Simak materi tersebut selengkapnya pada link berikut ini:
LIMA PILAR TEOLOGI PENTAKOSTA
Ruang Remaja

"Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!
Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia,
karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat."
Roma 13:9b-10 (TB)
Kisah Warren Buffett: Menghargai Uang dan Berbagi Kekayaan
Warren Buffett dikenal sebagai salah satu investor paling sukses dan terkaya di dunia. Namun, ia tidak dikenal karena kemewahannya. Justru sebaliknya, ia dikenal karena gaya hidupnya yang sangat sederhana dan hemat, yang dijuluki "The Oracle of Omaha."
Meskipun memiliki kekayaan miliaran dolar, Buffett masih tinggal di rumah sederhana yang ia beli pada tahun 1958, mengendarai mobil biasa, dan tidak memiliki telepon pintar yang mahal. Bagi Buffett, uang bukanlah alat untuk membeli kemewahan pribadi yang berlebihan, melainkan alat yang harus dikelola dengan bijak untuk menghasilkan dampak yang lebih besar.
Filosofi pengelolaan uangnya sangatlah kontras dengan budaya konsumtif saat ini. Ia mengajarkan:
1. Menghargai Nilai, Bukan Harga
Ia membeli hanya yang ia butuhkan dan yang memiliki nilai jangka panjang.
2. Menunda Kepuasan
Ia tidak menggunakan uangnya untuk kesenangan instan, melainkan untuk investasi yang akan membantu pertumbuhan di masa depan.
3. Memberi Kembali
Sebagian besar kekayaan Buffett (sekitar 99%) telah ia janjikan untuk disumbangkan ke yayasan amal, terutama yayasan Bill & Melinda Gates. Ia percaya bahwa kekayaan besar harus dikembalikan ke masyarakat.
Buffett membuktikan bahwa mengelola uang dengan integritas, kerendahan hati, dan visi yang berfokus pada orang lain, jauh lebih berharga daripada membelanjakannya untuk pemuasan ego pribadi.
Relevansi dengan Alkitab: Mengasihi Sesama melalui Berkat
Filosofi Warren Buffett dalam menggunakan kekayaannya untuk memberi kembali sangat cocok dengan perintah inti Alkitab tentang mengasihi sesama (Roma 13:9b-10).
Alkitab mengajarkan bahwa uang adalah sumber daya netral. Uang tidak jahat, tetapi cinta akan uang dapat menjadi akar segala kejahatan.
Di usia remaja, mengelola uang bisa jadi tentang uang jajan, hadiah ulang tahun, atau penghasilan pertama. Uang ini memberikan kita dua pilihan:
1. Mengutamakan Diri Sendiri (Ego)
Menggunakan uang hanya untuk kesenangan instan (pakaian branded, makanan cepat saji, game online).
2. Mengasihi Sesama (Kasih)
Menggunakan sebagian uang untuk ditabung, dibagikan (persepuluhan atau amal), atau digunakan untuk memberkati orang lain.
Ketika kita belajar mengelola uang dengan bijak, menabung sebelum membelanjakan, dan memberi sebelum menerima, kita sedang melatih hati kita untuk menjadi seorang bendahara yang bertanggung jawab, yang mengasihi Tuhan dan sesama melalui berkat yang telah kita terima.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
1. Budget Dulu, Belanja Kemudian
Pelajari cara membuat anggaran sederhana (misalnya, bagi uang jajanmu menjadi: Tabungan, Kebutuhan, dan Memberi). Jangan biarkan uangmu mengendalikanmu.
2. Tunda Kepuasan Instan
Latihlah dirimu untuk menunda pembelian barang yang tidak penting. Kemampuan menunda kepuasan adalah ciri orang sukses di masa depan.
3. Tumbuhkan Hati yang Memberi
Sisihkan sebagian uangmu untuk gereja atau orang yang membutuhkan. Ini melatih hatimu agar selalu berfokus pada orang lain, bukan hanya pada diri sendiri.
4. Utamakan Nilai
Jangan mudah terpengaruh oleh branding atau harga mahal. Beli barang yang memiliki nilai dan kualitas, bukan sekadar status.
Sebagai remaja, mulailah praktikkan disiplin keuangan dan integritas. Uang adalah alat untuk kebaikan; pastikan kamu menguasainya, bukan sebaliknya. (MA)
"Do not save what is left after spending,
but spend what is left after saving."
Warren Buffett
Sudut Pandang

"Harta yang cepat diperoleh akan berkurang,
tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya."
Amsal 13:11 (TB)
Saat membeli buah, pernahkah kita merasa kesal saat mengetahui bahwa pedagang telah "mengakali" timbangan? Sakit, kan? Rasa dikhianati sepertinya lebih penting daripada sekadar kehilangan beberapa ribu rupiah.
Nah, akhir-akhir ini, dunia pasar saham kita ramai dengan pembicaraan tentang isu serupa: transparansi. Organisasi internasional berpikir, "Hei, apakah data ini benar-benar jujur?" Apakah harganya benar-benar nilai yang real, atau ada seseorang yang sengaja memanipulasinya? Meskipun masalah di pasar keuangan mungkin tampak tidak terkait dengan kehidupan sehari-hari kita, masalah mendasarnya sebenarnya sama: kejujuran.
Apa kata Tuhan tentang "main curang"? Tuhan kita bukan hanya Tuhan di gereja; Dia juga Tuhan di pasar, di kantor, dan di aplikasi perdagangan saham. Dalam Amsal 11:1, dinyatakan dengan sangat jelas:
"Neraca serong adalah kekejian bagi TUHAN,
tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat."
Bayangkan, Tuhan menggunakan kata "kekejian" (sesuatu yang sangat menjijikkan) untuk tindakan manipulasi atau ketidakjujuran dalam bisnis. Mengapa? Karena ketika kita tidak jujur atau sengaja menutupi kebenaran demi keuntungan egois, kita merusak tatanan keadilan yang telah ditetapkan Tuhan. Di pasar saham, apakah ada data tersembunyi? Sebab pihak yang menderita adalah investor kecil yang hanya ingin menabung untuk masa depan tetapi terjebak dalam permainan para pemain besar.
Kita sering terjebak dalam pemikiran, "Yang penting adalah keuntungan, yang penting adalah menjadi kaya." Tetapi dalam Lukas 16:10, Yesus memberi kita prinsip yang sangat indah:
"Siapa yang setia dalam perkara kecil, ia juga setia dalam perkara besar.
Dan barangsiapa yang tidak jujur dalam urusan kecil, maka ia juga tidak jujur dalam urusan besar.
Jika kita terbiasa "curang" dalam hal-hal kecil (seperti laporan kehadiran atau uang kembalian), jangan heran jika ketika kita menduduki posisi tinggi, kita terbiasa memanipulasi hal-hal yang lebih besar.
Jadi, apa yang harus kita lakukan sebagai anak-anak Allah di tengah dunia yang seringkali membenarkan segala cara demi uang?
1. Hiduplah dalam Terang
Kerajaan Allah adalah Kerajaan Terang. Artinya, tidak ada yang perlu disembunyikan. Dalam pekerjaan atau bisnis, berikan informasi yang jujur. Jangan menjual "kecap nomor satu" jika kualitasnya nomor sepuluh.
2. Hindari Keserakahan
Keserakahan adalah penyebab umum krisis pasar modal. Anak-anak Allah harus memiliki rem. Kita bekerja keras dan berinvestasi, tetapi kita tidak boleh menggunakan taktik anipulative hanya karena kita ingin cepat kaya.
3. Menjadi Wali bagi Orang Lain
Pastikan aman dan jujur sebelum mengizinkan individu untuk berinvestasi atau melakukan bisnis. Janganlah kita menjadi "pom-pom" yang menyesatkan orang lain demi keuntungan pribadi kita.
4. Andalkan Tuhan, Bukan Grafik
Portofolio saham bisa merah, ekonomi bisa goyah, tapi sumber berkat kita adalah Tuhan.
Kejujuran mungkin membuat kita terlihat "lambat" untuk menjadi kaya di mata dunia, tetapi ia membawa ketenangan batin yang tidak dapat disetarakan dengan saham mana pun.
Integritas adalah mata uang Kerajaan Allah. Mari kita pastikan bahwa untuk setiap rupiah yang masuk ke kantong kita, tidak ada air mata orang-orang yang menjadi korban karena kurangnya transparansi kita. Jadilah anak Allah yang terus "bersinar" bahkan di tengah pasar yang suram. (BA).
"Integritas adalah melakukan hal yang benar,
bahkan ketika tidak ada orang yang melihat."
— C.S. Lewis
Ruang Kesaksian

"Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata:
”Penyakit itu tidak akan membawa kematian,
tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah,
sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan."
Yohanes 11:4 (TB)
Perkenalkan nama saya Rospita Sitorus, sejak tahun 2015 saya dan keluarga telah menetap di Colorado-USA. Awal tujuan kepindahan kami, adalah sebagai upaya memperbaiki kehidupan keluarga menjadi lebih baik lagi. Namun Tuhan mempercayakan kepada kami, bukan hanya tentang uang, tetapi juga hati yang rela melayani. Saya bergabung di BIC Denver (Rayon 50) dan melayani sebagai worship leader.
Dalam kesempatan ini saya ingin membagikan kebaikan Tuhan melalui kesaksian saya. Pada bulan Oktober 2022 saya dinyatakan terpapar COVID-19 untuk kedua kalinya. Padahal sudah satu setengah bulan saya isolasi mandiri di rumah; bahkan berobat ke dokter sampai tiga kali, namun saya merasa penyakit saya kali ini tidak juga kunjung sembuh, bahkan semakin memburuk.
Dibeberapa bagian tubuh saya mulai timbul ruam atau memar, mulut penuh dengan sariawan, napas pun mulai terasa berat sehingga sulit sekali untuk bernapas. Karena merasa curiga ada kelainan dari paru-paru saya maka tiga hari kemudian saya pergi ke dokter. Hasil pemeriksaan tidak terdapat pneumonia (radang paru-paru).
Karena keadaan saya tetap saja tidak membaik, saya kembali memeriksa diri ke klinik. Perawat yang melihat keadaan saya segera merujuk saya ke RS. Setibanya di UGD RS, saya diperiksa secara menyeluruh. Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter memvonis saya menderita kanker darah.
Sebagai manusia saya tidak dapat menerimanya saat pertama kali mendengar vonis tersebut, karena saya tidak punya riwayat kanker dalam keluarga besar saya, selain itu saya juga sudah menjaga pola makan dan rajin berolahraga dengan menerapkan gaya hidup sehat.
Saat itu saya ditemani oleh gembala dan suami, hanya dapat terdiam lemas. Dokter belum dapat menentukan jenis kanker yang saya derita karena memang harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Siang itu, dokter memutuskan agar saya harus langsung di opname. Dokter menyarankan untuk segera ditangani dan kemoterapi, sebab apabila tidak akan berakibat fatal bagi hidup saya.
Selama di opname saya terus bergumul dan berdoa, saya tetap percaya bahwa ada mujizat Tuhan. Setelah tiga hari di rumah sakit, pada tanggal 24 November 2022, dokter menyuruh saya menandatangani surat untuk segera melakukan biopsi sumsum tulang belakang; guna mengetahui jenis kankernya.
Setelah bergumul akhirnya saya menandatangani surat tersebut. Sebagai manusia saya tidak dapat merubah suatu keadaan. Saya menerima apapun yang telah menjadi kehendak Tuhan atas kehidupan saya. Yang saya lakukan adalah menerima keputusannya Tuhan dan berdamai dengan diri saya sendiri.
Saya melihat ada penyertaan Tuhan ketika saya mulai berserah. Sekalipun saya menderita kanker leukemia, secara fisik tubuh saya tidak mengalami penurunan dan merasakan sakit dibanding dengan penderita leukemia lainnya. Dokter pun heran melihat kondisi fisik saya hingga mengatakan saya adalah special person.
Setelah dua hari kemudian hasil biopsi pun keluar dokter menyatakan bahwa saya menderita Acute Myeloid Leukemia (AML) atau Leukemia Myeloid Akut; jenis kanker darah dan sumsum tulang, yakni jaringan spons dalam tempat sel darah dibuat sehingga tidak dapat menghasilkan darah putih yang matang.
Mendengar penyataan dari dokter, saya sangat terkejut dan khawatir. Bagaimana bila sampai terjadi apa-apa dengan diri saya karena anak-anak saya masih kecil. Saya berusaha tidak ingin mencari tahu detail penyakit yang saya derita. Saya tidak ingin bertambah khawatir.
Fokus saya hanya membangun iman, berdoa dan merenungkan Firman serta menyembah Tuhan. Pada tanggal 25 November 2022 saya dipindahkan ke rumah sakit khusus kanker. Ketika menjalani proses kemoterapi, mulai saya mengalami rambut rontok dan merasa mual.
Setiap kali dokter bertanya: “apakah ada pertanyaan?” saya selalu menjawab: “kapan saya pulang?”. Akhirnya dokter memperkirakan bahwa saya dapat pulang sekitar bulan Januari 2023. Saya yang tidak merasakan sakit apa-apa menjadi bosan bila harus tinggal berlama-lama di RS. Sampai-sampai agar otot tubuh saya tidak menjadi kaku dan lemah, saya sering olah raga mengelilingi RS.
Pada tanggal 21 Desember 2022, saya kembali melakukan biopsi yang kedua, guna mengetahui apakah pengobatan yang diberikan berhasil atau tidak. Saya baru mendapatkan hasilnya di tanggal 26 Desember 2022 karena pada hari sebelumnya dokter yang bertugas sedang libur.
Dokter menghampiri saya dan berkata: “good news”, karena hasil biopsi yang kedua menunjukan sel kanker saya sudah tidak ada. Puji Tuhan, secara spontan saya berseru memuji Tuhan, dokter kembali menanyakan, “apakah ada pertanyaan?”. Saya menjawab: “kapan saya pulang?”. Dokter akhirnya mengijinkan saya pulang selesai biopsi ketiga di tanggal 27 Desember 2022.
Sekalipun hasil biopsi belum keluar, saya akhirnya diijinkan pulang. Pada tanggal 29 Desember 2022, appointment dokter yang pertama setelah keluar dari RS, dokter mengatakan bahwa saya harus di kemoterapi seumur hidup sekalipun sudah dinyatakan tidak diketemukan sel kanker, karena ia tidak mau mengambil resiko apabila penyakitnya timbul kembali.
Mendengar hal itu saya sangat terkejut dan menangis, saya berpikir untuk apa saya di kemoterapi lagi? Bukankah sudah tidak ada sel kanker pada hasil biopsi yang kedua. Saya tidak pernah mempelajari tentang kanker, saya pikir apabila sudah sembuh, pasti sembuh. Tetapi ternyata tidak seperti itu.
Setiap selesai kemoterapi saya merasakan tubuh saya lemah. Saya tidak ingin sepanjang hidup harus bergantung kepada orang lain. Saya mulai protes kepada Tuhan, saya berpikir lebih baik Tuhan memanggil saya pulang dari pada harus menyusahkan orang lain.
Saya memang telah berdamai dengan diri saya sendiri. Menerima kehendak Tuhan dengan tidak menyalahkan dan mempercayakan hidup saya kepada Tuhan. Saya tahu ada penyertaan Tuhan di dalam hidup saya.
Saya menangis histeris, merasa tidak ada lagi harapan. Saya menghubungi gembala serta teman saya yang pernah mengalami penyakit yang sama. Saya menceritakan bahwa saya harus melakukan kemoterapi seumur hidup. Saya katakan “untuk apa saya hidup. Lebih baik saya mati saja”.
Selesai didoakan dan dikuatkan oleh beberapa hamba Tuhan, saya akhirnya kembali tenang. Gembala saya berinisiatif mengadakan pertemuan dengan tim dokter. Gembala saya bertanya: "apakah masih percaya kepada mujizat?” Tetapi menurut medis tetap harus diberikan kemoterapi karena jenis kankernya tersebut.
Rencananya akan dilakukan 6 kali kemoterapi, setelah itu barulah cangkok sumsum tulang belakang. Cara itulah yang terbaik untuk pasien leukemia. Saya menyerahkan dan mempercayakan semuanya kepada penyertaan Tuhan.
Puji Tuhan, karena dokter melihat perkembangan yang bagus dari hasil pemeriksaan, akhirnya kemoterapi yang seharusnya dilakukan 6 kali cukup 2 kali. Dokter memberikan referensi untuk segera melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang.
Semuanya berjalan dengan lancar. Dokter bagian pencangkokan langsung merespon sehingga semuanya dapat berjalan lebih cepat dari jadwal yang diperkirakan. Sehingga pada tanggal 26 April 2023 dilakukan pencangkokan sumsum tulang belakang dengan pendonor anak saya sendiri yang sudah berumur 18 tahun. Tuhan seperti sudah mengatur segala sesuatu tepat waktunya. Pencangkokan harus ada hubungan keluarga, itupun dilihat dari kecocokan darah.
Puji Tuhan setelah dilakukan pemeriksaan, saya dan anak mempunyai kecocokan. Namun sekali lagi iman saya diuji. Dua minggu sebelum hari pencangkokan, dokter yang menangani anak saya mengatakan bahwa darah anak saya bermasalah; artinya tidak dapat menjadi pendonor karena akan mengakibatkan hal yang fatal bagi orangtuanya.
Sampai akan dilakukan pemeriksaan darah ulang, sebab mungkin saja terjadi kesalahan. Terus terang, mendapat kabar seperti itu saya kembali merasa tertekan dan menangis, saya kembali komplain dan kecewa kepada Tuhan. Saya katakan “Tuhan, apakah tidak cukup sampai di sini saja, mengapa terus ada masalah baru?”
Saya jadi mengkhawatirkan anak, yang dikatakan dokter bahwa darahnya bermasalah. Jangan sampai anak sayapun menderita penyakit yang sama dengan saya. Dalam pengumulan saya berdoa berseru kepada Tuhan, meratap kepada-Nya, saya tidak tahu lagi harus bagaimana, tetapi ternyata Tuhan mampu membalikkan segala keadaan, apa yang tidak mungkin bagi manusia itu mungkin bagi Tuhan.
Setelah melakukan pemeriksaan ulang dokter mengatakan bahwa darah anak saya normal kembali, puji Tuhan, mujizat terjadi. Akhirnya pencangkokanpun berjalan dengan baik. Saat saya masuk RS, Tuhan katakan bahwa penyakit yang Tuhan ijinkan terjadi bukan untuk mendatangkan kematian, tetapi untuk mendatangkan kesaksian dan membawa kemuliaan bagi Tuhan. Saya terus memperkatakan janji Tuhan.
Puji Tuhan sampai hari ini saya sehat oleh karena janji dan mujizat Tuhan. Terlalu mudah bagi Tuhan untuk menyembuhkan segala penyakit termasuk kanker. Saya mengalami Tuhan secara pribadi, Tuhan yang sangat baik dan penuh dengan mujizat. Pengharapan kita di dalam Tuhan tidak pernah mengecewakan.
Melalui penyakit ini, Tuhan juga telah menyembuhkan jiwa dan karakter saya. Tuhan merubah paradigma saya, memulihkan hubungan saya dengan Tuhan. Saya kembali bergairah bersama Tuhan. Sekalipun secara fisik terasa lemah pasca pencangkokan namun secara roh, saya semakin dikuatkan. Pengharapan kita pasti akan menghasilkan sesuatu. Jangan pandang kepada apa yang kelihatan tetapi percaya dan yakinlah bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang hidup yang penuh dengan mujizat.
We use cookies to enhance your experience. By continuing to visit this site, you agree to our use of cookies.
