SINGA KECIL YANG HIDUP BERSAMA DOMBA

Posted by Admin 2026-05-07

blog-post-image

“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda.

Jadilah teladan…”
— 1 Timotius 4:12a (TB)

Kisah Leo yang Takut Mengaum

Di sebuah padang rumput hijau, hiduplah sekawanan domba yang damai. Mereka selalu berjalan bersama, makan bersama, dan mengikuti ke mana kawanan pergi. Suatu hari, seorang gembala menemukan seekor anak singa kecil yang tersesat di pinggir hutan. Anak singa itu lemah dan ketakutan, sehingga sang gembala membawanya pulang dan merawatnya bersama kawanan domba. Anak singa itu diberi nama Leo.

Hari demi hari berlalu dan Leo tumbuh besar di tengah para domba. Ia belajar hidup seperti mereka—makan rumput, berjalan pelan, dan bersuara lembut. Namun semakin besar tubuhnya, semakin ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Tubuhnya jauh lebih kuat daripada domba lainnya. Kakinya lebih besar, dan kadang saat ia marah atau takut, terdengar suara berat dari dalam dadanya yang membuat dirinya sendiri terkejut. Tetapi setiap kali Leo mulai menunjukkan perbedaannya, domba-domba lain berkata, “Jangan aneh-aneh, Leo. Kita ini domba.”

Karena takut ditolak, Leo memilih diam. Ia terus hidup seperti domba meskipun hatinya merasa kosong. Ia mulai percaya bahwa dirinya memang tidak berbeda dari yang lain.

Suatu sore, seekor serigala datang mendekati kawanan itu. Semua domba langsung panik dan berlari ketakutan, termasuk Leo. Saat sedang berlari, Leo bertemu seekor singa tua di dekat sungai. Singa tua itu memandang Leo dengan heran lalu bertanya, “Kenapa kau lari?”

“Ada serigala,” jawab Leo gemetar.

Singa tua itu tertawa kecil. “Kenapa seekor singa takut pada serigala?”

Leo bingung. “Aku bukan singa… aku domba.”

Singa tua itu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengajak Leo mendekati sungai yang airnya tenang. “Lihat dirimu,” katanya.

Leo menatap bayangannya di permukaan air. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memperhatikan dirinya sendiri. Wajahnya tidak seperti domba. Tubuhnya pun tidak sama. Ia mirip dengan singa tua yang berdiri di sampingnya.

“Tapi aku tidak bisa seperti singa,” kata Leo pelan.

Singa tua itu tersenyum dan berkata, “Kau tidak perlu menjadi singa. Kau memang sudah diciptakan sebagai singa.”

Kemudian singa tua itu mengaum keras ke langit. Suaranya menggema ke seluruh padang rumput. Leo terkejut, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang terasa hidup. Perlahan ia membuka mulut dan mencoba mengeluarkan suara. Awalnya kecil dan ragu-ragu, tetapi semakin lama semakin kuat.

“AUMMMM!”

Leo sendiri terkejut mendengar suaranya. Hari itu ia sadar bahwa selama ini ia hidup bukan sesuai identitasnya. Ia terlalu lama mendengarkan suara lingkungan sampai lupa siapa dirinya sebenarnya.

Relevansi dengan Alkitab: Mengenal Identitas dalam Kristus

Banyak anak muda hidup seperti Leo. Tuhan menciptakan mereka dengan potensi, panggilan, dan tujuan besar, tetapi lingkungan membuat mereka takut menjadi berbeda. Ada yang takut menunjukkan imannya, takut berkata benar, atau takut melayani karena merasa tidak mampu. Padahal Tuhan tidak pernah menciptakan kita untuk hidup dalam ketakutan.

Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk hidup sesuai identitas kita sebagai anak-anak Tuhan—berani, kuat, dan menjadi terang bagi dunia. Menjadi murid Kristus yang tangguh berarti berani tetap setia kepada Tuhan meskipun lingkungan di sekitar kita berkata sebaliknya.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

1. Lingkungan tidak menentukan identitas kita.

2. Tuhan menciptakan setiap orang dengan tujuan yang istimewa.

3. Kita tidak perlu takut menjadi berbeda karena iman.

4. Murid Kristus yang tangguh berani hidup sesuai panggilan Tuhan.

Kadang dunia membuat kita merasa kecil dan tidak berarti. Namun Tuhan melihat sesuatu yang besar di dalam diri kita. Saat kita mengenal identitas kita di dalam Kristus, kita tidak lagi hidup dalam ketakutan, tetapi dalam keberanian dan tujuan. (MA).

"You were not created to live in fear,
but to walk in God’s calling."