Simak materi tersebut selengkapnya pada link berikut ini:
KHOTBAH GEMBALA: PERGILAH, JADIKANLAH SEMUA BANGSA MURID-KU
Ruang Remaja

""Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu.
Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain."
1 Korintus 13:4-5 (TB)
Kisah Ibu Teresa: Kasih yang Dikonkretkan dalam Tindakan
Hari Valentine sering dihubungkan dengan romansa dan pasangan. Namun, inti dari hari itu adalah kasih (cinta), dan tidak ada yang mewujudkan kasih sejati lebih baik daripada Ibu Teresa (Saint Teresa of Calcutta).
Ibu Teresa adalah seorang biarawati yang meninggalkan kehidupan mengajar yang nyaman untuk pindah ke daerah kumuh di Kalkuta, India, demi melayani "orang-orang termiskin dari yang miskin." Ia tidak melayani orang yang glamor atau kaya; ia melayani mereka yang ditinggalkan, yang sakit parah, dan yang sekarat di jalanan—orang-orang yang dianggap tidak berharga oleh masyarakat.
Pelayanannya bukanlah tentang perasaan romantis yang berapi-api, melainkan tentang tindakan nyata dan konsisten (seperti yang dijelaskan dalam 1 Korintus 13). Ia menunjukkan:
1. Kesabaran
Melayani orang sakit yang membutuhkan perawatan terus-menerus dan perlahan.
2. Tidak Mencari Keuntungan Diri Sendiri
Ia melepaskan kenyamanannya demi penderitaan orang lain.
3. Tidak Memegahkan Diri
Ia melakukan pekerjaan yang dianggap hina oleh dunia, tanpa mencari sorotan.
Bagi Ibu Teresa, cinta sejati bukanlah emosi sesaat; itu adalah pilihan harian untuk melihat Yesus dalam diri setiap orang yang ia layani. Ia mengajarkan dunia bahwa kasih yang paling mulia adalah yang diberikan tanpa mengharapkan balasan, terutama kepada mereka yang paling sulit untuk dicintai.
Relevansi dengan Alkitab: Kasih Agape di Hari Valentine
Kisah Ibu Teresa adalah komentar hidup atas 1 Korintus 13:4-5, yang sering disebut "Himne Kasih" dalam Alkitab. Di Hari Valentine, remaja dihadapkan pada gambaran cinta duniawi yang sering dangkal, berfokus pada penampilan fisik, popularitas, atau hadiah.
Ayat ini memanggil kita pada standar kasih yang lebih tinggi: kasih Agape—kasih yang tidak egois, berkorban, dan tanpa syarat.
1. Jika cinta sejatimu tidak sabar saat pasanganmu terlambat, itu bukanlah Agape.
2. Jika cintamu cemburu dan mencari keuntungan diri sendiri (misalnya, hanya mau berpacaran dengan yang populer), itu bukanlah Agape.
Valentine seharusnya menjadi pengingat bahwa kita dipanggil untuk mencintai semua orang—pasangan, teman, keluarga, bahkan orang yang sulit kita pahami—dengan kualitas-kualitas yang Ibu Teresa wujudkan: kesabaran, kebaikan, dan kerendahan hati. Kasih sejati adalah apa yang kita lakukan, bukan hanya apa yang kita rasakan.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
1. Definisikan Ulang Cinta
Jangan biarkan film atau media sosial mendefinisikan cinta bagimu. Cinta sejati adalah tindakan yang sabar, baik hati, dan tidak egois.
2. Praktikkan Kasih Agape ke Semua Orang
Gunakan Valentine untuk menunjukkan kasih kepada orang yang mungkin kamu abaikan: orang tua, adik/kakakmu, atau teman yang sedang sendirian.
3. Hindari Ego
Cinta sejati tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ketika kamu memberi hadiah atau menghabiskan waktu dengan seseorang, pastikan motivasimu adalah untuk memberi, bukan untuk mendapatkan balasan.
4. Komitmen Mengalahkan Perasaan
Cinta sejati adalah komitmen untuk tetap sabar dan baik hati, bahkan ketika perasaanmu sedang tidak bersemangat atau ketika orang yang kamu cintai mengecewakanmu.
Sebagai remaja, di Hari Valentine, berikanlah cokelat, tetapi yang lebih penting, berikanlah kasih yang sabar dan murah hati kepada semua orang di sekitarmu, meniru Kasih terbesar yang telah kita terima dari Kristus. (MA)
"Do small things with great love."
Mother Teresa
Ruang Keluarga

Kata cinta sering kali terdengar indah, tetapi maknanya semakin kabur. Cinta kerap direduksi menjadi perasaan romantis, ketertarikan fisik, atau euforia emosional sesaat. Akibatnya, banyak relasi dibangun di atas fondasi yang rapuh: selama perasaan itu ada, relasi berjalan; ketika perasaan memudar, relasi pun runtuh. Di sinilah pentingnya pembahasan tentang cinta sejati agar kita tidak terjebak di dalam cinta dan relasi yang tidak sehat.
Alkitab tidak pernah memisahkan cinta dari kebenaran dan kedewasaan. Cinta bukan sekadar sesuatu yang dirasakan, tetapi sesuatu yang dihidupi dan diputuskan. Karena itu, sebelum seseorang belajar mencintai orang lain, ia perlu terlebih dahulu mengalami cinta sejati.
1. Mengalami Cinta Sejati Sebelum Mencintai
Cinta sejati tidak dimulai dari manusia, melainkan dari Allah.
“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita”
1 Yohanes 4:19
Ayat ini menegaskan sebuah prinsip penting: kemampuan kita untuk mencintai dengan benar sangat ditentukan oleh pengalaman kita akan kasih Allah. Seseorang yang belum mengalami kasih Allah sering kali mencari cinta untuk mengisi kekosongan, bukan untuk memberi. Akibatnya, pasangan dijadikan sumber nilai diri, rasa aman, dan kebahagiaan.
Mengalami cinta sejati berarti:
1. Menyadari bahwa kita dikasihi tanpa syarat, bukan karena performa atau pencapaian.
2. Menemukan identitas diri di dalam Kristus, bukan di dalam status relasi.
3. Merasa utuh sebagai pribadi, sehingga tidak bergantung secara emosional pada pasangan.
Orang yang belum mengalami cinta sejati dari Tuhan cenderung mencintai dengan rasa takut: takut ditinggalkan, takut tidak cukup, takut kehilangan. Sebaliknya, orang yang sudah mengalami kasih Allah mencintai dengan kebebasan—bebas memberi tanpa memanipulasi, bebas mengasihi tanpa menguasai.
2. Mencintai adalah Keputusan, Bukan Sekadar Perasaan
Perasaan itu penting, tetapi perasaan bukan fondasi yang kokoh. Perasaan bisa naik dan turun, dipengaruhi oleh hormon, situasi, dan kondisi hati. Jika cinta hanya didasarkan pada perasaan, maka relasi akan sangat rapuh. Alkitab menggambarkan cinta sebagai tindakan dan keputusan.
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu… ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”
1 Korintus 13:4–7
Semua kata kerja ini bukan emosi, melainkan pilihan sadar. Mengasihi berarti memilih untuk setia bahkan ketika perasaan tidak sedang hangat. Dalam pernikahan, akan ada musim di mana cinta terasa menggebu-gebu, tetapi ada juga musim di mana cinta terasa sepi. Di situlah keputusan untuk mengasihi menjadi sangat nyata. Cinta bukan hanya jatuh cinta, tetapi bangun setiap hari dan memilih untuk mengasihi.
3. Ketika Cinta Menjadi Perbudakan: Fenomena Bucin
Bucin adalah singkatan dari budak cinta. kita menjadi "budak" dari cinta itu sendiri. Jadi, cinta yang seharusnya indah dan saling mendukung malah membuat kita terikat, kehilangan jati diri, bahkan mungkin melupakan hal-hal penting lainnya, termasuk Tuhan.
CIRI-CIRI BUCIN
1. Kehilangan Identitas Diri
Hidup sepenuhnya berpusat pada pasangan. Minat, nilai, bahkan iman mulai dikompromikan demi hubungan.
2. Mengabaikan Tuhan dan Komunitas
Waktu untuk Tuhan, keluarga, dan persekutuan semakin tersisih. Pasangan menjadi “segala-galanya”.
3. Takut Kehilangan Berlebihan
Relasi dipertahankan bukan karena sehat, tetapi karena takut sendirian atau takut ditinggalkan.
4. Menghalalkan Kompromi
Batasan moral, kekudusan, dan prinsip iman dikorbankan demi mempertahankan hubungan.
5. Sulit Berkata Tidak
Tidak berani menegur, menolak, atau bersikap jujur karena takut hubungan terganggu.
Kalau dilihat dari Alkitab, sebenarnya Tuhan nggak pernah melarang kita mencintai seseorang. Faktanya, kasih adalah inti dari iman Kristen (Matius 22:37-39). Tapi masalahnya, kalau kita jadi bucin sampai hubungan kita dengan Tuhan terganggu, itu jelas bukan yang Tuhan kehendaki.
“Janganlah kamu memiliki allah lain di hadapan-Ku.”
Keluaran 20:3
Pasangan kita bisa jadi "allah lain" kalau kita menaruh dia di posisi yang lebih tinggi daripada Tuhan. Padahal, hanya Tuhan yang layak jadi prioritas utama hidup kita.
“Kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.”
1 Korintus 13:6
Kalau kita benar-benar mencintai seseorang, cinta itu harusnya membawa kebaikan, bukan membuat kita kehilangan integritas atau nilai-nilai kebenaran.
Cinta yang sehat memerdekakan, bukan memperbudak. Jika relasi membuat seseorang semakin jauh dari Tuhan dan semakin kehilangan dirinya sendiri, maka itu bukan cinta sejati.
BEBAS DARI PENJARA BUCIN
Bagaimana caranya agar kita bisa bebas dari ‘perbudakan’ cinta?
1. Balik Kepada Tuhan
Buat Tuhan jadi prioritas nomor satu. Renungkan lagi apakah hubungan yang kita Jalani sudah sesuai dengan kehendak Tuhan.
2. Buat Batasan
Cinta membutuhkan batas agar bertumbuh dengan benar. Batasan bukan tanda kurang cinta, melainkan tanda kedewasaan.
3. Cari Dukungan
Komunitas rohani menolong kita melihat relasi secara objektif dan menjaga kita dari keputusan emosional yang keliru.
4. Perkuat Identitas Diri
Sadari bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh validasi dari orang lain, tetapi oleh siapa yang menciptakan dan menebus Anda.
5. Berani Jujur Pada Diri Sendiri
Menguji; apakah relasi ini membawa saya semakin serupa Kristus atau justru menjauh dari-Nya?
Cinta sejati nggak pernah meminta kita menjadi budak. Sebaliknya, cinta sejati adalah kasih yang membangun, menguatkan, dan membawa kita semakin mengenal Tuhan. Jadikan Tuhan pusat hubungan kita, karena hanya Dia yang bisa mengajarkan cinta sejati yang sebenarnya. (TB)
Ruang Kesaksian

"Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung
dari manakah akan datang pertolonganku?
Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.
Ia takkan membiarkan kakimu goyah,
Penjagamu tidak akan terlelap.
Sesusnggunya tidak terlelap dan tigak tertidur Penjaga Israel.
Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu."
Mazmur 121:1-5
Nama saya Esther saya adalah seorang Pengerja Migran Indonesia (PMI). Saya ingin berbagi kisah bagaimana Tuhan Yesus sungguh baik. Tuhan tidak pernah terlambat menolong dan selalu memberi kemurahan dalam kehidupan saya.
Bermula tahun 2017 saya kembali bekerja di Hongkong, dan selama di sana saya beribadah di Gereja Africa International Church Hongkong. Di sana saya berkenalan dengan sepasang suami istri, yang wanita seorang Philipina dan yang pria dari Afrika. Pertemanan kami terjalin sangat baik lebih dari setahun.
Hingga pada suatu hari, mereka berdua minta tolong meminjam nomor rekening Bank, untuk menerima transferan uang dari luar Hongkong. Dengan alasan untuk biaya hidup dan bussines mereka. Tanpa curiga saya pun memberikan nomor rekening bank atas nama saya.
Saya sama sekali tidak menaruh curiga, karena mereka orang gereja yang saya anggap orang baik. Namun ternyata kebaikan saya disalah gunakan. Ternyata saya ditipu. Tanpa sepengetahuan saya sebenarnya nomor rekening saya telah disalah gunakan.
Tahun 2019, tiba-tiba 3 orang polisi datang ke rumah tempat saya bekerja. Mereka menangkap dan membawa saya ke kantor polisi. Di sana saya diinterogasi, sidik jari saya diambil. Saya memberikan sejumlah uang sebagai jaminan sehingga saya menjadi tahanan luar selama 10 bulan dan saya pun dibebaskan.
Waktu terus berjalan, hingga 4 tahun kemudian, tanggal 19 Maret 2023 ketika saya akan cuti pulang ke Indonesia, tiba-tiba saat diimigarasi bandara Hongkong saya ditangkap. Saya dirantai, diborgol, diinterogasi dan HP saya pun di tahan. Dengan alasan kasus tahun 2019 dinyatakan belum selesai. Saya dikirim ke tahanan penjara di tempat lain. Selama 1 minggu saya tidur di penjara Hongkong.
Saya diadili dengan tuduhan sebagai pengguna money laundry. Sekali lagi saya memberikan uang jaminan supaya saya tidak ditahan tidur di penjara Hongkong. Saya tidak mau masuk ke sana lagi, karena begitu mengerikan suasana penjara Hongkong.
Akhirnya dalam proses pengadilan saya memutuskan untuk tinggal di rumah pastory gereja, di GBI CK 10 yang digembalakan oleh Pdt. Bernard H. Saya sudah cukup lama mengenal beliau. Saya tinggal di sana sampai kasus selesai.
Selama menjadi tahanan luar saya dilarang meninggalkan Hongkong sampai proses sidang pengadilan selesai. Saya harus bolak balik menghadiri sidang, Puji Tuhan saya selalu didampingi Pdt. Bernard dan Ibu Annie sampai proses persidangan selesai. Banyak hal yang saya rasakan dimana pertolongan Tuhan itu sungguh nyata dan ajaib. Karena saya merasa terhimpit dengan keadaan, begitu banyak tekanan dan posisi saya sangat sulit.
Dalam proses hukum yang berjalan saya benar-benar belajar berserah kepada Tuhan, terus berdoa dan mendekatkan diri dalam hadirat Tuhan. Saya banyak dikelilingi anak-anak Tuhan yang turut mendoakan untuk hasil keputusan pengadilan yang terbaik. Allah turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan.
Di sinilah saya mengalami Tuhan, Tuhan tidak pernah terlambat memberikan pertolongan-Nya. Di negara orang saya dikelilingi oleh anak-anak Tuhan yang selalu mendukung di dalam doa. Karena tinggal di gereja maka saya banyak terlibat dalam pelayanan, COOl, KOM, pelayanan Minggu. Rohani saya bertumbuh, iman saya pun timbul karena pendengaran akan Firman Tuhan. Itulah yang menguatkan saya. Meskipun saya mendengar bahwa jika terbukti bersalah maka hukuman yang dijatuhkan bisa 9, 7, 6 tahun penjara atau vonis bebas.
Dan pada saat sidang terakhir, keputusannya adalah nama baik, no criminal; dinyatakan saya bebas dan tidak bersalah. Haleluya, Puji Tuhan. Tuhan Yesus baik. Sungguh penyertaan dan kekuatan yang dari Tuhan yang kasih-Nya tidak terbatas, yang memampukan saya melewati masa-masa proses sidang pengadilan sampai selesai. Semua hanya karena anugerah kasih karunia Tuhan Yesus yang melepaskan saya dari jerat hukum dan saya bisa kembali berada di Indonesia.
We use cookies to enhance your experience. By continuing to visit this site, you agree to our use of cookies.
