POHON APEL DAN POHON BAMBU
Posted by Admin 2026-05-07
“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya…”
— Yohanes 15:5a (TB)
Kisah Pohon yang Ingin Menjadi Orang Lain
Di sebuah kebun yang luas, hiduplah berbagai macam tanaman. Ada bunga matahari yang tinggi menjulang, pohon apel yang berbuah lebat, bambu yang kuat diterpa angin, dan rumput kecil yang tumbuh di antara mereka.
Di tengah kebun itu, ada sebuah pohon apel muda yang merasa dirinya tidak istimewa. Setiap hari ia melihat bunga matahari dipuji karena keindahannya. Ia juga melihat bambu yang berdiri kokoh meski badai datang menerjang.
“Aku ingin seperti mereka,” pikir pohon apel itu. Ia mulai merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Ia tidak setinggi bunga matahari, tidak sekuat bambu, dan batangnya pun biasa saja.
Suatu hari badai besar datang. Angin bertiup sangat kencang hingga banyak tanaman ketakutan. Pohon apel muda itu melihat bambu bergoyang ke kiri dan ke kanan tanpa patah.
“Aku harus seperti bambu!” katanya. Maka pohon apel itu berusaha mengikuti cara bambu bergerak. Ia memaksa batangnya meliuk terlalu jauh. Namun karena bukan itulah dirinya, salah satu dahannya justru patah. Pohon apel itu menangis.
“Aku lemah… aku gagal…” Tidak lama kemudian, datanglah seorang petani tua yang setiap hari merawat kebun itu. Ia memegang batang pohon apel dengan lembut lalu berkata, “Kenapa kamu mencoba menjadi bambu?”
Pohon apel menjawab pelan, “Karena bambu kuat. Semua orang kagum padanya.”
Petani itu tersenyum. “Bambu memang kuat menghadapi badai. Tetapi apakah bambu bisa menghasilkan apel yang manis?” Pohon apel terdiam.
Petani itu melanjutkan, “Setiap tanaman punya identitas dan panggilannya masing-masing. Bunga matahari dipanggil untuk bersinar. Bambu dipanggil untuk bertahan dalam angin. Dan kamu dipanggil untuk menghasilkan buah.”
Pohon apel mulai mengerti. Selama ini ia terlalu sibuk membandingkan dirinya dengan tanaman lain sampai lupa tujuan ia ditanam.
Musim demi musim berlalu. Pohon apel itu berhenti iri pada tanaman lain. Ia mulai fokus bertumbuh sesuai rancangan sang petani.
Akarnya makin kuat. Batangnya makin kokoh. Dan akhirnya, ia menghasilkan buah apel yang manis dan menyegarkan banyak orang. Orang-orang yang datang ke kebun itu mulai menikmati buahnya. Anak-anak berteduh di bawahnya. Burung-burung hinggap di dahannya.
Saat itu pohon apel sadar: Ia tidak perlu menjadi bambu untuk menjadi berharga.
Relevansi dengan Alkitab: Dipanggil Sesuai Tujuan Tuhan
Sering kali kita merasa minder karena melihat kehidupan orang lain. Kita ingin punya talenta seperti mereka, kehidupan seperti mereka, atau pencapaian seperti mereka.
Padahal Tuhan menciptakan setiap orang dengan identitas dan panggilan yang berbeda.
1. Ada yang dipanggil menjadi pemimpin.
2. Ada yang dipanggil untuk melayani.
3. Ada yang dipanggil untuk menguatkan orang lain.
4. Ada juga yang dipanggil menjadi terang lewat hal-hal sederhana.
Menjadi murid Kristus yang tangguh berarti tetap setia menjadi pribadi yang Tuhan bentuk, bukan sibuk meniru orang lain.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
1. Jangan membandingkan diri dengan orang lain.
2. Tuhan menciptakan setiap orang dengan tujuan yang unik.
3. Identitas kita ditemukan saat kita tinggal dekat dengan Tuhan.
4. Murid Kristus yang tangguh tetap bertumbuh meski prosesnya tidak instan.
Kadang kita merasa hidup orang lain lebih hebat daripada hidup kita. Namun ingat, Tuhan tidak pernah salah menanam kita.
Saat kita bertumbuh sesuai panggilan Tuhan, hidup kita akan menghasilkan “buah” yang memberkati banyak orang. (MA).
"You do not need to become someone else
to fulfill God’s purpose for your life."