mengujinya? Nah, itu yang perlu diwaspadai.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan sekadar siapa influencer favoritmu, tetapi siapa yang menjadi dasar dalam mengambil keputusan dan menjalani hidupmu.

So, kalau suatu hari orang yang kamu kagumi mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan Alkitab, apakah kamu berani mengujinya atau justru memilih membenarkannya karena kamu sudah terlanjur ngefans..?

Lagi ada pergumulan soal iman, pertemanan, atau pengaruh media sosial? 👀

Nggak harus dipendam sendiri, kok! Yuk, cerita lewat DM Instagram @HMchats . Kamu bisa sharing dengan nyaman tanpa takut dihakimi. Tenang, ceritamu akan dijaga kerahasiaannya. 🤍

Kamu nggak harus menghadapi semuanya sendirian! (MA).