Simak materi tersebut selengkapnya pada link berikut ini:
NAPAS PENTAKOSTAL dalam PENGAKUAN IMAN GBI
Ruang Remaja

"Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu,
memegang tangan kananmu
dan berkata kepadamu:
Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau."
Yesaya 41:13 (TB)
Kisah Rosa Parks: Keberanian Kecil di Tempat yang Menakutkan
Bagi sebagian besar remaja, rasa takut menghadapi penilaian sosial (kecemasan sosial) dapat terasa sangat melumpuhkan. Takut berbicara di depan umum, takut memulai percakapan, atau takut menjadi pusat perhatian. Namun, kisah keberanian sejati seringkali dimulai dengan tindakan sederhana dalam situasi yang penuh tekanan.
Kisah Rosa Parks, seorang penjahit Afrika-Amerika yang tinggal di Montgomery, Alabama, pada tahun 1955, adalah salah satu contohnya. Di masa itu, hukum segregasi rasial di Amerika mengharuskan orang kulit hitam duduk di bagian belakang bus dan menyerahkan kursi mereka kepada penumpang kulit putih jika bagian depan sudah penuh.
Pada suatu sore yang dingin, Rosa Parks menaiki bus. Ketika diminta untuk menyerahkan kursinya kepada seorang pria kulit putih, ia menolak. Tindakan ini, yang tampak kecil bagi sebagian orang, adalah tindakan yang sangat berisiko dan menakutkan, karena ia tahu ia akan menghadapi kemarahan, penangkapan, dan ancaman publik.
Parks bukanlah seorang aktivis yang vokal atau berani dalam pandangan umum—ia dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan tenang. Namun, dalam momen krusial itu, ia memilih untuk mengatasi rasa takutnya demi prinsip yang lebih besar. Penolakannya memicu boikot Bus Montgomery yang bersejarah dan menjadi katalis penting bagi Gerakan Hak Sipil.
Parks mengajarkan kita bahwa keberanian sejati bukanlah ketidakhadiran rasa takut, melainkan tindakan yang dilakukan meskipun rasa takut itu ada. Ia membuktikan bahwa bahkan orang yang paling pendiam pun dapat memiliki dampak yang sangat besar ketika mereka berani berdiri untuk kebenaran.
Relevansi dengan Alkitab: Tangan Tuhan yang Menopang
Rasa cemas atau takut seringkali membuat kita merasa sendirian di dunia yang terasa menghakimi. Namun, kisah Rosa Parks dan perjuangannya menghadapi sistem yang menakutkan mengingatkan kita pada janji dalam Yesaya 41:13.
Tuhan tidak mengatakan, "Jangan takut, karena semua akan mudah." Dia mengatakan, "Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau."
Ini adalah janji yang menghapus kecemasan sosial: kita tidak pernah menghadapi dunia sendirian. Ketika kita harus berdiri tegak melawan peer pressure, ketika kita harus menyajikan presentasi yang menakutkan, atau ketika kita harus memulai percakapan yang penting, Tangan Tuhan-lah yang memegang kita.
Tugas kita bukanlah menghilangkan rasa takut sepenuhnya (itu manusiawi), tetapi meyakini bahwa, karena Tuhan memegang tangan kita, kita memiliki kekuatan untuk mengambil langkah maju—keberanian untuk duduk (atau berdiri) di tempat yang benar, bahkan ketika suara di kepala kita menyuruh kita untuk bersembunyi.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
1. Keberanian Dimulai dari Langkah Kecil
Jika kamu cemas berbicara di depan umum, mulailah dengan satu kalimat. Jika kamu cemas memulai pertemanan, mulailah dengan senyuman. Ambil tindakan "Rosa Parks" versi dirimu.
2. Fokus pada Nilai, Bukan Penilaian
Alihkan fokus dari "Apa yang akan mereka pikirkan tentang aku?" menjadi "Apa nilai yang bisa aku berikan kepada mereka?" atau "Apa kebenaran yang harus aku bela?"
3. Rasa Takut Itu Universal
Sadari bahwa hampir semua orang merasa gugup. Itu adalah bagian dari menjadi manusia. Jangan biarkan perasaan itu menjadi alasan untuk tidak bertindak.
4. Percayai Kekuatan Batin
Tangan Tuhan memegangmu bukan berarti Dia akan menghapus semua kesulitan, tetapi Dia akan memberikan kekuatan di dalam yang cukup untuk menghadapi kesulitan tersebut.
Sebagai remaja, jangan biarkan kecemasan sosial merampas potensi dan suaramu. Ambil langkah hari ini, meskipun kecil, karena Tuhan akan menggunakan keberanian kecilmu untuk tujuan besar. (MA)
"The only tired I was, was tired of giving in."
Rosa Parks
Ruang Kesehatan

“Tiba-tiba kelopak mata bergerak sendiri… pertanda apa ya?”
Pernahkah kamu merasakan kelopak mata berkedut sendiri tanpa bisa dikendalikan? Sensasinya memang tidak sakit, tetapi cukup mengganggu dan kadang membuat kita khawatir. Banyak orang bahkan mengaitkannya dengan mitos tertentu. Padahal, mata kedutan sebenarnya adalah kondisi medis yang cukup umum dan biasanya berkaitan dengan gaya hidup. Yuk, kita pahami apa penyebabnya!
Apa Itu Mata Kedutan?
Mata kedutan adalah gerakan kecil berulang pada otot kelopak mata yang terjadi tanpa disadari. Kondisi ini biasanya berlangsung beberapa detik hingga menit, namun dalam beberapa kasus bisa berlangsung lebih lama atau berulang sepanjang hari.
PENYEBAB UMUM
1. Kelelahan Mata
Terlalu lama menatap layar gadget, komputer, atau membaca tanpa istirahat dapat membuat otot mata tegang.
2. Kurang Tidur
Tidur yang tidak cukup membuat saraf dan otot tidak mendapatkan waktu pemulihan yang optimal.
3. Stres dan Tekanan Emosional
Saat stres, tubuh melepaskan hormon tertentu yang dapat memicu kontraksi otot, termasuk otot kelopak mata.
4. Konsumsi Kafein Berlebihan
Terlalu banyak kopi, teh, atau minuman energi bisa merangsang sistem saraf dan menyebabkan kedutan.
5. Kekurangan Nutrisi
Kurangnya magnesium atau vitamin tertentu dapat memengaruhi fungsi saraf dan otot.
KAPAN HARUS WASPADA?
Sebagian besar mata kedutan tidak berbahaya. Namun, kamu perlu memeriksakan diri ke dokter jika:
1. Kedutan berlangsung lebih dari satu minggu
2. Kelopak mata menutup sendiri tanpa kontrol
3. Kedutan disertai pembengkakan atau kemerahan
4. Terjadi di bagian wajah lain juga
Gejala tersebut bisa menandakan gangguan saraf atau kondisi neurologis tertentu.
CARA MENGATASI
1. Istirahatkan mata secara berkala saat menggunakan gadget
2. Tidur cukup minimal 7–8 jam setiap malam
3. Kurangi konsumsi kafein
4. Kompres hangat pada mata untuk merilekskan otot
5. Kelola stres dengan relaksasi, doa, atau aktivitas yang menenangkan
TIPS PENCEGAHAN
1. Gunakan aturan 20-20-20 saat menatap layar (setiap 20 menit lihat objek berjarak 20 kaki selama 20 detik)
2. Minum air putih cukup setiap hari
3. Konsumsi makanan bergizi seimbang
4. Batasi begadang
5. Luangkan waktu istirahat di tengah aktivitas padat
REFLEKSI ROHANI: Belajar Berhenti Sejenak
Kadang mata yang berkedut adalah tanda bahwa tubuh meminta kita untuk berhenti sejenak dari kesibukan. Firman Tuhan mengingatkan:
“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah…”
Mazmur 46:11
Tuhan mengajarkan kita bahwa berhenti bukan berarti lemah, melainkan kesempatan untuk dipulihkan. Saat kita memberi tubuh waktu untuk beristirahat, kita juga memberi ruang bagi Tuhan untuk menyegarkan jiwa kita. (MA).
"If you are too busy to stop;you are too busy to hear God.”
G.A.W. Clark
Ruang Kesaksian

"Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu,
Dia sendiri akan menyertai engkau,
Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau."
Ulangan 31:8 TB
Perkenalkan nama saya Theresia, dalam kesempatan ini saya ingin membagikan kesaksian dimana Tuhan sudah berbuat baik dalam kehidupan rumah tangga saya dan suami. Tanggal 18 September 2011, melalui aplikasi Facebook saya berkenalan dengan Hery. Setelah beberapa kali bertemu dan saling mengenal kami merasa sudah ada kecocokan, saling mencintai. Maka. dalam waktu yang sangat singkat, pada tanggal 9 Desember 2011, kami melangsungkan pernikahan.
Namun pada kenyataannya kehidupan pernikahan kami tidak berjalan dengan baik. Selama sebelas tahun menikah, rumah tangga kami bagaikan seperti neraka. Saya selalu mendapatkan perlakuan juga kata-kata kasar dari suami maupun keluarganya, hal ini disebabkan oleh karena kepahitan di masa kecil yang belum dibereskan, saat itu belum bekerja dan nendapatkan keturunan. Sehigga mereka sering membandingkan saya dengan menantu lainnya. Hal ini membuat saya begitu tertekan dan sering menangis, tetapi saya terus berdoa dan mencoba untuk terus bertahan karena saya ingat janji pernikahan, karena ,saya tahu bahwa Tuhan membenci perceraian. Saya tetap mengasihi dan sepenuhnya berharap kepada Tuhan Yesus.
Puji Tuhan, pada tahun ke 9, Tuhan menjawab mengabulkan permohonan doa dengan memberkati usaha pekerjaan yang saya jalani. Perekonomian rumah tangga kami mulai membaik sehingga keluarga suami mulai menghargai saya.
Namun berbeda halnya dengan suami, perilakunya semakin bertambah kasar dan terlebih saat itu kondisinya sudah menganggur. Keadaan ini mengundang komentar dari kerabat dekat yang melihat perlakuan suami saya dengan mengatakan bahwa saya seperti “sapi perah”.
Saya belajar untuk lebih memahami keadaan suami. Saya tahu situasi itu tidak mudah baginya, sebagai seorang laki-laki, mungkin ia merasa gengsi karena tidak dapat menjadi suami yang bertanggung jawab menafkahi keluarga. Ketidak nyamanan itulah yang membuatnya sering emosi.
bulan September akhir sampai dengan pertengahan November 2022. Saya mulai mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Emosi suami semakin tidak terkontrol dengan melampiaskan kekesalannya kepada saya, beberapa kali saya mengalami pukulan dibagian wajah, sampai hidung saya berdarah. Puncaknya ketika kepala saya ditendang, saat itulah saya memutuskan untuk meninggalkan rumah.
Saya takut jiwa saya merasa terancam, oleh sebab itu saya pergi dari rumah. Selama 7 bulan saya menyewa kamar kost. Selama 7 bulan pemeliharaan Tuhan terhadap saya sangat nyata, saya tidak pernah kekurangan, justru banyak penghiburan dan kekuatan yang saya terima.
Dalam 2 bulan pertama saya berdoa dan mempunyai niat untuk bercerai. Namun Tuhan tidak menjawab doa saya bahkan Tuhan mengajarkan agar saya bertahan. Sebagai perlindungan secara hukum akhirnya saya melaporkan ke KOMNAS HAM khusus wanita. Di sana pengaduan kekerasan rumah tangga dapat dilanjutkan dengan 2 proses.
Proses pertama litigasi dan non litigasi, litigasi adalah proses hukuman bagi suami agar dapat diproses dan dipenjara. Tuhan berbicara di dalam hati saya bahwa penjara tidak akan membuatnya menjadi lebih baik, bahkan mungkin akan membuatnya menjadi lebih jahat.
Tuhan menuntun saya agar mengikuti proses non litigasi, yaitu proses dengan perdamaian bersyarat, akhirnya saya mengikuti semua arahan dari KOMNAS HAM. Tuhan menuntun saya untuk mengikuti konseling dengan hamba Tuhan.
Saya datang ke Gereja GBI WTC, dengan rendah hati saya minta agar kami dapat dilayani. Setelah menceritakan masalah yang ada, kami diarahkan untuk masuk kelas pengenalan akan Tuhan secara pribadi sambil didampingi oleh konselor kami masing-masimg.
Untuk wanita masuk kekelas Victorious Women, sedangkan suami masuk kelas khusus pria. Setelah kelas itu selesai kami diarahkan konselor untuk masuk kelas khusus pasangan suami istri yang merupakan program gereja, namanya TC07 (Transformation class).
Di sini kami diajarkan tentang tugas dan kebutuhan sebagai suami dan istri berdasarkan Alkitab. Kami mengikuti mulai dari bulan Januari sampai bulan Mei kami berdua diproses oleh Tuhan melalui kelas-kelas tersebut. Puji Tuhan, kami berdua merasa diberkati saat akhir kelas TC07. Kami berdua dipulihkan, suami menjadi lebih sabar, baik dimana kami saling mengampuni dan berjanji untuk memulai hubungan suami istri yang menjadikan Tuhan dasar di dalam keluarga,
Kami kembali bersama kepada proses non litigasi di KOMNAS HAM wanita, Saya dan suami kembali melakukan pemberkatan kembali oleh gembala kami Pdt. Wiryohadi. Tuhan Yesus baik, Dia Allah yang memulihkan keluarga. Sejak itu banyak perubahan dari suami saya, dan yang terutama dia menjadi orang yang takut dan mencintai Tuhan. Kesukaannya kini membaca Alkitab dan membangun mezbah keluarga.
Terpujilah nama Tuhan, benar janji-Nya dalam Ulangan 31 : 8, yang menyatakan bahwa dalam keluarga kami, tidak pernah kita dibiarkan dan ditinggal dalam ketakutan, Dia selalu berjalan di depan kita dan hanya kuasa Tuhan yang mampu merubah hati setiap manusia. Tetaplah berharap kepada Tuhan, sekalipun kelihatannya tidak ada harapan bahkan tidak terlihat sama sekali, percayalahlah karena pengharapan kita didalam Tuhan Yesus tidak pernah sia-sia, Amin.
We use cookies to enhance your experience. By continuing to visit this site, you agree to our use of cookies.
