Simak materi tersebut selengkapnya pada link berikut ini:
TEOLOGI KEMAKMURAN, BENAR/SALAH?
Ruang Remaja

"Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau,
janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu;
Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau;
Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku
yang membawa kemenangan."
Yesaya 41:10 (TB)
Kisah Sophie Scholl: Melawan Ketidakadilan di Masa Perang
Sophie Scholl, seorang mahasiswa muda di Universitas Munich, Jerman, adalah salah satu anggota gerakan Perlawanan Putih (White Rose) yang menentang kekejaman rezim Nazi pada masa Perang Dunia II. Lahir pada tahun 1921, Sophie tumbuh dalam keluarga Kristen yang menanamkan nilai-nilai kasih, keadilan, dan keberanian. Keyakinan imannya membuatnya tidak dapat tinggal diam melihat ketidakadilan dan kekejaman yang terjadi di sekitarnya.
Pada tahun 1942, Sophie dan kakaknya, Hans Scholl, bersama beberapa teman lainnya mulai mendistribusikan pamflet yang berisi seruan untuk melawan ketidakadilan dan kekerasan yang dilakukan oleh Nazi. Mereka percaya bahwa suara mereka dapat menggugah hati nurani masyarakat Jerman untuk menolak kejahatan yang merajalela. Setiap pamflet ditulis dengan penuh keberanian, menyuarakan kebenaran bahwa setiap manusia diciptakan setara di hadapan Tuhan.
Aksi mereka bukan tanpa risiko. Rezim Nazi dikenal kejam terhadap siapa pun yang menentang ideologi mereka. Namun, Sophie tidak gentar. Ia tahu bahwa hidup dalam kebenaran lebih penting daripada tunduk pada ketakutan. Imannya pada Tuhan menjadi kekuatannya. Dalam setiap langkahnya, ia mengingat janji dalam Yesaya 41:10 bahwa Tuhan akan menyertai dan meneguhkan dia.
Pada Februari 1943, Sophie dan Hans tertangkap saat mendistribusikan pamflet di Universitas Munich. Mereka diinterogasi dengan keras dan diancam hukuman mati jika tidak mengaku dan menghentikan aksi mereka. Dalam persidangan yang penuh tekanan, Sophie dengan tegas berkata, "Seseorang harus memulai. Apa yang kami tulis dan katakan adalah kebenaran. Dan banyak orang lain yang berpikiran sama, hanya saja mereka takut berbicara."
Pada 22 Februari 1943, Sophie dieksekusi di usia 21 tahun. Namun, kematiannya tidak sia-sia. Pamflet-pamflet mereka diselundupkan keluar dari Jerman dan dicetak ulang di Inggris, dan itu menginspirasi banyak orang untuk melawan ketidakadilan.
Relevansi dengan Alkitab: Keberanian dalam Ketakutan
Yesaya 41:10 meneguhkan hati orang percaya bahwa dalam ketakutan sekalipun, Allah tetap hadir untuk menguatkan dan menolong. Sophie Scholl adalah teladan bagaimana iman dapat menjadi sumber keberanian di tengah ancaman. Ia memilih untuk berdiri di pihak kebenaran, percaya bahwa Tuhan akan meneguhkan dan memegang tangannya.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Kisah Sophie Scholl mengajarkan kita bahwa kebenaran tidak boleh dikompromikan, meski risiko yang dihadapi besar. Iman yang kokoh pada Tuhan memberikan keberanian untuk menghadapi ketidakadilan. Seperti Sophie, kita dipanggil untuk menjadi terang di tengah kegelapan dunia. (MA)
"The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing."
Edmund Burke
Ruang Kesehatan

“Tidak angkat berat, tapi badan terasa nyeri dan kaku…”
Pernahkah kamu merasa tubuh pegal-pegal padahal tidak melakukan aktivitas berat? Leher kaku, bahu terasa berat, punggung nyeri, atau kaki terasa linu tanpa sebab yang jelas. Kondisi ini sering dianggap biasa, bahkan dianggap tanda kelelahan semata. Namun, jika pegal-pegal sering muncul dan tidak kunjung hilang, bisa jadi itu adalah sinyal dari tubuh yang perlu diperhatikan. Yuk, kita bahas bersama!
Apa Itu Pegal-Pegal?
Pegal-pegal adalah rasa tidak nyaman pada otot dan sendi yang ditandai dengan nyeri, kaku, atau rasa berat pada tubuh. Kondisi ini bisa bersifat sementara, namun juga dapat menjadi kronis jika penyebabnya tidak ditangani dengan baik.
PENYEBAB UMUM
1. Kurang Gerak atau Terlalu Lama Duduk
Duduk terlalu lama tanpa peregangan membuat otot menjadi kaku dan aliran darah tidak lancar.
2. Postur Tubuh yang Buruk
Posisi duduk membungkuk, salah posisi tidur, atau terlalu lama menunduk saat melihat gadget bisa memicu nyeri otot.
3. Kurang Tidur Berkualitas
Saat tidur, tubuh melakukan pemulihan otot. Tidur yang tidak cukup atau tidak nyenyak membuat otot tidak pulih sempurna.
4. Stres dan Ketegangan Emosi
Stres dapat menyebabkan otot menegang secara refleks, terutama di area leher, bahu, dan punggung.
5. Kekurangan Cairan dan Mineral
Dehidrasi atau kekurangan magnesium, kalsium, dan kalium dapat menyebabkan otot mudah kram dan pegal.
KAPAN HARUS WASPADA?
Pegal-pegal yang berlangsung lama atau semakin parah perlu diwaspadai, terutama jika disertai dengan:
1. Nyeri hebat yang tidak membaik
2. Pembengkakan atau kemerahan pada sendi
3. Demam atau tubuh terasa lemah
4. Kesemutan atau mati rasa
Kondisi ini bisa berkaitan dengan penyakit seperti rematik, fibromyalgia, atau gangguan saraf.
CARA MENGATASI
1. Lakukan peregangan ringan secara rutin, terutama setelah duduk lama
2. Kompres hangat pada bagian tubuh yang nyeri
3. Perbaiki posisi duduk dan tidur
4. Minum air putih yang cukup setiap hari
5. Kelola stres dengan relaksasi atau doa
TIPS PENCEGAHAN
1. Bergerak setiap 30–60 menit saat bekerja
2. Olahraga ringan seperti jalan kaki atau yoga
3. Tidur dengan posisi dan bantal yang tepat
4. Konsumsi makanan kaya mineral
5. Kurangi penggunaan gadget berlebihan
REFLEKSI ROHANI: Tuhan Peduli dengan Tubuh Kita
Tubuh yang sering pegal bisa menjadi tanda bahwa kita terlalu memaksakan diri dan lupa beristirahat. Firman Tuhan mengingatkan kita:
“Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah, sebab Ia memberikannya kepada orang yang dicintai-Nya pada waktu tidur.”
Mazmur 127:2
Tuhan menghendaki kita hidup seimbang — bekerja dengan tekun, tetapi juga memberi waktu bagi tubuh untuk beristirahat. Merawat tubuh berarti menghargai pemberian Tuhan yang sangat berharga. (MA)
Tubuh dirawat, hati dikuatkan.
Ruang Kesaksian

"Kita tahu sekarang,
bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu
untuk mendatangkan kebaikan
bagi mereka yang mengasihi Dia."
Roma 8-28
Shalom, perkenalkan nama saya Yosia Nitiatmadja atau dikenal dengan panggilan Yosi. Saya sudah berkeluarga dan dikarunia dengan dua orang putri. Saya melayani sebagai worship leader di GBI Tampak Siring, Rayon 1D. Saya dibesarkan di Cirebon hingga lulus SMA. Kehidupan keluarga yang serba berkecukupan, membuat saya tumbuh menjadi remaja yang nakal sejak SMP dan bergabung dalam komunitas geng motor.
Saat duduk dibangku SMA, saya mengikuti jambore rohani di Malang. Saya mengalami lawatan Tuhan dan menerima Tuhan Yesus secara pribadi. Puji Tuhan, sejak itu saya merasakan perubahan dalam hidup saya. Namun beberapa lama setelah pertobatan, usaha orang tua bangkrut. Papa saya yang gemar bermain judi bahkan sampai ke orang pintar membuat perekonomian keluarga semakin sulit.
Sebagai orang yang telah mengenal Tuhan, saya sempat protes. Mengapa keadaan ini harus terjadi?. Pertanyaan itu terus timbul dalam hati, sampai Tuhan bebicara kepada saya secara audible: “saya itu ada untuk keluarga saya“. Tuhan telah menetapkan saya untuk menjadi tiang doa bagi keluarga.
Penyertaan Tuhan sungguh nyata, kerinduan saya untuk dapat membawa mereka dalam pengenalan akan Tuhan dan selalu menyenangkan hati Tuhan serta bergaul intim dengan-Nya.
Setelah lulus SMA, saya merantau ke Jakarta dan tinggal di Bekasi. Saya diterima bekerja di daerah Pluit sebagai seorang akuntan sambil kuliah malam di Salemba. Kegiatan sehari-hari tersebut benar-benar sudah menghabiskan waktu saya. Karena saya harus bangun subuh untuk berangkat ke kantor dan tiba di rumah pada larut malam.
Pada tahun 1999, dengan jelas saya mendengar suara Tuhan ketika sedang membaca flier sekolah telogia. Tuhan ingin saya untuk masuk ke sekolah teologia tersebut. Saya bertanya kepada Tuhan, bagaimana saya mengatur waktunya? Karena seharian telah habis waktunya dengan bekerja dan kuliah. Tuhan katakan agar saya berhenti dari pekerjaan.
Keputusan tersebut sungguh tidak mudah. Bagaimana saya dapat memenuhi kebutuhan hidup apabila saya tidak bekerja? Namun saya mau dengar-dengaran akan Tuhan dan saya taat kepada tuntunan Tuhan. Sungguh ajaib, Tuhan dapat memelihara dan memenuhi segala kebutuhan hidup saya.
Kesaksian ini bermula di tahun 2000, pada pukul 6 pagi saya berangkat kuliah. Situasi jalanan pada saat itu nampak begitu sepi. Seperti biasa saya mengendarai motor dengan kecepatan sekitar 70-80 km. Saya melihat mobil berhenti di lajur sebelah kiri tetapi tiba-tiba memutar balik tepat di depan saya. Sontak saya terkejut hingga tidak dapat mengendalikan kendaraan dan akhirnya tabrakan pun terjadi.
Motor yang saya kendarai menabrak sisi bagian kanan pintu depan mobil. Saya terpelanting terbentur kap mobil bagian depan dengan masih menggunakan helm. Tubuh dan kepala saya terbentur beberapa kali di atas aspal hingga helm lepas dari kepala.
Saya sempat berdiri dan akhirnya terjatuh lemas. Kepala saya sudah berdarah. Saya melihat orang-orang datang menolong dan membawa saya ke Puskesmas terdekat.
Saya mendengar sopir yang menabrak saya meminta maaf karena telah memasang musik dengan keras dan tidak memperhatikan jalan. Pihak Puskesmas tidak berani menangani lebih lanjut. Saya pun segera dilarikan ke rumah sakit lain. Tiba di rumah sakit, saya tidak sadarkan diri selama 7 hari. Setelah sadar setiap kali buka mata saya mengalami seperti vertigo berat, kepala saya sangat pusing dan terasa mual.
Saya merenungkan kejadian yang menimpa diri saya. Saya sempat menyalahkan keadaan,
- Apa salah saya?
- Mengapa ini harus terjadi?
- Mengapa Tuhan tidak menjaga diri saya?
Rasa sakit yang saya rasakan dikepala membuat saya terus menutup mata dan tidak berani bergerak dari tempat tidur. Keadaan kepala saya sungguh sangat mengerikan karena bengkak yang sangat luar biasa besar dari ukuran biasanya.
Hampir tiga bulan dirawat di rumah sakit, ditangani oleh tim dokter bedah. Mereka mengatakan bahwa pembengkakan dikepala saya sudah mencapai titik kritis, jika batok kepala saya tidak dibedah maka kepala saya tidak akan kembali menjadi normal.
Gegar otak akan mempengaruhi saraf otak, bahkan jika operasi gagal dapat mengakibatkan saya kehilangan nyawa. Puji nama Tuhan, saya mendapat dukungan doa dari keluarga, rekan-rekan sepelayanan, gembala dan banyak orang yang mengetahui keadaan saya.
Saya sangat takut membayangkan jika terjadi sesuatu dengan saraf diotak saya, jika gagal dalam pembedahan. Esok hari adalah penentuan untuk operasi.
Malam harinya saya mendengar siaran rohani dari salah satu saluran radio. Saya mendengar kotbah dari hamba Tuhan yang berkata bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.
Seorang wanita yang sakit pendarahan selama bertahun-tahun dapat mengalami mujizat kesembuhan; bahkan Lazarus yang sudah meninggal 3 hari pun Tuhan Yesus sanggup bangkitkan.
Mendengar Firman Tuhan tersebut, iman saya mulai bangkit. Saya mulai menyembah dan memuji Tuhan, saya menangis dihadapan Tuhan. Saya menyerahkan diri kepada Tuhan, berharap dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Saya berkata: “Ya Tuhan, Engkau sanggup melakukan mujizat kesembuhan dan pemulihan atas keadaan saya. Saya percaya rencana Tuhan belum selesai. Saya percaya Tuhan sanggup memakai hidup saya sampai masa tua menjadi alat Tuhan.”
Saya minta ampun kepada Tuhan dan tidak menyalahkan keadaan dan Tuhan. Saya mulai mengucap syukur dan membawa korban syukur kepada Tuhan.
Keesokan harinya asisten dokter memeriksa kondisi saya untuk pembedahan. Ia begitu terkejut melihat keadaan kepala saya sudah tidak lagi keras seperti batu.
Sampai diperiksa beberapa kali akhirnya ia memanggil dokter. Dokter pun tidak percaya sampai harus memeriksa berulang-ulang. Dokter berkata, “bagaimana mungkin dapat terjadi perubahan dalam satu malam kalau bukan karena mujizat Tuhan." Puji Tuhan, tim dokter memutuskan bahwa saya tidak perlu melakukan tindakan operasi, hanya cukup bedah kecil saja.
Tuhan Yesus baik, saya tidak dapat menahan haru. Saya berseru mengucap syukur kepada Tuhan. Tim dokter pun bersepakat bahwa ini terjadi karena mujizat dari Tuhan. Kepala saya berangsur-angsur kembali normal seperti semula setelah dirawat tiga bulan. Haleluya.
Setelah sembuh, saya harus berjuang keras untuk belajar berulang-ulang saat saya menyelesaikan kuliah dan ujian skripsi, namun Tuhan membuat semua dapat dilalui dengan ajaib, terpujilah Tuhan Yesus.
Mujizat ini membuat saya kuat bertahan menghadapi segala macam proses kehidupan bahkan fase padang gurun yang harus saya lewati. Saya percaya, tidak ada pergumulan yang lebih besar, tidak ada hal yang lebih menakutkan karena saya sudah mengenal kasih kemurahan Tuhan dalam karya-Nya menyembuhkan dan memulihkan saya.
Jika Tuhan Yesus sanggup tolong dan buat mujizat dalam hidup saya maka saya percaya apapun pergumulan, masalah, keadaan kita semua, Tuhan Yesus Kristus sanggup berkarya atas hidup kita. Dia sanggup lakukan mujizat dalam hidup kita, apapun keadaan kita. Bangkitkan iman doa, pengharapan dan kasih kepada Tuhan Yesus Kristus. Jadikan Tuhan Yesus segala-galanya, Tuhan sungguh amat sangat baik dan tidak ada Allah Tuhan pribadi seperti Tuhan Yesus. I Love You Jesus.
We use cookies to enhance your experience. By continuing to visit this site, you agree to our use of cookies.
