NURUT KEHENDAK TUHAN

Posted by Admin 2026-05-05

blog-post-image

"Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."
Lukas 22:42 (TB)

Kisah Nyata: Dietrich Bonhoeffer dan Ketaatan kepada Tuhan

Pada masa kekuasaan Nazi di Jerman, seorang pendeta muda bernama Dietrich Bonhoeffer dikenal karena keberaniannya mempertahankan iman dan kebenaran.

Bonhoeffer lahir di Breslau pada tahun 1906 dalam keluarga yang terpelajar. Ia memiliki masa depan yang cerah sebagai seorang teolog dan pengajar. Bahkan pada usia yang masih muda, ia sudah menjadi dosen teologi dan dikenal sebagai pemikir yang sangat cerdas.

Namun keadaan di Jerman berubah drastis ketika Adolf Hitler dan rezim Nazi mulai berkuasa. Pemerintah mulai mengontrol gereja dan memaksa gereja untuk mengikuti ideologi Nazi. Banyak pemimpin gereja memilih diam karena takut kehilangan posisi atau bahkan nyawa mereka.

Bonhoeffer menghadapi pilihan sulit: tetap diam dan hidup aman, atau berdiri menentang ketidakadilan. Sebagai seorang yang percaya kepada Tuhan, Bonhoeffer merasa bahwa iman tidak boleh dipisahkan dari tindakan nyata. Ia percaya bahwa mengikuti Kristus berarti juga berani membela kebenaran, meskipun itu berisiko besar.

Ia kemudian bergabung dengan kelompok gereja yang menolak pengaruh Nazi dan terus mengajarkan bahwa Kristus adalah satu-satunya Kepala Gereja. Karena sikapnya itu, Bonhoeffer diawasi oleh pemerintah dan dilarang berkhotbah di banyak tempat.

Pada suatu waktu, Bonhoeffer sempat pergi ke New York City untuk mengajar di sebuah seminari. Di sana ia sebenarnya bisa hidup dengan aman, jauh dari tekanan rezim Nazi.

Namun setelah beberapa minggu, ia merasa hatinya tidak tenang. Ia menyadari bahwa Tuhan memanggilnya kembali ke Jerman untuk bersama dengan jemaat dan bangsanya yang sedang mengalami penderitaan.

Keputusan itu sangat berat. Banyak temannya mencoba meyakinkan dia untuk tetap tinggal di Amerika demi keselamatannya. Tetapi Bonhoeffer berkata bahwa ia tidak bisa ikut membangun kembali gereja di Jerman setelah perang jika ia tidak mau berbagi penderitaan dengan mereka sekarang.

Ia akhirnya kembali ke Jerman, meskipun tahu bahwa langkah itu bisa membahayakan hidupnya.

Beberapa tahun kemudian, Bonhoeffer ditangkap oleh pemerintah Nazi dan dipenjarakan. Bahkan di dalam penjara, ia tetap menulis surat dan refleksi rohani yang menguatkan banyak orang percaya.

Pada tahun 1945, hanya beberapa minggu sebelum Perang Dunia II berakhir, Bonhoeffer dihukum mati oleh rezim Nazi karena imannya dan keberaniannya berdiri untuk kebenaran.

Relevansi dengan Alkitab: Taat pada Kehendak Tuhan

Dalam Lukas 22:42, Yesus sendiri berdoa agar kehendak Bapa yang terjadi, bukan kehendak-Nya sendiri. Ketaatan kepada Tuhan sering kali tidak mudah dan bahkan bisa menuntut pengorbanan besar.

Kisah Dietrich Bonhoeffer menunjukkan bahwa mengikuti kehendak Tuhan bukan selalu jalan yang paling aman atau paling nyaman. Namun itu adalah jalan yang benar.

Ketaatan kepada Tuhan berarti mempercayai bahwa rencana-Nya lebih baik daripada rencana kita sendiri.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Sebagai remaja, kita sering menghadapi pilihan yang tidak mudah: mengikuti arus atau melakukan yang benar. Kisah Bonhoeffer mengingatkan bahwa iman bukan hanya soal percaya di dalam hati, tetapi juga berani hidup sesuai kehendak Tuhan.

Kita bisa belajar untuk:

1. Mendengarkan Tuhan melalui Firman dan doa.

2. Berani melakukan yang benar meskipun tidak populer.

3. Percaya bahwa Tuhan menyertai setiap langkah ketaatan kita.

Ketika kita belajar menuruti kehendak Tuhan sejak muda, hidup kita akan memiliki arah yang jelas dan tujuan yang kekal. (MA).

"When Christ calls a man,
He bids him come and die."

Dietrich Bonhoeffer