Simak materi tersebut selengkapnya pada link berikut ini:
KUASA ROH KUDUS
Ruang Remaja

"Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang,
oleh Dia yang telah mengasihi kita."
Roma 8:37 TB
Kisah Sydney McLaughlin-Levrone: Lari Bersama Tuhan
Sydney McLaughlin-Levrone adalah atlet lari gawang asal Amerika Serikat yang menjadi juara dunia dan peraih medali emas Olimpiade. Di usia muda, ia sudah dikenal dunia karena prestasinya yang luar biasa. Namun di balik kecepatan kakinya, ada kerendahan hati dan ketekunan iman yang jarang terlihat di dunia olahraga profesional.
Sejak remaja, Sydney sadar bahwa dunia olahraga bisa sangat keras—penuh tekanan, ekspektasi, dan godaan untuk menjadikan pencapaian sebagai identitas. Tapi ia memilih untuk menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan. Di Instagram, ia sering menulis bahwa “rekor dunia tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan pengenalan akan Kristus.”
Dalam wawancaranya setelah memenangkan lomba, ia selalu menyebutkan nama Tuhan terlebih dahulu. Ia berkata bahwa kesuksesan hanyalah alat untuk membawa kemuliaan bagi Allah, bukan untuk meninggikan diri. Bahkan ketika mengalami cedera dan tekanan mental, Sydney tetap berpegang teguh pada firman Tuhan dan komunitas gerejanya.
Relevansi dengan Alkitab: Menang Bersama Kristus
Roma 8:37 menegaskan bahwa kita lebih dari pemenang karena kasih Kristus, bukan karena pencapaian pribadi. Sydney menunjukkan bahwa menjadi orang percaya di arena dunia tidak berarti harus melemah, justru sebaliknya—iman bisa menjadi kekuatan terbesar kita dalam mencapai panggilan hidup.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Tuhan bisa memakai talenta apa pun—olahraga, seni, akademik, atau media sosial—untuk menyatakan kasih dan kemuliaan-Nya. Kita tidak perlu memilih antara “mengejar Tuhan” dan “mengejar impian.” Jika kita berjalan bersama Tuhan, kita justru akan mencapai tujuan yang benar, dengan cara yang benar. Ketika dunia menilai kita dari hasil, Tuhan melihat hati. Dan jika hati kita penuh iman, itu sudah cukup untuk menang. (MA).
"All the glory to God."
Sydney McLaughlin-Levrone
Dunia Kita

Setiap tanggal 17 Agustus, kita merayakan kemerdekaan Indonesia dengan penuh semangat nasionalisme. Tapi tahukah kamu? Bendera Merah Putih yang pertama kali dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan dibuat dari bahan seadanya, yaitu kain sprei dan kain jarik!
Bendera Pertama, Simbol Perjuangan yang Sederhana Tapi Sakral
Pada 17 Agustus 1945, saat Ir. Soekarno membacakan teks proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta, dunia menyaksikan kelahiran sebuah bangsa baru: Indonesia. Namun karena situasi yang serba darurat setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, persiapan pengibaran bendera dilakukan dengan sangat sederhana.
Fatmawati, istri Bung Karno, menjahit sendiri bendera Merah Putih dari kain sprei putih dan kain katun merah yang diambil dari kain jarik. Tidak ada toko kain yang buka. Tidak ada protokol resmi. Tapi dari rumah, lahirlah simbol kemerdekaan yang kini menjadi lambang kehormatan bangsa.
Bukan Sekadar Kain, Tapi Lambang Pengorbanan
Mungkin banyak dari kita yang tidak pernah membayangkan bahwa simbol negara yang kini dikibarkan dengan upacara megah di Istana Merdeka, dulu berasal dari kain rumah tangga biasa. Tapi justru di situlah keistimewaannya: bahwa kemerdekaan bukanlah soal kemewahan, tapi pengorbanan, niat tulus, dan keberanian untuk merdeka.
Bendera Asli Masih Disimpan
Bendera Merah Putih hasil jahitan Ibu Fatmawati dikenal sebagai "Bendera Pusaka". Bendera ini sempat dikibarkan setiap 17 Agustus di Istana Negara hingga tahun 1968. Karena usianya yang semakin tua dan rentan rusak, akhirnya bendera asli disimpan dengan sangat hati-hati di Monumen Nasional (Monas) sebagai warisan sejarah.
APA KATA ALKITAB?
“Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik pusaka-Nya!”
Mazmur 33:12
Kemerdekaan adalah anugerah Tuhan, bukan hanya hasil perjuangan manusia. Setiap kali kita melihat bendera Merah Putih berkibar, mari kita ingat bahwa di baliknya ada darah, doa, dan harapan dari para pahlawan kita. Jangan pernah lupa untuk mengisi kemerdekaan dengan semangat melayani dan memberkati sesama.
KESIMPULAN
Dari selembar sprei dan kain jarik, lahirlah simbol kebangsaan yang kita hormati hingga hari ini. Fakta ini mengingatkan kita bahwa tidak ada batasan untuk memperjuangkan sesuatu yang benar. Selamat Hari Kemerdekaan ke-[80], Indonesia! Merdeka bukan hanya bebas dari penjajahan, tapi bebas untuk menjadi terang dan garam dunia. (MA)
Ruang Kesaksian

"Kuatkan dan teguhkanlah hatimu,
janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka,
sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau;
Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau."
Ulangan 31:6 TB
Perkenalkan nama saya Tara Andini, saya tinggal di Depok dan berjemaat di GBI Kamboja Depok, Rayon 9. Pada kesempatan ini saya ingin berbagi cerita dimana Tuhan membuat mujizat-Nya dalam hidup saya.
Saya lahir sebagai anak bungsu dari 3 bersaudara, tumbuh sebagai anak yang takut akan Tuhan sejak kecil, namun ketika umur 7 tahun saya menderita kelainan tulang belakang atau Skoliosis yang mana dokter sendiri tidak dapat memberitahu penyebabnya. Dokter mengatakan bahwa itu semua sudah menjadi nasib dan takdir saya.
Singkat cerita skoliosis saya semakin parah, membuat kondisi badan saya semakin miring, dan membuat saya merasa minder karena merasa berbeda dari teman-teman seumuran saya yang lain. Saya sudah mengalami bullying secara verbal sejak di SD; bahkan saat saya duduk di kelas 3 SMP saya sering mendapat hinaan yang mengatakan bahwa saya mirip seperti unta karena kondisi tulang belakang saya yang miring. Doa-doa saya hanya berisikan kemarahan kepada Tuhan dan hidup saya semakin jauh dari Tuhan.
Waktu kelas 1 SMA saya memutuskan untuk menjalani operasi tulang belakang karena saya berpikir ingin hidup normal seperti orang lain. Untuk mendapatkan jadwal operasi harus menunggu hingga 3 tahun, namun saat saya berobat ke dokter, dokter mengatakan bahwa saya mendapat kesempatan untuk langsung melakukan tindakan operasi bulan depannya. Ketika melihat kondisi tulang belakang saya yang miring 100 derajat, dokter mengatakan ada kemungkinan operasi tersebut gagal; dan bisa berakibat saya lumpuh total atau meninggal dunia.
Saat itu entah mengapa saya yakin dan menyerahkan hidup saya kedepannya pada Tuhan. Saya berpikir apa yang terjadi biarlah terjadi. Tiba saat tindakan operasi, menurut estimasi pihak medis, operasi akan berlangsung selama kurang lebih 12 jam. Selama operasi berlangsung orang tua saya dan pengerja dari GBI Kamboja Depok terus bersatu di dalam doa tepat disamping ruangan operasi. Puji Tuhan operasi saya berlangsung selama 8 jam dan dinyatakan berhasil.
Saya dipindahkan ke ruangan PICU dan menjalani perawatan intensif. Saat dirawat saya menangis terus karena takut sendirian, namun saya melihat sebuah cahaya terang dan mendengar sebuah suara: “Jangan takut! Ada Aku disini”. Saya yakin itu adalah suara Tuhan yang selama ini selalu menolong dan ada disamping saya.
Bahkan proses pemulihan saya juga berjalan lancar tanpa merasakan sakit yang luar biasa. Hingga sekarang saya sudah bisa berjalan, berdiri dengan normal, dan melayani Tuhan bersama teman-teman saya di gereja. Proses dan mujizat yang saya alami inilah yang menjadi pengalaman terbaik saya bersama dengan Tuhan.
We use cookies to enhance your experience. By continuing to visit this site, you agree to our use of cookies.
